Showing posts with label Front Afrika Utara. Show all posts
Showing posts with label Front Afrika Utara. Show all posts

Sunday, May 21, 2023

Erwin Rommel di Atas AEC "Max"

General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) duduk di atas atap "Max", sebuah kendaraan tempur AEC Inggris hasil rampasan, bersama dengan kompatriotnya dari Italia. Foto ini kemungkinan besar diambil di musim panas tahun 1941, saat Rommel sedang semangat-semangatnya mengusir pasukan Inggris dari Libya. Berdiri menunggu di samping "Max" di sebelah kanan adalah ajudan Rommel, Major Hans-Joachim Schraepler. Salah satu tugas tidak resmi Schraepler sebagai ajudan adalah membalas surat-surat para fans Rommel dari seantero Jerman yang berdatangan ke markas Afrikakorps, seiring dengan berita kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh "Der Wüstenfuchs" di medan perang Afrika Utara. Schraepler sendiri secara tragis terbunuh pada tanggal 9 Desember 1941 di dekat Derna, Libya. Penyebabnya: terlindas secara tidak sengaja oleh "Max" saat melakukan gerak mundur taktis demi menghindari perangkap kepungan serangan balasan Inggris (yang dikenal dengan nama Operation Crusader)! Di bulan yang sama, Rommel juga kehilangan dua orang jenderalnya yang gugur dalam pertempuran: Generalmajor Walter Neumann-Silkow (Kommandeur 15. Panzer-Division) dan Generalmajor Max Sümmermann (Kommandeur 90. leichte-Afrika-Division). Dalam catatan hariannya, Rommel mengakui bahwa Desember 1941 adalah bulan tersedih yang dijalaninya selama kampanye militer Jerman di Afrika Utara...

Sumber :
Foto koleksi pribadi Jim Haley
Buku "At Rommel's Side: The Lost Letters of Hans-Joachim Schraepler" oleh Hans-Albrecht Max Schraepler

Saturday, December 24, 2022

Prajurit Afrikakorps Memakai Sepatu Tropis


Seorang prajurit Afrikakorps Jerman memakai sepatunya di tengah udara dingin gurun Afrika Utara. Terdapat dua jenis "tropenschuhe" (sepatu tropis) yang biasa dipakai oleh tentara-tentara Jerman yang ditempatkan di wilayah Mediterania: schnürschuhe (sepatu pendek setumit) dan schnürschaftstiefeln (sepatu panjang selutut). Dua-duanya dilengkapi dengan schnur (tali pengikat), dengan bagian bawah terbuat dari bahan kulit berwarna coklat sementara bagian atasnya berbahan kanvas berwarna hijau zaitun. Prajurit-prajurit Afrikakorps sendiri lebih senang memakai sepatu yang versi pendek karena lebih nyaman dipakai dan lebih mudah dilepaskan. Kenyataannya, bukan hal yang aneh bila prajurit-prajurit ini memodifikasi sepatu panjang mereka menjadi sepatu pendek dengan cara memangkasnya di bagian tumit!

Sumber :
Buku "Deutsche Afrikakorps" karya Ricardo Recio Cardona

Prajurit-Prajurit Afrikakorps Beristirahat


Prajurit-prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) beristirahat di tengah hamparan gurun pasir di hari jatuhnya kota pelabuhan Tobruk ke tangan pasukan Jerman dan Italia, 21 Juni 1942. Dari peralatan-peralatan yang mereka bawa, kemungkinan prajurit-prajurit ini berasal dari unit Pioniere (Zeni). Foto ini sendiri terdapat dalam buku "Erwin Rommel: Photographer". Sesuai dengan judul bukunya, foto ini diambil oleh sang panglima pasukan Jerman di Afrika Utara, Erwin Rommel. "Der Wüstenfuchs" (Sang Rubah Gurun) memang mempunyai hobi fotografi, dan sebagian besar foto-fotonya yang diambil di medan perang Eropa dan Afrika berasal dari kamera Leica pemberian dari Menteri Propaganda Joseph Goebbels.

Sumber :
Buku "Deutsche Afrikakorps" karya Ricardo Recio Cardona
https://www.alamy.com/stock-photo-soldiers-of-the-africa-corps-resting-1942-36991773.html?imageid=F6BA966C-5F25-4F2E-A71D-76A9B661ED00&p=291611&pn=1&searchId=9a8d53310777044bbf10e6638a0b0ac4&searchtype=0
https://www.historynet.com/afrika-korps-remains-found-egypt/afrika-korps-soldiers-el-alamein-rommel/

Sunday, December 11, 2022

Rommel dan Kapal Selam Italia di Bardia

Pada bulan November 1941, General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Panzergruppe "Afrika") mengunjungi Bardia (Libya) yang menjadi lokasi bongkar-muat suplai pasukan Poros selain di Tripoli dan Derna. Meskipun kapasitasnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelabuhan utama di Tripoli, tapi Bardia lebih efisien karena lebih dekat ke front yang mendekati perbatasan dengan Mesir. Disini biasanya kapal-kapal selam Italia yang bongkar-muat barang karena lebih aman dari incaran pesawat-pesawat Sekutu. Dalam kunjungannya ke Bardia pun Rommel menyempatkan diri untuk beramah-tamah dengan awak kapal selam Italia yang kebetulan sedang berlabuh disana. Dia kemudian difoto di atas tebing yang menjorok ke pantai dengan latar belakang sebuah kapal selam Italia yang sedang berlayar meninggalkan pelabuhan. Kemungkinan kapal selam ini berasal dari kelas Atropo of the Foca (Anjing Laut) dengan berat 1.109 ton yang biasa digunakan untuk menanam ranjau laut. Dia baru saja mengantarkan 60 ton bahan bakar ke pelabuhan Bardia.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Saturday, November 19, 2022

