Showing posts with label Foto Berwarna. Show all posts
Showing posts with label Foto Berwarna. Show all posts

Sunday, July 9, 2023

Jagoan Senjata Anti-Tank Rudolf Bittner


Feldwebel Rudolf Bittner (18 Desember 1921 - 21 Januari 1945) dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 28 November 1942 sebagai Gefreiter dan Richtkanonier di 2.Kompanie / Panzerjäger-Abteilung 561. Medali tersebut diberikan sebagai penghargaan atas pencapaian yang diraihnya dalam pertempuran di Front Timur pada tanggal 9 September sebelumnya. Di hari itu, pasukan Soviet menembus pertahanan Jerman di dekat Uvarova, dan satu-satunya yang mampu menahan serbuan berbahaya itu adalah Bittner. Deskripsi rinci mengenai pergulatan yang kemudian terjadi tercantum dalam perintah khusus Panzerjäger-Abteilung 561 di awal bulan Desember 1942: "Pihak Rusia berusaha merubah kesuksesan awal serangan mereka menjadi sebuah terobosan strategis, dengan menambah kekuatan pasukan infanteri mereka dengan bantuan 5 buah tank KV-1 untuk melindungi bagian sampingnya. Serangan balasan Jerman yang mengarah mereka berhasil digagalkan. Di saat kritis inilah, seorang gunner dari senjata anti-tank pimpinan Unteroffizier Brill yang bernama Gefreiter Bittner bangkit untuk menjawab tantangan musuh. Dia mampu menghancurkan empat tank KV-1 dan merusak tank yang kelima, sehingga pihak Soviet mau tidak mau dipaksa untuk mundur kembali demi menambah kekuatan. Situasi ini memberi kesempatan untuk dimulainya serangan balasan Jerman yang diarahkan ke bagian samping musuh, yang kini tanpa perlindungan. Terobosan Rusia akhirnya berhasil dicegah. Tidak hanya itu, pasukan Jerman yang melakukan serangan balasan juga berhasil merebut sebuah posisi strategis yang ditinggalkan oleh tentara lawannya yang kabur kocar-kacir. Semua hal ini bisa terlaksana berkat kepahlawanan Gefreiter Bittner, yang berkali-kali merubah posisi senjatanya demi bisa melakukan tembakan secara efektif. Sebagai seorang gunner PaK (Panzerabwehrkanone, senjata anti-tank), dia sampai saat ini tercatat telah menghancurkan 23 buah tank musuh."

Sumber :
http://ritterkreuztraeger.blogspot.com/2023/07/bio-of-feldwebel-rudolf-bittner-1921.html

Tuesday, July 4, 2023

StuG di Akropolis Athena


Sturmgeschütz III StuG 40 melintas di jalanan Athena, Yunani, dengan latar belakang bukit Akropolis yang terkenal, dan kuil Parthenon yang berdiri di atasnya. Foto ini diambil pada tahun 1943 - sewaktu Yunani masih berada di bawah kekuasaan pasukan Jerman - dan pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL terbitan awal tahun 1944. Uniknya, StuG satu ini bukanlah milik unit Sturmartillerie Heer (Angkatan Darat) ataupun Waffen-SS, melainkan milik Luftwaffe (Angkatan Udara), tepatnya V.Sturmgeschütz-Abteilung / Panzer-Artillerie-Regiment / Panzer-Division "Hermann Göring". Di tahun 1943 sendiri, unit lapis baja satu-satunya milik Luftwaffe ini beroperasi di wilayah Mediterania, utamanya di Afrika Utara, Sisilia dan Italia daratan.


Sumber :
https://sturgeonshouse.ipbhost.com/topic/11-stug-iii-thread-and-also-other-german-vehicles-i-guess/page/4/

Monday, January 30, 2023

Tentara Jerman Beristirahat di Desa Ukraina


Pasukan Wehrmacht dari 6. Armee beristirahat sambil menunggu perintah untuk bergerak kembali di sebuah desa Ukraina yang tak diketahui namanya, selama berlangsungnya Unternehmen Blau (Operasi Biru) di musim panas tahun 1942. Foto ini diambil oleh Hans Eckle, seorang prajurit dari 587.Infanterie-Regiment / 320.Infanterie-Division. Unternehmen Blau - terkadang disebut Fall Blau (Kasus Biru) adalah nama sandi yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata Jerman untuk rencana ofensif strategisnya di selatan Rusia di musim panas tahun 1942, yang kemudian berlangsung dari tanggal 28 Juni s/d 24 November 1942. Operasi militer ini adalah kelanjutan dari Unternehmen Barbarossa yang berlangsung setahun sebelumnya, yang bertujuan untuk memaksa Uni Soviet keluar dari peperangan. Seperti sebelum-sebelumnya, pihak Jerman mengandalkan metode "pengepungan massal", yang melibatkan dua serangan bercabang: satu mengarah pada ladang minyak Rusia di wilayah Baku, Kaukasus, sementara yang lainnya mengarah ke kota Stalingrad di sepanjang sungai Volga, untuk melapisi bagian samping gerak maju ke Baku. Untuk kepentingan ini, Heeresgruppe Süd dibagi dua menjadi Heeresgruppe A dan B. Heeresgruppe A ditugaskan untuk melintasi pegunungan Kaukasus demi mencapai ladang minyak wilayah Baku, sementara Heeresgruppe B melindungi bagian sampingnya di sepanjang sungai Volga. Pada awalnya, ofensif Jerman berjalan dengan mulus, dimana pasukannya berhasil mencapai wilayah Kaukasus dan mengambil-alih wilayah yang begitu luasnya serta beberapa ladang minyak dari tangan Rusia (bila saja pihak Jerman meneruskan gerak-majunya ke arah timur dan selatan, maka ada kemungkinan mereka bertemu dengan pasukan Jepang yang sedang bertempur di wilayah Birma dan India, suatu hal yang begitu dikhawatirkan oleh pihak Sekutu!). Pada kenyataannya, Tentara Merah mampu membalikkan keadaan dan mengalahkan sang penyerbu di kota Stalingrad (yang telah menjadi puing-puing) melalui operasi balasan, Uranus dan Saturnus Kecil. Kekalahan ini memaksa pasukan Poros untuk mundur dari wilayah Kaukasus di awal tahun 1943, dan hanya menyisakan wilayah Kursk dan Kuban yang masih tetap berada dalam penguasaan mereka.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2017/12/foto-unternehmen-blau-fall-blau.html

