Monday, June 29, 2020

Otto Skorzeny di Budapest Hungaria

Dari kiri ke kanan: SS-Sturmbannführer der Reserve Otto Skorzeny (Kommandeur SS-Jagdverband), SS-Hauptsturmführer der Reserve Adrian Baron von Foelkersam (Chef des Stabes SS-Jagdverband), dan SS-Untersturmführer der Reserve Gerhard Ostafel (Adjutant SS-Jagdverband). Foto hasil karya Kriegsberichter Faupel ini diambil di Budapest, Hungaria, pada tanggal 16 Oktober 1944 selama berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust, operasi militer untuk memastikan bahwa Hungaria tetap berada di pihak Jerman. Foelkersam adalah veteran unit sabotase Brandenburger yang kemudian bergabung dengan SS-Jagdverband dan menjadi kepala staff Skorzeny. Di hari itu pula, Skorzeny mendapatkan kenaikan pangkat dari SS-Sturmbannführer der Reserve menjadi SS-Obersturmbannführer der Reserve. BTW, mengenai orang ketiga dalam foto ini (paling kanan), versi lain menyebutkan bahwa dia adalah Walter Girg atau Werner Hunke, tapi yang paling kuat "hujjahnya" adalah Ostafel, karena dialah yang terus-menerus berada di sisi Skorzeny selama berlangsungnya Unternehmen Panzerfaust. Hunke (Kepala Operasi SS-Jagdverband) memang ikut serta dalam operasi tersebut, tapi dia memimpin pasukan lain yang terpisah dari Skorzeny. Sementara itu, Girg malah lebih tidak mungkin lagi: dia sedang menjalani perawatan atas luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran di bulan September sebelumnya, lalu beraksi di Rumania setelah sembuh, dan baru bergabung dengan Skorzeny di bulan Desember saat dimulainya Unternehmen Wacht am Rhein alias Ofensif Ardennes

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_101I-680-8283A-30A,_Budapest,_Otto_Skorzeny,_Adrian_v._F%C3%B6lkersam.jpg
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=38&t=150584&hilit=gerhard+ostafel

Thursday, June 25, 2020

Barkmann's Corner

  Pada tanggal 27 Juli 1944, SS-Unterscharführer Ernst Barkmann baru saja kembali dengan Panther-nya dari front. Dalam perjalanan dia dihentikan oleh barisan prajurit infanteri SS yang sedang bergerak mundur. Mereka melaporkan bahwa unit lapis baja Amerika sedang mendekat. Barkmann memutuskan untuk mengirimkan dua orang awaknya untuk memverifikasi kebenaran laporan tersebut. Tak lama kemudian mereka kembali dengan berita bahwa 15 tank Sherman ditambah dengan beberapa kendaraan perang lainnya sedang mendekat. Barkmann memutuskan untuk menghadapi mereka tanpa menunggu perintah terlebih dahulu meskipun tak ada Panther lain yang menemaninya. Dia menggerakkan panzernya ke sudut jalan di dekat Le Lorey (Normandia) yang dilindungi oleh kerimbunan pohon ek sambil menunggu kedatangan musuh. Ketika rombongan tank Amerika akhirnya datang, Panther Barkmann mulai menembak dan menghancurkan dua tank terdepan serta sebuah truk tangki BBM di belakangnya. Dua Shermann berusaha memutari rongsokan kendaraan perang yang terbakar yang menghalangi jalan. Meriam Barkmann menyalak kembali. Satu buah tank Shermann meledak, diikuti oleh satunya lagi. Sisa kendaraan perang lainnya buru-buru mundur dari neraka tersebut sambil memanggil bantuan udara sehingga Panther Barkmann mengalami kerusakan dan beberapa awaknya terluka. Dengan menggunakan unsur dadakan serta memanfaatkan kebisingan suara pesawat, dua tank Sherman berusaha menyelinap dan menyerang Panther yang "terluka tersebut". tapi kemudian malah mereka yang berbalik dihancurkan oleh Barkmann! Dia dan awaknya lalu buru-buru memperbaiki panzer mereka yang rusak dengan tak lupa meng-K.O. dua tank Sherman lainnya dalam proses tersebut ditambah dengan satu Sherman terakhir dalam perjalanan kembali ke markas. Supirnya mampu menggerakkan Panther mereka yang rusak ke tempat yang aman di desa Neufborg yang terdekat. Dalam pertempuran luar biasa yang terkenal dengan nama "Barkmann's Corner" (Sudut Barkmann) tersebut, sang jagoan panzer Jerman mampu menghancurkan tidak kurang dari sembilan tank Sherman dan beberapa kendaraan perang lainnya. Atas prestasinya itu Barkmann diganjar dengan medali militer tertinggi Jerman, Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes. Lukisan ini dibuat oleh David Pentland, dan karya-karya dia lainnya bisa dilihat DISINI