Rommel Saat Baru Tiba di Afrika


Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) dalam acara parade kontingen pertama Afrikakorps - yang baru tiba di Afrika Utara - di Tripoli, Libya, tanggal 15 Februari 1941. Di belakangnya berdiri dua orang perwira Italia yang menjadi sekutu Jerman dalam Perang Dunia II. Yang di sebelah kiri adalah perwira tak dikenal yang memakai insignia berretto (topi) colonnello (kolone) dari satuan Stato Maggiore (Komando Tinggi Angkatan Darat), meskipun pinggiran tanda pangkat bahunya lebih tipis layaknya ufficiali inferiori (perwira rendah) daripada ujung lebih tebal yang merupakan standar ufficiali superiori (perwira tinggi). Sementara itu, perwira di kiri adalah seorang maresciallo (bintara tinggi) dari CC.RR (Carabinieri Reali) alias Polisi Militer. Dalam foto ini sendiri, Rommel masih mengenakan seragam "Eropa" dan belum berganti dengan seragam tropis, sama seperti sebagian besar pasukannya. Unit pertama yang sudah "gercep" berganti seragam saat baru tiba di Afrika hanyalah Flak-Regiment 33 (motorisiert) dari Luftwaffe, sementara kompatriotnya masih mengenakan seragam bawaan dari Eropa.

Sumber :
Buku "Deutsche Afrikakorps" karya Ricardo Recio Cardona

Sunday, November 13, 2022

Rommel Berdiskusi di Atas "Greif"

Tiga buah ranpur halftrack Jerman diparkir berdekatan di sekitar kota pelabuhan Tobruk yang dikepung, bulan Juni 1942. Halftrack paling kanan berasal dari jenis kendaraan komunikasi ringan (leichter Funkpanzerwagen) Sd.Kfz. 250/3 "Greif" (plat nomor WH 937035), yang merupakan salah satu kendaraan komando pribadi milik Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"). "Greif" sendiri dilengkapi dengan dua buah antena radio: antena yang lebih besar merupakan alat pemancar dari radio jenis FuG 7 yang mempunyai daya jangkau sampai 50 kilometer, sementara antena yang lebih kecil adalah pemancar dari radio FuG 5 dengan daya jangkau 5 kilometer (yang terakhir berfungsi sebagai alat komunikasi antar-unit yang berdekatan). Halftrack yang diparkir di tengah berasal dari jenis Sd.Kfz. 251 Ausf.B. Di bagian sampingnya terdapat pula antena, yang menunjukkan bahwa ranpur setengah roda satu ini - yang biasanya digunakan sebagai sarana pengangkut pasukan Panzergrenadier - berfungsi pula sebagai kendaraan komunikasi menengah (mittlerer Funkpanzerwagen), yang kemungkinan adalah hasil modifikasi lapangan dari Sd.Kfz. 251/1 standar menjadi Sd.Kfz. 251/3 yang dilengkapi dengan radio komando. Halftrack terakhir di sebelah kiri adalah sebuah Sd. Kfz. 251/1 Ausf.S. Perwira yang membawa peta sambil ngadu huntu dengan Rommel adalah Oberst Eduard Crasemann (Kommandeur Artillerie-Regiment 33 [motorisiert] / 15.Panzer-Division). Foto ini sendiri diambil oleh Kriegsberichter Albrecht Heinrich Otto dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika".

Sumber :
https://en.topwar.ru/135723-rommel-v-afrike.html
https://waralbum.ru/217895/

Saturday, November 5, 2022

Kunjungan Rommel ke Divisi Pavia

Foto ini diambil pada tanggal 12 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dari Propaganda-Kompanie Luftwaffe 7, dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan para perwira Jerman dan Italia di Afrika Utara, saat Rommel melakukan kunjungan ke markas 17° Divisione Autotrasportabile "Pavia" (Divisi Bermotor ke-17 "Pavia") di El Agheila, Libya. Dalam kesempatan tersebut, Rommel berunding dengan sekutu-sekutunya dari Italia mengenai rencana serangan pihak Poros selanjutnya. Foto ini terdapat dalam buku "Rommel's Italian Generals in North Africa" karya Dr. Libro Di Zinno dan Rudy D'Angelo, halaman 26. Di teks penyertanya, sang pengarang mengidentifikasi perwira Italia yang berada di hadapan Rommel sebagai Generale di Brigata Michelangelo Nicolini, Komandan satuan artileri Angkatan Darat Italia di Afrika (dia terdapat dalam beberapa foto lainnya yang diambil di kesempatan yang sama bersama dengan Rommel). Sayangnya, keterangan ini tidak bisa dipegang 100% karena pengarang yang sama telah mengidentifikasi beberapa wajah yang berbeda di buku tersebut sebagai Nicolini, sementara sejauh ini aliando juga belum menemukan muka sebenarnya dari odong-odong satu ini! Tentu saja, kalau melihat konteks kedatangan Rommel, satu-satunya kandidat untuk perwira tersebut adalah Komandan dari Divisi Pavia, Generale di Brigata Antonio Franceschini. Tulisan "FALZONI" yang terdapat di foto mungkin merujuk pada Enzo Falconi. Masalahnya adalah, pada saat foto ini diambil dia masih berpangkat Colonnello (Kolonel) dan mengabdi sebagai perwira artileri di Divisi Ariete (yang juga beroperasi di Afrika Utara). Itu satu-satunya nama dan pangkat yang mendekati tulisan dalam foto tersebut. Untuk identifikasi perwira Jerman lainnya - selain Rommel: berdiri keempat dari kanan adalah Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic im Generalstab Panzerarmee "Afrika"), sementara menghadap kamera di tengah adalah Oberleutnant Diekmann yang merupakan ajudan Rommel.