Tuesday, December 20, 2022

General der Artillerie Erich Marcks


Foto ini dibuat oleh Hugo Jaeger pada bulan Juni 1940 dan memperlihatkan Generalmajor Erich Marcks (Chef des Generalstabes 18. Armee) dalam sebuah acara jamuan makan di Paris, tak lama setelah ibukota Prancis tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman. Sang jenderal berotak encer adalah anak dari sejarawan Jerman terkemuka yang bernama sama, Erich Marcks (1861-1938). Dia memulai karirnya dari masa Perang Dunia Pertama (1914-1918), dilanjutkan dengan pengabdian di Reichswehr (1919-1935) dan Wehrmacht (1935-1945). Melihat potensi serta kecerdasannya dalam hal perancangan strategi, Kepala Staff Angkatan Darat Franz Halder memerintahkan Marcks untuk membuat rencana serangan Jerman ke Uni Soviet, yang nantinya dinamakan "Operasi Barbarossa". Berdasarkan kalkulasi Marcks, pasukan Wehrmacht dapat menuntaskan tugasnya dalam jangka waktu 9 s/d 17 minggu selama tetap berpegang kepada tujuan utamanya, yaitu penguasaan ibukota Moskow (hal utama yang kemudian malah dilanggar sendiri oleh Hitler di tengah jalan!). Dalam Operasi Barbarossa sendiri, Marcks diserahi tanggungjawab sebagai Komandan 101. leichte-Infanterie-Division. Tragisnya, di hari-hari pertama penyerbuan, sang jenderal terluka parah di Ukraina sehingga membuat sebelah kakinya harus diamputasi. Meskipun begitu, hanya beberapa hari pertempuran di Front Timur sudah cukup untuk membuatnya diganjar dengan medali Ritterkreuz (26 Juni 1941). Setelah sembuh dari luka-lukanya, Marcks tetap dipercaya untuk memegang jabatan komandan lapangan, sampai terakhir menjadi Komandan LXXXIV. Armeekorps di Prancis tahun 1944 dengan pangkat General der Artillerie. Berlainan dengan pendapat jenderal-jenderal Jerman lainnya (termasuk Rommel), Marcks percaya bahwa Sekutu akan mendarat di Normandia dan bukannya di Pas de Calais. Keyakinannya terbukti, dan pihak musuh benar-benar mendarat di Normandia... persis di hari ulangtahun Erich Marcks yang ke-53 tanggal 6 Juni 1944! Hanya berselang enam hari setelah D-Day, Jenderal Marcks terluka parah oleh serangan udara Sekutu dan meninggal dunia di hari yang sama, tanggal 12 Juni 1944. Secara anumerta dia dianugerahi medali Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya. BTW, dalam film 'The Longest Day' Marcks diperankan oleh aktor Richard Münch, sementara dalam film TV 'Rommel dia diperankan oleh Hans Kremer.

Sumber :
https://artsandculture.google.com/entity/m064km4b?hl=en
https://en.wikipedia.org/wiki/Erich_Marcks

Wednesday, December 14, 2022

Jenderal dan Laksamana Jerman dalam Acara Führergeburtstag

Para jenderal dan laksamana Wehrmacht berdiri di tribun kehormatan dalam acara puncak perayaan ulangtahun Adolf Hitler yang ke-50, yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 20 April 1939. Mereka semua kompak memakai paradeanzug (seragam parade), lengkap dengan feldbinde (ikat pinggang brokat), auszeichnungen (baris medali) dan schnurr (tali bahu). Baris depan dari kiri ke kanan: Generaloberst Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe), General der Flieger Hans-Jürgen Stumpff (Chef der Luftwehr), Generalleutnant Ernst Udet (Generalluftzeugmeister und Chef Planungsamts der Luftwaffe), Admiral Max Bastian (Präsident Reichsfürsorge- und Versorgungsgerichts der Wehrmacht), dan Generalmajor Friedrich Fahnert (Höheren Kommandeur Luftnachrichtenschule Berlin). Sebagai identifikasi tambahan: Generalleutnant Walter Petzel (Inspekteur der Artillerie) adalah cowok berkacamata yang berdiri di belakang Fahnert; Generalmajor Hermann von Hanneken (Bevollmächtigter für Eisen- und Stahl auch zum Leiter der Hauptabteilung II Industrie) berdiri diantara Bastian dan Fahnert, Generaloberst Wilhelm List (Oberbefehlshaber Heeres-Gruppenkommando 5) diantara Udet dan Bastian, serta General der Flieger Friedrich Christiansen (Korpsführer NSFK) diantara Stumpff dan Udet. Foto ini sendiri dibuat oleh fotografer pribadi Hitler, Hugo Jaeger. Perhatikan bahwa Milch dan Stumpff sama-sama memakai Star of Yugoslavian Order of the Crown di dada mereka!