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/koleksi-lukisan-perang-nazi-jerman.html

Lukisan Perwira Kavaleri Jerman

 Lukisan karya Paul Turoff buatan awal tahun 1940 berukuran 132cm x 93cm milik Philipp Towarisch ini memperlihatkan seorang Leutnant muda berwajah tampan dari unit kavaleri. Terdapat kisah menarik sekaligus mengharukan dibaliknya: dia berasal dari keluarga bangsawan Jerman dan gugur di Belgia tahun 1940 di usia 22 tahun. Tunangannya, yang juga berasal dari kaum bangsawan, bekerja di Kedutaan Besar Jerman di masa perang dan sesudahnya. Dia begitu mencintai pria tersebut walaupun telah tiada, dan selalu membawa lukisannya kemanapun dia pergi! Tak ada keterangan tentang nama sang perwira malang, tapi dari wappen (panji klan bangsawan) di kiri atas kita bisa tahu akan marganya. Wappen berbentuk setengah bendera Austria dan setengah roda kereta ini merupakan logo dari keluarga Von Cramon, keluarga bangsawan terkemuka Jerman yang terkenal dengan tradisi militernya


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/koleksi-lukisan-perang-nazi-jerman.html

Dogfight Bf 109 dari JG 53 vs Hurricane RAF

Pada tanggal 12 Agustus 1940, Jagdgeschwader 53 (JG 53) mendapatkan tugas untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (perburuan bebas) di sekitar wilayah pantai Portsmouth dan Isle of Wight, sebagai bagian dari dukungan terhadap pesawat-pesawat bomber Junkers Ju 88 dari Kampfgeschwader 51 (KG 51) yang sedang melakukan operasi pemboman di pelabuhan Portsmouth dan stasiun radar Ventnor di Isle of Wight. Sebagai pimpinan 1.Staffel / JG 53 adalah Hauptmann Hans-Karl Mayer, yang menerbangkan pesawat Messerschmitt Bf 109E-4 "Weiße 8", sementara yang bertugas sebagai Rottenflieger (wingman) adalah Unteroffizier Heinrich Rühl yang menerbangkan Bf 109E-1 "Weiße10". Terbang dengan ketinggian 8.500 meter, pada pukul 12:20 siang mata Mayer tiba-tiba memergoki tiga pesawat Hurricane Inggris yang sedang mengeroyok sebuah Messerschmitt Bf 110 yang sedang terbang sendirian. Meskipun pesawat Mayer dan Rottenflieger-nya langsung menukik menuju ke arah musuh, pilot Bf 110 yang panik keburu melompat keluar dari pesawatnya. Mayer memilih pesawat yang berada di sisi kanan, sementara Rühl di sisi kirinya. Sang Staffelkapitän memuntahkan 20 peluru kanon kaliber 20mm dan 80 peluru senapan mesin kaliber 7,92mm sebelum pesawat RAF (Royal Air Force) buruannya jatuh ke lautan dengan badan dipenuhi api, dan tercatat sebagai korban ke-10 dari Hans-Karl Mayer dalam Perang Dunia II. Sementara itu, Rühl membutuhkan seluruh persediaan peluru kanonnya dan 200 peluru senapan mesin sebelum pesawat musuhnya melengkung dengan lembut dan kemudian menghantam lautan. Mayer sekarang mengalihkan perhatiannya pada satu Hurricane yang tersisa, yang kini sedang mendapat giliran dikeroyok oleh pesawat-pesawat Staffel-nya. Tampaknya pilot terakhir ini cukup mahir, karena pesawat Mayer sempat terkena tembakan sebanyak enam kali. Yang terjadi selanjutnya adalah laporan pertempuran yang ditulis oleh Mayer seusai misinya: "Setelah menembak jatuh korban pertamaku, aku kembali pada dogfight (pertempuran udara) antara satu Hurricane yang tersisa melawan beberapa pesawat Staffel-ku. Aku segera menyerang pesawat tersebut dan mampu menembaknya sebanyak dua kali, sementara pesawatku sendiri terkena beberapa tembakan darinya. Pesawat musuh yang pincang tersebut berusaha untuk menyelamatkan diri ke arah pantai. Aku sendiri tetap mengejarnya, sementara teman-temanku kini kehilangan diriku di tengah kacaunya pertempuran. Meskipun pesawat musuh berusaha keras untuk mengecoh dan menghindar dariku, aku masih tetap dapat melepaskan beberapa tembakan yang mengenainya. Hurricane tersebut mulai mengeluarkan asap hitam, sebelum kemudian menukik di ketinggian rendah dan jatuh berkeping-keping saat menyentuh permukaan lautan". Mayer telah mencatatkan kemenangan keduanya di hari itu, setelah menghabiskan 10 peluru kanon dan 250 peluru senapan mesin untuk menghabisi korbannya yang terakhir. Meskipun tak dapat diketahui dengan pasti, kemungkinan besar tiga korban Mayer dan Rühl di hari itu adalah Pilot Officer John Harrison, Acting Flight Lieutenant Wilhelm Pankratz dan Sergeant Josef Kwiecinski, semuanya adalah pilot-pilot dari No.145 Squadron yang dilaporkan hilang di sekitar Isle of Wight di waktu yang bersamaan dengan klaim yang dikeluarkan oleh pihak Jerman.