Foto ini diambil pada tanggal 12 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dari Propaganda-Kompanie Luftwaffe 7, dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan para perwira Jerman dan Italia di Afrika Utara, saat Rommel melakukan kunjungan ke markas 17° Divisione Autotrasportabile "Pavia" (Divisi Bermotor ke-17 "Pavia") di El Agheila, Libya. Perwira Italia yang sedang berbicara dengan Rommel di sebelah kiri adalah Generale di Brigata Antonio Franceschini (Komandan Divisi Pavia), sementara perwira Italia lainnya yang berdiri di sebelah Rommel adalah Generale di Brigata Michelangelo Nicolini (Komandan satuan artileri Angkatan Darat Italia di Afrika).



Foto ini diambil pada tanggal 12 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dari Propaganda-Kompanie Luftwaffe 7, dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan para perwira Jerman dan Italia di Afrika Utara, saat Rommel melakukan kunjungan ke markas 17° Divisione Autotrasportabile "Pavia" (Divisi Bermotor ke-17 "Pavia") di El Agheila, Libya. Perwira jangkung yang berdiri di belakang Rommel adalah ajudannya, Oberleutnant Diekmann. Sementara itu, perwira Jerman lain yang memakai gogel ketiga dari kiri adalah Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic im Generalstab Panzerarmee "Afrika"). Terakhir, perwira Italia di sebelah kanan adalah Generale di Brigata Antonio Franceschini (Komandan Divisi Pavia)


Foto ini diambil pada tanggal 12 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dari Propaganda-Kompanie Luftwaffe 7, dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan para perwira Jerman dan Italia di Afrika Utara, saat Rommel melakukan kunjungan ke markas 17° Divisione Autotrasportabile "Pavia" (Divisi Bermotor ke-17 "Pavia") di El Agheila, Libya. Dari kiri ke kanan: Generale di Brigata Antonio Franceschini (Komandan Divisi Pavia), Oberleutnant Diekmann (Adjutant Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"), Generale di Brigata Michelangelo Nicolini (Komandan satuan artileri Angkatan Darat Italia di Afrika), perwira Afrikakorps tak dikenal, Rommel, dan Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic im Generalstab Panzerarmee "Afrika").


Foto ini diambil pada tanggal 12 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dari Propaganda-Kompanie Luftwaffe 7, dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan para perwira Jerman dan Italia di Afrika Utara, saat Rommel melakukan kunjungan ke markas 17° Divisione Autotrasportabile "Pavia" (Divisi Bermotor ke-17 "Pavia") di El Agheila, Libya. Perwira Italia yang berdiri di sebelah kiri adalah Generale di Brigata Michelangelo Nicolini (Komandan satuan artileri Angkatan Darat Italia di Afrika), sementara perwira Jerman yang memakai schirmmütze yang tertutup oleh badan Rommel adalah Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic im Generalstab Panzerarmee "Afrika").


Sumber :
"Rommel's Italian Generals in North Africa 1941-1943" karya Dr. Libro Di Zinno & Rudy D'Angelo
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/03/album-foto-erwin-rommel-sebagai_1308.html
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_183-1982-0927-503,_Bei_El_Agheila,_Rommel_bei_italienischer_Division.jpg
https://www.ebay.de/itm/165715607163?hash=item26956b7e7b:g:EcEAAOSwroZjQX9O&amdata=enc%3AAQAHAAAAkKGWZ%2FV0JYl6oJJMZZHEYs4HVsIW4FUrvDC0b1A%2Fq451cb593QTvf%2BRp6xl1luCrxyITWryw3J6r8QiaGIIb5pee4uv62X00WEvwfUIG%2BmySmXhV9oEWqLA%2Ff8%2Fh%2BdFAUgYmztz3Jp806dFikqbBiKkcnXSuAhU7sweiWDNEidOzU44PrZ5MHxmQJ7fTO7nsnA%3D%3D%7Ctkp%3ABk9SR9b7tpv7YA
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?p=2435229#p2435229
https://ritterkreuztraeger.blogspot.com/2022/10/erwin-rommels-visit-to-pavia-division.html