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/10/koleksi-ratusan-foto-berwarna-dari-life.html
https://artsandculture.google.com/entity/m064km4b?hl=en

Sunday, December 11, 2022

Prajurit Luftwaffe Membaca Surat di Sebelah Motor Zündapp

Foto ini, yang tampaknya telah disetting dengan baik, kemungkinan dibuat untuk kepentingan propaganda Jerman. Seorang prajurit Luftwaffe berdiri sambil membaca surat yang datang dari tanah air di depan sepeda motor Zündapp Ks 600 bersespan, sementara di latar belakang mengudara sebuah pesawat Focke-Wulf Fw 189 "Uhu" (Burung Hantu). Pesawat bermesin ganda dan berkursi tiga ini terutama sekali dibuat untuk kepentingan pengintaian. Dibandingkan dengan pesawat yang umum diproduksi di masa itu, Fw 189 terlihat aneh karena mempunyai dua "badan". Pada awalnya kemampuannya diragukan, tapi kemudian medan udara Front Timur membuktikan kemampuan Fw 189 yang jauh melebihi harapan para pembuatnya! Pesawat ini dijuluki sebagai "matanya Luftwaffe" dan ketangguhannya terbukti dengan beberapa kali dia mampu pulang ke pangkalannya dengan sebagian ekornya copot atau rusak parah! Keberadaannya tidak diketahui oleh pihak Sekutu sampai dengan tahun 1941, walaupun prototipe pesawat ini sudah berseliweran dari masa sebelum perang. Total produksinya sampai dengan perang berakhir adalah 849 buah.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Markas Tentara Jerman di Desa Kecil Rusia


Pesawat penghubung sangat dibutuhkan untuk memelihara kontak langsung antara markas dengan prajurit di front depan. Tanpa pesawat ini maka akan mustahil bagi para komandan senior untuk bertemu dengan bawahannya dalam jangka waktu sebentar demi mendiskusikan perkembangan situasi atau sekedar melakukan inspeksi singkat di front. Karena biasanya pos komando dan markas front berada di wilayah hutan lebat, tertutup oleh kamuflase atau di desa-desa terpencil, maka kadangkala tak ada landasan udara standar terdekat yang menjangkaunya. Atas alasan ini maka Fieseler Fi 156 Storch, dengan kemampuan take-off dan landingnya di landasan sempit, menjadi pilihan utama para komandan staff senior. Pesawat ini bahkan bisa mendarat di atas permukaan yang kasar atau berlumpur. Foto di atas memperlihatkan sebuah desa kecil Rusia yang dikelilingi oleh hutan. Panji yang terpasang di depan sebuah rumah di sebelah kiri menandakan bahwa lokasi itu telah dijadikan sebagai markas sebuah Armee-Korps. Di latar belakang terparkir sebuah Storch, yang kemungkinan dipakai untuk menerbangkan sang komandan korps dalam kunjungan ke front depan atau membawa para komandan divisinya ke tempat ini.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Sunday, August 7, 2022

Panzerjäger Tiger Diinspeksi Tentara Amerika


Panzerjäger Tiger Ausf.B mit 12,8cm PaK 44 L/55 "Jagdtiger"(Sd.Kfz.186) Nr. 331 dari schwere Panzerjäger-Abteilung 653 diinspeksi oleh prajurit Amerika dari 10th Armored Division tak lama setelah dia ditinggalkan oleh awaknya di Landauer Strasse (Neustadt an der Weinstrasse) tanggal 23 Maret 1945. Jagdtiger satu ini dikomandani oleh Leutnant Kasper Geoggler yang juga merupakan Komandan Kampfgruppe ketiga dari 3.Kompanie / sPzJg.Abt.653. Geoggler mempunyai saraf bagaikan baja dan sangat berambisi untuk membuktikan ketangguhannya dalam pertempuran. Dia telah dianugerahi dengan Deutsches Kreuz in Gold tanggal 10 Mei 1943 saat bertempur di Front Timur, dan telah menghancurkan beberapa tank musuh sebelum konfrontasi di Neustadt. Pada tanggal 22 Maret 1945 Geoggler menjadi komandan dari tiga buah Jagdtiger (termasuk punya dirinya) dan dia menempatkan mereka pada posisi yang strategis untuk menyergap musuh di utara Neustadt. Disana dia bisa melihat setiap jalan dari luar yang mengarah ke kota. Dari posisi yang terkamuflase dengan baik, tiga buah Jagdtiger tersebut menghadapi konvoy berpuluh-puluh tank Amerika. Tank pertama dan terakhir mendapat hantaman pertama sehingga membuat konvoy menjadi macet. Di tengah kepanikan musuh, Geoggler dan Jagdtiger temannya menghabisi kendaraan perang yang tersisa. Tank-tank Sherman dan M10 Amerika membalas tembakan Jagdtiger Jerman, tapi usaha mereka sia-sia belaka karena begitu tebalnya lapisan baja yang diusung oleh Jagdtiger. Meskipun dua buah Panzerjäger (Pemburu Tank) Jerman (No. 331 dan No. 323) terkena lebih dari 10 tembakan tepat sasaran, tapi mereka masih mampu untuk mundur ke Neustadt. Setelah pertempuran usai, tidak kurang dari 25 tank Amerika yang terkonfirmasi musnah, sementara beberapa awak Jagdtiger sendiri hanya menderita luka ringan!