Sunday, October 23, 2022

Rommel Diwawancarai Setelah Merebut Tobruk


Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") asyik ngoceh saat sedang diwawancarai oleh Kriegsberichter Lutz Koch, yang menodongkan mikrofon merk Beyer M 19b ke mulutnya, sementara bildberichter di belakang mereka sibuk merekam gambar dengan kamera Arriflex 35mm. Di belakang Rommel terlihat seorang operator sedang sibuk bekerja menggunakan magnetofon AEG "Tonschreiber d (Dora)" - yang tercatat sebagai magnetofon (perekam magnetik) portabel pertama di dunia - diatas mobil Horch Typ 40 mittlerer geländegängiger Personenkraftwagen (m.gl.Pkw) Kfz 15. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 22 Juni 1942 saat pasukan Jerman baru saja merebut Tobruk dari tangan Sekutu. Kota pantai di Libya ini mempunyai peran sangat strategis dalam kancah pertempuran Afrika Utara, dan penguasaannya membuat rakyat Jerman terbuai dalam euforia: pendudukan Mesir hanya tinggal menunggu waktu, dan setelahnya adalah bersatunya pasukan Jerman dari Rusia dan Afrika di Kaukasus! Wawancara ini disiarkan secara langsung ke tanah air Jerman, dan didengarkan oleh begitu banyak orang, termasuk oleh Adolf Hitler dan konco-konconya. Di hari itu juga sang Führer - yang merasa sangat gembira - memutuskan untuk memberikan kenaikan pangkat luar biasa untuk jenderal favoritnya tersebut, dari Generaloberst (Kolonel-Jenderal) menjadi Generalfeldmarschall (Marsekal-Jenderal), sebuah pangkat yang secara resmi tidak ada pensiunnya!



Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2015/05/foto-wawancara-tokoh-third-reich-dengan.html

Saturday, October 22, 2022

Panzer-Panzer Afrikakorps di Tripoli


Deretan tank-tank Jerman milik Panzer-Regiment 5 dari jenis Panzer IV Ausf.D dan Panzer II yang baru saja tiba di Tripoli, Libya, bulan Maret 1941. Khusus untuk tank dari jenis pertama, mereka dilengkapi dengan gepäckkasten (kotak penyimpanan khusus) yang terpasang di bagian belakang kubah, dengan tiga nomor identifikasi tertulis dengan ukuran besar. Dari nomor-nomor tersebut kita bisa mengetahui bahwa tank-tank ini berasal dari Kompi ke-8 dan ke-5 (dua-duanya merupakan bagian dari Batalyon kedua). Cara membacanya sederhana: angka pertama adalah nomor kompi, angka kedua adalah nomor peleton, sementara angka ketiga adalah nomor urutan kendaraan di peleton tersebut. Karenanya, turmnummer (nomor turet) "824" menunjukkan bahwa tank tersebut adalah tank ke-4 dari peleton ke-2 kompi ke-8. Uniknya, sebagian awaknya tampak telah mendapat jatah seragam tropis berbahan kain, sementara sebagian lainnya masih mengenakan seragam hitam standar Eropa berbahan wol! Komandan Afrikakorps Generalleutnant Erwin Rommel datang untuk pertama kalinya di Afrika Utara di bulan Februari 1941, dengan perintah tegas hanya sebagai unit "Sperrband" alias penghalang gerak maju pasukan Inggris sekaligus penambah kekuatan tentara-tentara Italia yang baru saja menderita kekalahan dalam Pertempuran di Beda Fomm. Kekuatan yang Rommel miliki pada saat itu bisa dibilang seadanya: satu batalyon pelopor serta satu detasemen anti-tank dari 5. leichte-Division (nantinya berganti nama menjadi 21. Panzer-Division). Sisa unit-unit lainnya dari divisi tersebut nantinya tiba secara bertahap di Afrika, sementara divisi kedua yang berada di bawah komando Deutsches Afrikakorps (DAK), yaitu 15. Panzer-Division, baru tiba sepenuhnya di akhir bulan Mei 1941.

Sumber :
"Deutsche Afrikakorps (1941-1943)" karya Ricardo Recio Cardona

Sunday, June 5, 2022

Prajurit Afrikakorps dan BMW R12 di Tripoli

 
Prajurit-prajurit Afrikakorps menunggu giliran untuk ikut berpartisipasi dalam parade militer di Tripoli, Libya, tanggal 14 Februari 1941. Mereka adalah bagian dari kontingen pertama pasukan Jerman yang tiba di Afrika Utara, yang berangsur datang dari tanggal 10 Februari s/d 12 Maret 1941. Meskipun prajurit-prajurit ini sudah mendapatkan jatah tropenuniform (seragam tropis) dan tropenhelm (helm tropis), tapi, sebagian besar perlengkapan dan mesin perang mereka masih menggunakan cat lama yang biasa dipakai di daratan Eropa. Beiwagenkrädern (motor bersespan) dalam foto ini berasal dari jenis BMW R12, sementara mobil di belakangnya adalah Kübelwagen. Prajurit Afrikakorps dengan senapan Kar98k (Karabiner 98 kurz) tersampir di punggungnya ini mengenakan "Kradbrille" di matanya, yang merupakan kacamata khusus pelindung debu yang banyak digunakan oleh unit bersepeda motor seperti Aufklärungs (Pelopor) atau Kradmelder (Pengantar Pesan). Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Sturm dari KBK Lw 7 (Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe 7). Perhatikan rambu unik bergambar kereta kuda dan truk di latar belakang! Ada yang tahu maksudnya?

Sumber :
Bundesarchiv Bild 101I-424-0258-02

Thursday, May 26, 2022

Rommel Mendorong Mobil


 
Foto propaganda ini diambil oleh Kriegsberichter (Wartawan Perang) Klemens Valtingojer, dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 9 Februari 1942. Disini diperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") yang sedang sibuk membantu mendorong mobil Horch 901 Typ 40 Kfz.21 miliknya yang terperangkap di pasir gurun. Bundesarchiv mengidentifikasi orang di belakang Rommel sebagai Oberstleutnant i.G. Siegfried Westphal, Ia alias Kepala Operasi Panzerarmee "Afrika". Saya haqul yakin bahwa identifikasi ini keliru, karena wajahnya 100% lebih mirip Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin, yang merupakan Ic alias Kepala Intelijen Panzerarmee "Afrika". Bundesarchiv (Arsip Nasional Jerman) memang banyak sekali membuat kekeliruan dalam hal identifikasi orang serta keterangan waktu dari koleksi foto-fotonya. Sebagai contoh adalah foto ini sendiri, yang disebutkan diambil pada bulan Januari 1941, padahal di bulan tersebut Rommel belum lagi tiba di Afrika! Biasanya, ketika mendapati perbedaan keterangan tanggal, tempat atau identifikasi dari orang dalam foto, saya lebih mempercayai caption dari Bayerische Staasbibliothek (Arsip Bavaria) daripada Bundesarchiv, karena hampir selalu keterangannya lebih akurat.




Sumber :
https://alchetron.com/Siegfried-Westphal
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_183-B20800,_Nordafrika,_Rommel_und_Westphal_schieben_Auto.jpg

Sunday, May 22, 2022

Panzer-Pionier-Bataillon 33 Bersiap Menyerbu Tobruk


15. Panzer-Division di Afrika Utara: Prajurit-prajurit Afrikakorps dari Panzer-Pionier-Bataillon 33 menaiki sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.G "632" milik 6.Kompanie / II.Abteilung / Panzer-Regiment 8 untuk ikut berpartisipasi dalam serangan pendahulu ke pertahanan Sekutu di sekitar Tobruk, Libya, bulan Oktober 1941. Satuan zeni tempur ini melengkapi diri dengan senjata yang lebih beragam dibandingkan dengan unit infanteri standar, diantaranya adalah penggunaan penyembur api dari jenis Flammenwerfer 35, drum amunisi senapan mesin, tabung berisi cadangan laras MG 34, dan kantong pengangkut stielhandgranate. Di sebelah kanan kita bisa melihat prajurit lain, yang kemungkinan adalah komandan skuad, yang menyimpan senapan mesin MP-40 atau 38 di atas kubah tank sebelum memanjatnya. Uniknya, para prajurit ini masing-masing dilengkapi dengan dua pelples air dan bukannya satu seperti biasanya! Mereka juga mengenakan cover helm berwarna pasir untuk meminimalisir efek pantulan saat terkena sinar matahari.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2017/01/tank-desant-infanteri-numpang-di-panzer.html

Erwin Rommel di Sollum

 
Bersama dengan para perwira staffnya, pada tanggal 2 Juli 1941 General der Panzertruppe Erwin Rommel (kiri, Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) melakukan kunjungan ke markas I.Bataillon / Schützen-Regiment 104 / 15.Panzer-Division di wilayah Sollum, yang berada di perbatasan Libya-Mesir. Dalam kunjungan ini, secara khusus "Der Wüstenfuchs" (Sang Rubah Gurun) memberi selamat kepada komandan batalyon tersebut, Hauptmann der Reserve Wilhelm Bach (berjalan paling depan bersama Rommel), yang dalam pertempuran satu bulan sebelumnya berhasil menahan serbuan pasukan tank Inggris yang berusaha menerobos Halfaya Pass demi untuk membebaskan rekan-rekan mereka yang terkepung di Tobruk, dalam sebuah serangan massal yang dinamakan Operation Battleaxe (15-17 Juni 1941). Diantara Rommel dan Bach adalah Oberst Maximilian von Herff (Kommandeur Schützen-Regiment 115). Selama tiga hari penuh Bach dan anakbuahnya menahan serangan bergelombang musuh, dengan hanya bermodalkan satu peleton meriam Flak 88 sebagai senjata utama mereka. Meskipun Rommel sendiri telah memerintahkan agar sang Bataillonskommandeur mundur ke lokasi pertahanan yang lebih memadai "bila memungkinkan", Bach menginterpretasikan kata-kata terakhir dengan tindakan sebaliknya: melakukan serangan balasan yang berhasil memukul mundur pasukan Inggris! Atas prestasi fenomenal tersebut, Bach - yang merupakan mantan pendeta (!) - dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Juli 1941, hanya berselang seminggu setelah foto ini diambil. Flak 88 sendiri aslinya adalah meriam anti pesawat terbang, tapi bisa sama bagusnya saat digunakan untuk menghantam target tank di darat. BTW, di bulan April 1941 - yang hanya berselang satu bulan setelah Rommel tiba di Afrika Utara - pasukan Jerman berhasil mengalahkan tentara penyerbu Inggris dan mengusirnya dari Libya, kecuali satu garnisun ANZAC keras kepala yang tetap bertahan di kota pelabuhan Tobruk (meskipun dikepung oleh gabungan pasukan Italia dan Afrikakorps Jerman). Selama satu tahun berikutnya, penguasaan kembali Tobruk menjadi obsesi terbesar Rommel karena tanpanya maka semua usaha pihak Jerman untuk menguasai Mesir akan sia-sia belaka. Ketika kota pelabuhan tersebut akhirnya diduduki pada bulan Juni 1942, Hitler yang berterimakasih mengganjar Rommel dengan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Generalfeldmarschall.