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/10/album-foto-kendaraan-rampasan.html

General der Panzertruppe Dietrich von Saucken


General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (16 Mei 1892 - 27 September 1980) adalah jenderal pasukan panzer Jerman dalam Perang Dunia II, salah satu dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht / SS yang dianugerahi penghargaan super bergengsi: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten (keriting dah tuh lidah!). Dia adalah tipikal perwira Prusia totok, baik penampilan maupun kepribadiannya. Monokel (kacamata tunggal) tidak pernah lepas dari mata kirinya, pedang di pinggangnya, dan penampilannya yang kaku pun seakan menegaskan dari mana dia berasal. Meskipun begitu, Saucken pada awalnya justru mempunyai cita-cita menjadi seniman, tapi kemudian dia memilih untuk mendaftar di Angkatan Darat Prusia pada tahun 1910 tak lama setelah lulus SMA. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918), begitu juga dalam kekacauan yang terjadi sesudahnya, dimana Saucken bergabung dengan unit Freikorps lokal demi membendung pemberontakan kaum Komunis Jerman. Pada tahun 1921 dia ditarik menjadi anggota Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar), dan menjadi ahli dalam bahasa Rusia setelah ditugaskan ke Uni Soviet pada tahun 1927. Pada saat Perang Dunia II pecah (1 September 1939), Saucken sudah menjadi Komandan Resimen Kavaleri dengan pangkat Oberst. Dia ikut ambil bagian dalam kampanye militer Jerman di Prancis, Balkan dan Rusia. Dalam kancah Pertempuran Moskow di akhir tahun 1941, Saucken diangkat sebagai Komandan 4. Panzer-Division. Dia memimpin unit barunya dengan begitu semriwing, sehingga diganjar dengan medali Ritterkreuz (6 Januari 1942) beserta turunannya, Eichenlaub (22 Agustus 1943) dan Schwerter (30 Januari 1944). Satu lagi yang terakhir, Brillanten, dia dapatkan pada tanggal 8 Mei 1945 saat perang baru saja berakhir di Eropa. Meskipun notabene seorang pahlawan Jerman, Saucken tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap "braune Bande" (gerombolan coklat) alias orang-orang Nazi. Ketika dia diperintahkan oleh Hitler untuk mengambil-alih komando 2. Armee pada bulan Maret 1945, dia datang ke markas sang Führer dengan "tangan kirinya secara santuy diselonjorkan di pedang kavaleri yang selalu dibawanya, sementara monokel terpasang di salah satu matanya". Von Saucken lalu memberi hormat tradisional tentara dan membungkuk sedikit. Tak terbayangkan, karena ini adalah tiga "pelanggaran berat" sekaligus: Dia sama sekali tidak memberikan salam Nazi dengan mengangkat tangannya dan meneriakkan 'Heil Hitler' (seperti yang tertera dalam peraturan resmi semenjak 20 Juli 1944), dia tidak menyerahkan senjatanya untuk disimpan saat masuk... dan dia tetap memakai monokelnya tanpa terganggu saat memberi salam pada Hitler! Ketika diberitahu oleh Hitler bahwa dia akan berada di bawah perintah dari Albert Forster yang merupakan Gauleiter (Gubernur Nazi) di Danzig, Saucken "langsung memandang Hitler di matanya... dan menghentakkan kedua tangannya dengan keras di meja marmer tempat menyimpan peta, dia menjawab 'Aku tak akan pernah menempatkan diriku, Herr Hitler, di bawah perintah dari seorang Gauleiter'. Dengan melakukan ini Saucken telah jelas-jelas menentang perintah langsung dari Hitler dan, lebih-lebih lagi, tidak memanggil pemimpin Jerman yang ditakuti itu dengan sebutan Mein Führer! Yang lebih mengejutkan lagi bagi semua yang hadir disitu, Hitler tampak pasrah pada kehendak jenderalnya yang keras kepala tapi berotak brilian ini, tidak murka seperti biasanya, dan dengan tenang membalas, "baik Saucken, pegang komando untuk dirimu sendiri". Hitler dan Saucken berpisah tanpa berjabat tangan, dan si jenderal Prusia itu meninggalkan ruangan dengan sedikit saja menggerakkan badannya ke bawah untuk membungkuk tanda hormat! Ingat beibeh, ini bukan berarti bahwa pribadinya bertipe pemberontak dan semangat tempurnya telah menurun sehingga dia tampak sangat tidak menghormati pemimpinnya sendiri. Ini adalah hasil keteguhan seorang didikan staf jenderal Prusia sejati yang memegang teguh sumpah keprajuritan. Bolehlah dia kurang hormat sama Hitler, tapi perintah Hitler diturutinya sampai akhir. Bukankah dia baru menyerah satu hari setelah semua pasukan Jerman lain menurunkan senjatanya? Bukankah dia telah mendarmabaktikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk negaranya, sehingga anaknyapun telah menjadi "tumbal" dari perjuangannya? Bukankah semua penghargaan dan medali yang telah diraihnya menjadi pertanda dari kedahsyatannya di medan pertempuran? Tentunya Hitler tidak akan memilih Saucken kalau tahu jenderalnya ini memang selembek perkedel dan bukannya "mutu manikam" yang tak tergoyahkan badai sedahsyat apapun! Kekerasan hatinya ini tampak ketika di hari-hari akhir Perang Dunia II, saat Karl Dönitz (pengganti Hitler sebagai pemimpin Jerman) mengirimkan sebuah pesawat demi mengevakuasi jenderalnya yang berharga ini agar terhindar dari tangkapan Rusia. Lalu apa reaksi Saucken? Bukannya berterimakasih dan buru-buru naik pesawat, dia malah menolak mentah-mentah tawaran Dönitz dan lebih memilih masuk penjara Rusia yang terkenal brutal bersama dengan pasukan yang sangat dicintainya! Soviet pun tidak mampu menundukkan keteguhannya dalam bersikap. Ketika dia disuruh untuk menandatangani sebuah surat pernyataan palsu, Saucken menolak dengan keras sehingga akibatnya dia harus menerima vonis palu hakim kerja paksa selama 20 tahun, dimasukkan dalam sel terpisah, dan mendapat siksaan begitu berat sehingga harus menggunakan kursi roda di sisa akhir hidupnya!

Sumber :
https://de.metapedia.org/wiki/Saucken,_Dietrich_von

Sunday, July 17, 2022

Peletakan Bunga di Pemakaman Militer Jerman

"And I will show you the field where the Iron Crosses grow..." (quote dari film 'Cross of Iron'). Foto ini memperlihatkan Kriegsberichter (Wartawan Perang) dari Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman), Horst Grund, yang sedang meletakkan bunga sebagai tanda penghormatan kepada rekan-rekan senegaranya yang telah gugur di Soldatenfriedhof (komplek pemakaman militer) Gadshikov di Semenanjung Krim, Ukraina, musim panas tahun 1942. Prajurit-prajurit yang dikubur disini semuanya berasal dari Infanterie-Regiment 16 / 22.Infanterie-Division. Pada tanggal 4 Juli 1942, pasukan Jerman merebut pelabuhan Sebastopol di Krim dari tangan Rusia setelah pertempuran sengit yang memakan waktu berbulan-bulan. Tentara bertahan Soviet hancur lebur dengan menderita korban 118.000 orang prajuritnya yang terbunuh, luka-luka dan tertawan dalam serangan terakhir Jerman yang menentukan (sementara totalnya mencapai 200.481 orang dari sejak pengepungan dimulai di bulan Oktober 1941). Kerugian di pihak penyerbu sendiri tercatat di angka 35.866 orang, dimana 27.412 diantaranya adalah tentara Jerman, sementara 8.454 sisanya adalah tentara Rumania. Dengan dikuasainya Semenanjung Krim di wilayah Selatan Front Timur, kini Hitler bisa berfokus kepada ofensif besar-besaran musim panas tahun 1942 - Fall Blau - yang bertujuan untuk menguasai ladang-ladang minyak Soviet di Kaukasus yang strategis. Sebagai penghargaan atas keberhasilannya memimpin 11. Armee dalam penaklukan Krim, Hitler memberi kenaikan pangkat luar biasa kepada si jenius Erich von Manstein, dari Generaloberst (Kolonel-Jenderal) menjadi Generalfeldmarschall (Marsekal-Jenderal) alias jenderal bintang lima.

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Sevastopol_(1941%E2%80%9342)
http://www.ww2incolor.com/german/_n_1603_bild-261_501x0_0_22.html

Sunday, June 19, 2022

Jenderal-Jenderal Jerman di Paris 1940


Penampakan jenderal-jenderal Wehrmacht di acara parade kemenangan pasukan Jerman di Place de la Concorde, Paris, hari Jum'at tanggal 14 Juni 1940. Di hari itu ibukota Prancis tersebut jatuh ke tangan tentara Nazi, sementara 2.000.000 warganya telah pergi mengungsi. Sebagai persiapan parade, pihak penguasa baru melarang warga setempat untuk mendekati sekitar wilayah Place de la Concorde dari pukul 08:00 pagi sampai dengan sore harinya. Sebagai identitas bapak-bapak bule yang nongtot dalam foto ini adalah, baris depan dari kiri ke kanan: Generalleutnant Hans von Salmuth (Chef des Generalstabes Heeresgruppe B), General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 18. Armee), Oberleutnant der Reserve Heinrich Graf von Lehndorff-Steinort (Adjutant Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), General der Kavallerie Georg Stumme (bocil yang membelakangi kamera, Kommandierender General XXXX. Panzerkorps), serta Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B). Di latar belakang terlihat deretan mobil mewah yang terparkir, yang kemungkinan besar adalah tunggangan khusus perwira-perwira tinggi Jerman yang menghadiri acara. Tiga mobil yang berada di sebelah kanan adalah, berturut-turut dari kiri ke kanan: Opel Admiral, Opel Kapitän, dan Horch 830 BL. Foto berwarna asli ini sendiri dibuat oleh salah seorang fotografer pribadi Hitler, Hugo Jaeger, yang "nebeng" bersama dengan Heeresgruppe B dalam invasi ke Benelux (Belanda Belgia Luxemburg) dan Prancis di musim panas tahun 1940.

Sumber :
https://artsandculture.google.com/search?q=kuechler&hl=en

Sunday, June 12, 2022

Jenderal Küchler dan Bock di Belanda

 
Foto ini diambil oleh Hugo Jaeger pada tanggal 15 Mei 1940, dan memperlihatkan General der Artillerie Georg von Küchler (kiri, Oberbefehlshaber 18. Armee) yang sedang memberikan laporan kepada atasannya, Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B) - dengan disaksikan oleh beberapa warga sipil setempat - di depan Christelijke Lagere school yang terletak di Rijksstraatweg, Rijsoord/Ridderkerk, Belanda, tak lama setelah berakhirnya perundingan penyerahan negara penjajah nusantara tersebut ke tangan Jerman pada tanggal 14 Mei 1940. Hanya dalam tempo empat hari Belanda bertekuk lutut oleh sapuan "Blitzkrieg" (Perang Kilat) Jerman! Dalam foto ini, Jenderal
Küchler mengenakan holster berisi pistol Walther PPK di ikat pinggangnya. Lokasi penyerahan sendiri berada di dalam bangunan sebuah sekolah bernama Johannes Postschool, dan ditandatangani langsung oleh panglima Angkatan Bersenjata Belanda saat itu, Henri Winkelman. Sekolah tersebut kini telah menjadi museum, lengkap dengan monumen yang bertuliskan: "Mereka yang mengacuhkan pertahanannya maka sama saja dengan mempertaruhkan kemerdekaannya"