Sumber :
https://www.bridgemanimages.com/en/search?filter_group=all&filter_region=GBR&filter_text=Erwin%20Rommel

Friday, May 13, 2022

Ugo Cavallero dan Albert Kesselring


28 Juli 1942: Marsekal Italia Ugo Cavallero (kiri) berbincang-bincang dengan kompatriotnya dari Jerman, Generalfeldmarschall Albert Kesselring (Oberbefehlshaber Süd). Cavallero adalah penerima medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, yang dia dapatkan tanggal 19 Februari 1942 sebagai Generale di Corpo d'Armata dan Kepala Staff Pertahanan Angkatan Darat Kerajaan Italia. Dia tercatat sebagai satu dari sembilan orang Ritterkreuzträger asal Italia. Setelah pemerintahan Fasis Mussolini digulingkan oleh rajanya sendiri, Perdana Menteri Pietro Badoglio yang baru dilantik segera memerintahkan penangkapan Cavallero. Dalam dokumen pembelaannya, Cavallero mengklaim bahwa ia juga turut berjasa karena telah menentang Mussolini dan rezimnya, walaupun secara diam-diam. Setelah Perjanjian Damai Cassibile di bulan September 1943, sang Marsekal tua Italia dibebaskan oleh pihak Jerman, dan bahkan kemudian ditawari oleh sahabat lamanya, Kesselring, untuk menjadi panglima dari Angkatan Bersenjata Republik Sosial Italia yang baru dibentuk. Tapi penemuan surat pembelaannya membuat dia berbalik dicurigai oleh pihak Jerman. Pada pagi hari tanggal 14 September 1943, Cavallero ditemukan telah tewas akibat tembakan peluru di taman sebuah hotel di Frascati, padahal baru malam sebelumnya dia makan malam dan ngobrol dengan Kesselring! Masih menjadi perdebatan, apakah dia bunuh diri ataukah dibunuh oleh pihak Jerman. Yang jelas, tindak-tanduknya di akhir kehidupannya mengisyaratkan keteguhan pendiriannya untuk tak mau lagi bekerjasama dengan Jerman dalam menghadapi Sekutu.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/03/album-foto-italia-zaman-mussolini-dan.html

Friday, April 1, 2022

Erwin Rommel dan Joachim Müncheberg

 
Pertemuan antara Oberleutnant Joachim Müncheberg (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 26) dengan sang "Rubah Padang Pasir" General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) di medan perang Afrika Utara, bulan Juni-Juli 1941. Di belakang mereka terparkir pesawat pembom Heinkel He 111 H4 VG+ES (WNr 4085) yang berfungsi sebagai "Kurierstaffel v.b.z. Afrika" (pesawat transportasi pribadi Rommel). Disini Rommel tampaknya akan atau sudah melakukan perjalanan udara, yang terlihat dari schwimmweste (jaket pelampung) yang dikenakannya. Sementara itu, tidak terlihat dari sudut ini adalah perban di lutut kiri Müncheberg yang didapatkannya setelah dia terluka dalam kompetisi olahraga di Erfurt bulan Mei 1941 sebelumnya (dia terjatuh saat ikut lomba lari gawang sepanjang 110 meter!). Oberleutnant Müncheberg dan Staffel pimpinannya merupakan satu-satunya elemen dari Jagdgeschwader 26 (JG 26) yang beroperasi di Afrika Utara, dan itupun hanya selama bulan Juni dan Juli saja. Selama keberadaannya yang singkat tersebut, 7. Staffel tercatat menembak jatuh delapan pesawat Inggris, dengan lima diantaranya dibukukan oleh sang Staffelkapitän! Foto ini sendiri dibuat oleh Kriegsberichter Opper dari KB-Kp. Lw. 7 (Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe 7) dan, bila anda jeli, anda bisa melihat sandal hasil modifikasi lapangan dari sepatu yang dipakai oleh Joachim Müncheberg!

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Joachim_M%C3%BCncheberg

Sunday, May 23, 2021

Erwin Rommel Memeriksa Kerusakan Mobilnya

General der Panzertruppe Erwin Rommel (Befehlshaber Panzergruppe "Afrika") tampak memperhatikan dengan serius saat anakbuahnya memeriksa kerusakan yang terjadi di bagian mesin dan kaca mobil mereka, tak lama setelah sebuah pesawat pemburu Inggris menyerang konvoy kendaraan yang membawa sang panglima pasukan Jerman di Afrika Utara tersebut. Rommel tampak mengenakan syal buatan anak perempuannya, yang selalu dipakainya dalam setiap kesempatan. Cowok berjanggut di tengah adalah Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika", seorang wartawan perang sekaligus penterjemah yang selalu terlihat menyertai Rommel kemanapun dia pergi. Moosmüller sendiri terluka di bagian tangannya, dan sedang menunggu pertolongan pertama. Selain itu, perwira di sebelah kiri adalah Major im Generalstab Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic Dritter Generalstabsoffizier Panzergruppe "Afrika"), seorang perwira staff berpengalaman yang telah malang-melintang di berbagai front pertempuran. Foto ini sendiri diambil pada waktu berlangsungnya Operation Crusader (18 November – 30 Desember 1941), sebuah operasi militer yang dilancarkan oleh Eighth Army Inggris melawan gabungan pasukan Jerman dan Italia di Gurun Barat Mesir dan Libya.

Sumber :
https://www.alexautographs.com/auction-lot/rommel-press-photograph_389436F835

Monday, August 3, 2020

Video Jenderal Jerman yang Menyerah di Afrika Utara

Para perwira tinggi Jerman yang ditangkap oleh Sekutu di Tunisia terlihat baru saja tiba di Maison Blanche aerodrome, Aljazair, pada tanggal 13 Mei 1943. Identitas mereka kemudian diperiksa oleh petugas yang berwenang. Setelahnya, para jenderal ini menaiki pesawat yang akan membawa ke kamp penampungan sementara di Inggris. Beberapa wajah yang bisa dikenali diantaranya adalah: General der Panzertruppe Gustav von Vaerst (Oberbefehlshaber 5. Panzerarmee. Ditangkap pada tanggal 9 Mei 1943 di Bizerte), Generalleutnant Karl Bülowius (General der Pioniere Heeresgruppe "Afrika" und Kommandeur Panzer-Division "Von Manteuffel". Ditangkap pada tanggal 9 Mei 1943 di Tunis), Generalleutnant Willibald Borowietz (Kommandeur 15. Panzer-Division. Ditangkap pada tanggal 10 Mei 1943 di Tunis), Generalmajor Fritz Krause (Kommandeur 334. Infanterie-Division. Ditangkap pada tanggal 9 Mei 1943 di Bizerte), Generalmajor Luftwaffe Dipl.Ing. Gerhard Bassenge (Kommandant Festungsbezirks Tunis-Bizerte. Ditangkap pada tanggal 9 Mei 1943 di Methelin), Generalmajor Luftwaffe Georg Neuffer (Kommandeur 20. Flak-Division. Ditangkap pada tanggal 10 Mei 1943 di Tunis), dan Oberst im Generalstab August-Viktor von Quast (Chef des Generalstabes 5. Panzerarmee. Ditangkap pada tanggal 9 Mei 1943 di Bizerte).


Sumber :
https://www.iwm.org.uk/collections/item/object/1060034955

Wednesday, July 15, 2020

Prajurit Afrikakorps Makan Ransum

Dua orang prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) terlihat sedang memakan ransum mereka di medan perang Afrika Utara. Masalah jatah makanan seperti ini harus lah mendapat penanganan yang serius dari seksi suplai dan perbekalan Wehrmacht, karena tidak hanya berkaitan dengan sekedar memindahkan makanan Eropa lalu memakannya di tempat tropis. Iklim yang panas akan membuat sebagian besar "kudapan bule" tersebut menjadi cepat basi, sehingga makanan-makanan semacam kentang dan roti terpaksa harus digantikan dengan roti hitam terbungkus karton serta kacang polong dan makanan kaleng lainnya. Beras juga sebenarnya ikut dibagikan sebagai jatah, meskipun makanan utamanya tetap lah roti Kommisbrot Jerman ataupun Maisbrot Italia yang dilapisi oleh minyak zaitun sebagai pengganti mentega (karena yang disebut terakhir ini akan cepat memuai di tengah panas yang menyengat). Pada prakteknya, kombinasi roti dan zaitun kurang disukai oleh pasukan Jerman maupun Italia karena rasanya yang dianggap "aneh". Jatah minyak zaitun tentara Axis biasanya dibungkus dalam kaleng produksi Italia bertuliskan AM, yang merupakan singkatan dari "Administrazione Militare" (Administrasi Militer). Bagi prajurit-prajurit Jerman, singkatan tersebut sering diartikan secara bercanda sebagai "Alte Mann" (Orang Tua), sementara rekan seperjuangan mereka dari Italia secara bisik-bisik menyebutnya sebagai "Asinus Mussolini" (Pantat Mussolini) karena rasa hambar dan baunya yang tengik, sementara sebagian lainnya - lebih sadis lagi - menamainya sebagai "Arabio Morte" (Mayat Orang Arab)! Kaleng-kaleng makanan hasil rampasan dari Inggris yang berisi daging kornet, roti putih, selai, biskuit dan buah kalengan dianggap sebagai sebuah makanan mewah karena begitu sulit untuk mendapatkannya, dan merupakan sebuah tambahan yang didamba-dambakan oleh prajurit-prajurit Afrikakorps di luar jatah ransum mereka yang monoton. Konyolnya, tentara-tentara Inggris sendiri menganggap bahwa ransum mereka kurang menarik dan lebih menyukai jatah makanan milik musuh mereka Jerman! Di luar dari makanan kaleng, terkadang pasukan Jerman menikmati daging segar yang berasal dari sembelihan kambing atau babi. Jenis makanan satu ini terbilang sulit didapatkan karena persediaannya yang terbatas dan, yang lebih penting lagi, menyimpannya tak bisa lama-lama. Dari semuanya, komoditas paling penting di wilayah gurun pasir tentunya adalah air. Karena sangat vital dalam menyambung kehidupan dan membuat kendaraan perang tetap bergerak, maka sangat penting untuk membawanya kemanapun dalam jumlah yang memadai. Untuk mengakomodasinya, maka tentara Jerman menggunakan kontainer khusus yang dijuluki orang-orang Inggris sebagai "Jerrycan" (Kaleng Jerman), dan yang kemudian menyebar penggunaannya di Indonesia dengan nama yang hampir sama: "jerigen". Satu jerigen rata-rata mampu menampung 17 liter air, bahan bakar atau oli, dan penampung versi Jerman dianggap lebih baik kualitasnya dibandingkan kaleng minyak Inggris yang rentan bocor. Untuk membedakan apakah jerigen tersebut diisi air atau minyak, maka pasukan Afrikakorps secara khusus menandai kaleng air mereka dengan "X" putih besar. Tanda ini sekaligus membuat tentara-tentara Hitler tidak salah saat harus menuang air atau minyak ke jerigen kosong yang tersedia, karena apabila terjadi kesalahan semacam itu maka airnya pun akan terbuang karena tak dapat diminum (sebuah pelajaran berharga yang baru ditemukan oleh pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Kongo pada tahun 1960-an!).