Sumber :
https://artsandculture.google.com/asset/hitler-jaeger-file/lQHTtY7MrgNqGQ?hl=en

Sunday, May 22, 2022

Erwin Rommel di Sollum

 
Bersama dengan para perwira staffnya, pada tanggal 2 Juli 1941 General der Panzertruppe Erwin Rommel (kiri, Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) melakukan kunjungan ke markas I.Bataillon / Schützen-Regiment 104 / 15.Panzer-Division di wilayah Sollum, yang berada di perbatasan Libya-Mesir. Dalam kunjungan ini, secara khusus "Der Wüstenfuchs" (Sang Rubah Gurun) memberi selamat kepada komandan batalyon tersebut, Hauptmann der Reserve Wilhelm Bach (berjalan paling depan bersama Rommel), yang dalam pertempuran satu bulan sebelumnya berhasil menahan serbuan pasukan tank Inggris yang berusaha menerobos Halfaya Pass demi untuk membebaskan rekan-rekan mereka yang terkepung di Tobruk, dalam sebuah serangan massal yang dinamakan Operation Battleaxe (15-17 Juni 1941). Diantara Rommel dan Bach adalah Oberst Maximilian von Herff (Kommandeur Schützen-Regiment 115). Selama tiga hari penuh Bach dan anakbuahnya menahan serangan bergelombang musuh, dengan hanya bermodalkan satu peleton meriam Flak 88 sebagai senjata utama mereka. Meskipun Rommel sendiri telah memerintahkan agar sang Bataillonskommandeur mundur ke lokasi pertahanan yang lebih memadai "bila memungkinkan", Bach menginterpretasikan kata-kata terakhir dengan tindakan sebaliknya: melakukan serangan balasan yang berhasil memukul mundur pasukan Inggris! Atas prestasi fenomenal tersebut, Bach - yang merupakan mantan pendeta (!) - dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Juli 1941, hanya berselang seminggu setelah foto ini diambil. Flak 88 sendiri aslinya adalah meriam anti pesawat terbang, tapi bisa sama bagusnya saat digunakan untuk menghantam target tank di darat. BTW, di bulan April 1941 - yang hanya berselang satu bulan setelah Rommel tiba di Afrika Utara - pasukan Jerman berhasil mengalahkan tentara penyerbu Inggris dan mengusirnya dari Libya, kecuali satu garnisun ANZAC keras kepala yang tetap bertahan di kota pelabuhan Tobruk (meskipun dikepung oleh gabungan pasukan Italia dan Afrikakorps Jerman). Selama satu tahun berikutnya, penguasaan kembali Tobruk menjadi obsesi terbesar Rommel karena tanpanya maka semua usaha pihak Jerman untuk menguasai Mesir akan sia-sia belaka. Ketika kota pelabuhan tersebut akhirnya diduduki pada bulan Juni 1942, Hitler yang berterimakasih mengganjar Rommel dengan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Generalfeldmarschall.




Sumber :
https://www.bridgemanimages.com/en/search?filter_group=all&filter_region=GBR&filter_text=Erwin%20Rommel

Sunday, May 8, 2022

Markas Panzer-Abteilung z.b.V. 40 di Denmark


Foto yang diambil bulan April 1940 ini memperlihatkan sejumlah Panzerkampfwagen I Ausf. B milik  1.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40 yang diparkir di depan pintu masuk Hotel Jørgensens di Horsens, Denmark, yang dijadikan sebagai markas dari batalyon panzer tersebut selama masa tinggalnya di Denmark. Hotel Jørgensens sendiri beralamat di jalan Søndergade no. 17, dan sampai sekarang masih beroperasi.

Panzer-Abteilung zur besonderen Verwendung 40 (Panzer-Abteilung z.b.V. 40), yang diterjemahkan sebagai "Batalyon Tank untuk Tujuan Khusus", dibentuk pertama kali pada tanggal 8 Maret 1940 dan dibentuk special pake telor untuk invasi Jerman ke Denmark dan Norwegia yang berlangsung sebulan setelahnya. Unit ini sebagian besar diisi oleh tank-tank ringan dari jenis Panzer I dan II, yang disebar di tiga kompi (berkekuatan masing-masing tiga peleton) serta satu seksi markas. Pada tanggal 9 April 1940 Panzer-Abteilung z.b.V. 40 berkekuatan 72 tank, yang terdiri dari 42 Panzer I, 21 Panzer III, 6 Panzerbefehlswagen I, dan 3 Neubaufahrzeug Typ B. Pada saat invasi dimulai, kompi pertama dan kedua dikirim ke Denmark melalui jalan darat, sementara kompi ketiga diberangkatkan ke Norwegia dengan menumpang kapal transport Urundi dan Antaris H. Pada tanggal 10 April 1940 Antaris H ditenggelamkan oleh kapal selam Inggris bersama dengan 15 tank beserta awaknya. Hanya dua tank yang selamat tiba di tujuan. Pasukan Jerman di Norwegia kemudian mendapat tambahan balabantuan dari kompi pertama dan kedua Panzer-Abteilung z.b.V. 40, yang berangkat dari Denmark tanggal 20 April dan tiba empat hari kemudian.