Sumber :
http://deutsches-afrikakorps.blogspot.com/2010/12/life-in-afrika-korps.html
http://ww2colorfarbe.blogspot.com/2020/07/afrikakorps-soldiers-eating.html

Thursday, July 9, 2020

Afrikakorps Siap Tempur Menyerbu Tobruk

15. Panzer-Division di Afrika Utara: Prajurit-prajurit Afrikakorps dari Panzer-Pionier-Bataillon 33 menaiki sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.G "632" milik 6.Kompanie / II.Abteilung / Panzer-Regiment 8 untuk ikut berpartisipasi dalam serangan pendahulu ke pertahanan Sekutu di sekitar Tobruk, Libya, bulan Oktober 1941. Satuan zeni tempur ini melengkapi diri dengan senjata yang lebih beragam dibandingkan dengan unit infanteri standar, diantaranya adalah penggunaan penyembur api dari jenis Flammenwerfer 35, drum amunisi senapan mesin, tabung berisi cadangan laras MG 34, dan kantong pengangkut stielhandgranate. Di sebelah kanan kita bisa melihat prajurit lain, yang kemungkinan adalah komandan skuad, yang menyimpan senapan mesin MP-40 atau 38 di atas kubah tank sebelum memanjatnya. Uniknya, para prajurit ini masing-masing dilengkapi dengan dua pelples air dan bukannya satu seperti biasanya! Mereka juga mengenakan cover helm berwarna pasir untuk meminimalisir efek pantulan saat terkena sinar matahari.






Sumber :
Foto koleksi Blanluet Christophe dari ECPAD Archive
https://www.facebook.com/groups/1728158044141689/
https://www.facebook.com/pg/TheTruthInColor/photos/

Hans-Jürgen von Arnim di Afrika Utara

Foto oleh Kriegsberichter Mullin ini memperlihatkan Generaloberst Hans-Jürgen von Arnim (kiri, Oberbefehlshaber 5. Panzerarmee) yang sedang bersalaman dengan salah seorang prajuritnya saat meninjau front pertempuran di dekat Tunisia, Afrika Utara, bulan Januari 1943. Sang Kolonel-Jenderal menyampirkan sebuah dienstglas (teropong) 6x30 di sampingnya. Arnim dikenal sangat dekat dengan pasukannya karena dia selalu menyediakan kebutuhan mendasar mereka. Saat Rommel dipulangkan oleh Hitler dari medan perang Afrika Utara pada bulan Maret 1943, Arnim menjadi perwira Jerman dengan pangkat tertinggi disana. Dia memberitahu Berlin bahwa dibutuhkan 140.000 ton suplai per bulan bagi pasukannya agar bisa melancarkan serangan terhadap Sekutu. Kenyataannya, dia hanya menerima seperempatnya! Saat Berlin mengkritik Arnim karena "menyipitkan mata melewati bahunya" (merujuk pada gerak mundur terus-menerus pasukannya), dengan getir Arnim menjawab bahwa dia "menyipitkan mata untuk melihat datangnya kapal pembawa suplai yang tak kunjung datang"! Saat pihak Sekutu melancarkan serangan pamungkas terhadap pasukan Jerman dan Italia di Tunisia pada tanggal 6 Mei 1943, Hitler memerintahkan agar Arnim dan anakbuahnya bertahan sampai orang terakhir. Sang jenderal dengan sengaja mengartikan ini sebagai perintah untuk bertahan sampai peluru terakhir atau, lebih khusus lagi, sampai peluru tank terakhir. Karenanya, ketika amunisi panzer-panzernya telah mencapai penghabisan pada tanggal 12 Mei 1943, dia memutuskan untuk menghancurkan sisa mesin perangnya dan kemudian menyerah. Untuk upacara resmi, sang jenderal mengenakan seragam terbaiknya, lalu menyerahkan pistol dan belatinya - meskipun dengan menggerutu dalam bahasa Prancis - ke tangan perwira Inggris yang menawannya. Dia lalu berpidato singkat di hadapan pasukannya, sebelum menjabat tangan beberapa orang dari mereka. Saat Arnim diantar melewati barisan panjang prajurit-prajuritnya, mereka berteriak mengelu-elukan namanya, "Von Arnim! Von Arnim! Von Arnim!"


Sumber :
Buku "Hitler's Generals in America: Nazi POWs and Allied Military Intelligence" karya Derek R. Mallett
https://audiovis.nac.gov.pl/obraz/1300/ecb962cfef48181cc95af65a4da19359/