Sumber :
https://477768.livejournal.com/5996713.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Panzer-Abteilung_40
https://www.reddit.com/r/wwiipics/comments/k5lpr8/panzer_i_ausf_bs_of_panzerabteilung_40_at_the/
https://waralbum.ru/357345/

Friday, April 29, 2022

Halftrack Jerman Melewati Katedral Mglin

Foto berwarna asli - yang diambil pada bulan Agustus 1941 ini -  memperlihatkan sebuah halftrack (kendaraan setengah roda) Jerman dari jenis Sd.Kfz.251 Ausf.A yang sedang bergerak maju melewati Katedral Ortodoks Dormition di Mglin, Bryansk Oblast, Uni Soviet. Kendaraan lapis baja satu ini berasal dari 1.Batterie / I.Abteilung / Panzer-Artillerie-Regiment 75 / 3. Panzer-Division. Dalam Unternehmen Barbarossa (Operasi Barbarossa, invasi Jerman atas Rusia) yang dimulai pada tanggal 22 Juni 1941, 3. Panzer-Division menjadi bagian dari Panzergruppe 2 pimpinan "Bapak Pasukan Tank" Heinz Guderian. Pada awal operasi, divisi yang dikomandani oleh Generalleutnant Walter Model ini bertempur di sektor tengah gerak maju pasukan Jerman, tapi kemudian dibelokkan ke arah selatan untuk ikut ambil bagian dalam Pertempuran Kiev (23 Agustus - 26 September 1941). Dari sana, 3. Panzer-Division berpartisipasi dalam Pertempuran Moskow (30 September 1941 - 20 April 1942), dan sempat bergerak maju sampai ke wilayah Tula yang berjarak sekitar 173 kilometer dari ibukota Uni Soviet tersebut, sebelum akhirnya dihentikan oleh pasukan bertahan musuh yang bertempur dengan gila-gilaan.

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/3rd_Panzer_Division_(Wehrmacht)
https://www.facebook.com/photo/?fbid=290564653271517&set=gm.2603839409748599
https://pixpast.com/index.php?catalog=12275&ctypes=photo

Saturday, October 30, 2021

Prajurit Flak-Regiment 3 Menikmati Ransum Mereka di Musim Dingin

Foto berwarna asli koleksi Akira Takiguchi ini memperlihatkan para prajurit dari Flak-Regiment 3 yang sedang menikmati jatah ransum mereka di tengah dinginnya cuaca bersalju. Banyak hal menarik yang bisa terlihat disini: helm dengan dekal ganda, mantel dengan tanda pangkat di pundak, serta detail perlengkapan lapangan lainnya. Bila diperhatikan lebih lanjut, maka kita juga bisa melihat bahwa prajurit di sebelah kiri mengenakan mantel dengan kragenspiegel (tanda pangkat kerah) Luftwaffe tanpa gambar sayap seperti umumnya! Flak-Regiment 3 sendiri dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1936 di wilayah Weimar, meskipun tak lama kemudian dipindahkan ke Königsberg. Pada tanggal 15 Juni 1939 unit ini dinamai ulang menjadi Stab Flak-Regiment 11, ditempatkan kembali di Weimar pada bulan Desember 1939, dan dipindahkan ke Stettin pada tahun 1941 di bawah komando Luftgau III. Disini unit ini berubah nama kembali menjadi Flakgruppe Stettin. Saat situasi perang tambah memburuk, pada tahun 1945 prajurit-prajuritnya digunakan sebagai pasukan darat dalam pertempuran melawan Tentara Merah di wilayah Pölitz dekat Stettin, sebagai bagian dari 6. Flak-Brigade.

Sumber :
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
http://www.lexikon-der-wehrmacht.de/Gliederungen/FlakRegimenter/FR3-R.htm
https://www.wehrmacht-awards.com/forums/forum/wehrmacht-era-militaria/photos-and-paper-items-forum/935046-post-your-atmospheric-photos?p=11771809#post11771809

Monday, August 17, 2020

Walter Model dalam Inspeksi Wilayah Rzhev

Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi ini memperlihatkan Generaloberst Walter Model (Oberbefehlshaber 9. Armee) dalam sebuah kunjungan inspeksi, yang berjalan dengan diikuti oleh General der Infanterie Hans Zorn (Kommandierender General XXXXVI. Panzerkorps) di belakangnya. Pada musim panas tahun 1942, XXXXVI. Panzerkorps berada di bawah komando 9. Armee, dan beroperasi di sekitar Rzhev. Wilayah tersebut berjarak 230 kilometer sebelah barat Moskow, dan direbut oleh pasukan Jerman pada musim gugur tahun sebelumnya sehingga membawa mereka ke gerbang ibukota Soviet. Ketika serangan balik Tentara Merah memukul mundur tentara-tentara Jerman, Rzhev menjadi satu-satunya wilayah di sekitar Moskow yang masih mampu dikuasai oleh Wehrmacht. Pada bulan Juli dan Agustus 1942, Stalin memerintahkan dua orang panglimanya, Georgy Zhukov dan Ivan Konev, untuk melakukan serangan habis-habisan demi merebut kembali Rzhev. Apesnya, wilayah tersebut kini sebagian besar dikuasai oleh 9. Armee pimpinan Jenderal Walter Model, PAKAR PERTAHANAN TERBAIK yang dimiliki oleh Jerman. Selama musim panas tahun 1942, Tentara Merah berkali-kali menyerang Rzhev dari berbagai arah, hanya untuk menemui kegagalan di hadapan pertahanan rumit dan berlapis yang digalang oleh Model. Hanya dalam beberapa bulan pertempuran, 486.000 orang pasukan penyerbu Soviet kehilangan 300.000 anggotanya yang tewas, hilang, terluka atau ditawan! Korban mengerikan yang mereka derita, ditambah dengan sedikit hasil yang diperoleh, membuat pertempuran di sekitar Rzhev dijuluki sebagai "The Rzhev Meat Grinder" (Penggiling Daging Rzhev). Pada bulan Oktober 1942, saat ofensif Stalin untuk sementara dihentikan, posisi kedua belah pihak bisa dibilang tak banyak berubah. Atas jasa-jasanya dalam Pertempuran Rzhev ini, Generaloberst Model dianugerahi medali Schwerter untuk Ritterkreuz-nya, yang diserahkan langsung oleh Hitler di markas besarnya pada bulan April 1943.

Sumber :
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217084776665047&set=pcb.1119730698212352&type=3&theater

Monday, August 10, 2020

Pameran "Der Sieg im Westen" di Wina

Foto ini diambil pada tanggal 18 November 1940, dan memperlihatkan para petinggi Nazi yang sedang meninjau pameran Wehrmacht berjudul "Der Sieg im Westen" (Kemenangan di Barat) yang digelar di Heldenplatz, Wina, Ostmark (Austria). Pameran ini menampilkan rangkaian propaganda yang berkaitan dengan kemenangan gilang-gemilang pasukan Jerman dalam penyerbuan ke Prancis dan Negara-Negara Bawah beberapa bulan sebelumnya. Sebagai identifikasi orang-orang yang ada dalam foto ini adalah, baris depan dari kiri ke kanan: Hugo Jury (Gauleiter Reichsgau Niederdonau und Reichsstatthalter Niederösterreich), Baldur von Schirach (Gauleiter und Reichsstatthalter Reichsgau Wien), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), dan Generalfeldmarschall Wilhelm List (Oberbefehlshaber 12. Armee). Identifikasi tambahan: baris belakang diantara Jury dan Schirach adalah Charakter als Generalmajor Edmund Glaise-Horstenau (General z. b.V. beim Oberkommando der Wehrmacht); yang kepalanya tertutup oleh Göring adalah SS-Gruppenführer Dr.jur. Ernst Kaltenbrunner (Höherer SS- und Polizeiführer Donau); diantara Göring dan List adalah General der Kavallerie Eberhard von Mackensen (Chef des Generalstabes 12. Armee); serta paling kanan di belakang List adalah Generalleutnant Hans Graf von Sponeck (Kommandeur 22. Luftlande-Infanterie-Division).


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?p=1385037#p1385037
https://www.treasurebunker.com/forums/index.php?/topic/2864-high-quality-color-exceptional-bw-photographs-german-side/

Sunday, August 9, 2020

Hans von Salmuth Menginspeksi Pasukan Jerman

Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi ini memperlihatkan saat Generaloberst Hans von Salmuth (tengah, Oberbefehlshaber 15. Armee) sedang menginspeksi pasukan pertahanan Jerman dari 49. Infanterie-Division di sekitar wilayah pantai Boulogne, Prancis, pada tahun 1944, tak lama sebelum pasukan Sekutu mendarat di Normandia. Berdiri paling kiri adalah General der Artillerie Johann Sinnhuber (Kommandierender General LXXXII. Armeekorps), sementara yang paling kanan adalah Generalleutnant Sigfrid Macholz (Kommandeur 49. Infanterie-Division). Dari sejak pembentukannya di bulan Februari 1944 sampai dengan bulan Mei 1944, 49. Infanterie-Division (Macholz) berada di bawah komando LXXXII. Armeekorps (Sinnhuber) yang merupakan bagian dari 15. Armee (Salmuth). Divisi ini beroperasi di sekitar Boulogne, Prancis, sebelum kemudian ditarik ke Paris pada bulan Agustus 1944 dan mundur lagi ke Aachen satu bulan setelahnya. Ketiga jenderal dalam foto ini sendiri adalah para Ritterkreuzträger (peraih medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes): Salmuth mendapatkannya pada tanggal 19 Juli 1940, Sinnhuber tanggal 5 Juli 1941, dan Macholz tanggal 16 Oktober 1944.

Sumber :
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10218313815990262&set=p.10218313815990262&type=1&theater

Monday, August 3, 2020

Heinrich von Vietinghoff dan Perwiranya

Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi ini memperlihatkan, dari kiri ke kanan: General der Panzertruppe Heinrich von Vietinghoff-Scheel (Kommandierender General XXXXVI. Armeekorps [motorisiert]) yang sedang berbincang-bincang dengan Major im Generalstab Joachim Sadrozinski (Ia Operationsführer XXXXVI. Armeekorps [motorisiert]) di depan sebuah Omnibus yang difungsikan sebagai Befehlswagen (Kendaraan Komando) Korpsnya. Beberapa hal yang cukup menarik untuk diperhatikan adalah: ① Taktische Zeichen (marking taktis) Korps Wehrmacht, ② strip pink di celana untuk anggota perwira staff, ③ strip merah di celana untuk yang berpangkat jenderal, dan ④ plakat bertuliskan "Befehlswagen Ia" (kendaraan komando untuk Kepala Operasi). Tidak ada keterangan kapan dan dimana foto ini diambil, tapi kemungkinan besar di Rusia pada musim panas tahun 1941 sewaktu berlangsungnya Unternehmen Barbarossa. Dalam operasi penyerbuan Jerman atas Uni Soviet tersebut, XXXXVI. Armeekorps (motorisiert) beroperasi di sektor tengah Front Timur dan berada di bawah komando Heeresgruppe Mitte. Von Vietinghoff menjadi Komandan-jenderal XXXXVI. Armeekorps (motorisiert) dari tanggal 1 November 1940 s/d 10 Juni 1942 (saat korps infanteri bermotor tersebut diupgrade menjadi korps panzer), sementara Sadrozinski menjadi Kepala Operasi XXXXVI. Armeekorps (motorisiert) dari bulan Oktober 1940 s/d Mei 1942.


Sumber :
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10220380242729639&set=p.10220380242729639&type=1&theater