Sumber :
Lukisan hasil karya Mark Postlethwaite dalam buku "Jagdgeschwader 53 'Pik-As' Bf 109 Aces of 1940" karya Chris Goss

Wednesday, June 24, 2020

Kunjungan Friedrich Paulus ke Afrika

Foto ini diambil dari buku "Der Wüstenkrieg in Afrika. 1940-1943" karya Janusz Piekalkiewisz, dan memperlihatkan saat Generalleutnant Friedrich Paulus (kedua dari kanan, Oberquartiermeister I in der Generalstab des Heeres) mendapatkan oleh-oleh pisang bersama batangnya sebelum bersiap-siap untuk menaiki pesawat yang akan membawanya ke Italia untuk bertemu dengan Benito Mussolini. Foto ini diambil di lapangan udara Derna, Libya, pada tanggal 7 Mei 1941. Selama beberapa hari Paulus tinggal di Afrika Utara untuk melihat kondisi pasukan Jerman yang ditempatkan disana, sekaligus berdiskusi dengan Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps). Di periode ini pula Paulus mendapatkan tugas untuk menyiapkan rencana serangan Jerman atas Uni Soviet - dikenal dengan nama Unternehmen Barbarossa - bersama dengan atasannya, Kepala Staff Angkatan Darat Generaloberst Franz Halder. BTW, bapak-bapak botak yang nongtot dalam foto ini adalah Generalmajor Luftwaffe Stefan Fröhlich (Fliegerführer Afrika), yang merupakan perwira Austria pertama yang mendapatkan medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes dalam Perang Dunia II. Dia mengakhiri perang dengan pangkat General der Flieger


 Generalleutnant Friedrich Paulus (kanan, Oberquartiermeister I in der Generalstab des Heeres) bersiap-siap untuk menaiki pesawat yang akan membawanya ke Italia untuk bertemu dengan Benito Mussolini. Foto ini diambil di lapangan udara Derna, Libya, pada tanggal 7 Mei 1941. Selama beberapa hari Paulus tinggal di Afrika Utara untuk melihat kondisi pasukan Jerman yang ditempatkan disana, sekaligus berdiskusi dengan Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps). Di periode ini pula Paulus mendapatkan tugas untuk menyiapkan rencana serangan Jerman atas Uni Soviet - dikenal dengan nama Unternehmen Barbarossa - bersama dengan atasannya, Kepala Staff Angkatan Darat Generaloberst Franz Halder. BTW, paling kiri dalam foto ini adalah Generalmajor Luftwaffe Stefan Fröhlich (Fliegerführer Afrika), sementara perwira di tengah antara Fröhlich dan Paulus tidak ada keterangan namanya, meskipun wajahnya mirip sekali dengan Oberst Eberhard Rodt (nantinya menjadi Komandan 15. Panzergrenadier-Division di medan perang Italia)



Sumber :
https://www.facebook.com/groups/1728158044141689/
https://waralbum.ru/389737/

Tuesday, June 16, 2020

Erwin Rommel dan Anak-Anak Goebbels

Pada bulan September 1942, Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") melakukan kunjungan ke villa keluarga Reichsminister Joseph Goebbels yang terletak di Schwanenwerder, barat-daya Berlin. Kunjungan ini mendapatkan liputan lengkap dari para wartawan Kementerian Propaganda pimpinan Goebbels, sehingga kita masih bisa melihat foto dan videonya sampai saat ini. Rommel tiba di rumah Joseph dan Magda Goebbels pada siang hari, Selasa tanggal 29 September 1942, sementara di hari Kamis tanggal 1 Oktober 1942 dia kemudian bertemu dengan Hitler untuk mendapatkan Marschallstab (Tongkat Marsekal) sebagai pelengkap pangkat Generalfeldmarschall yang disandangnya. Video ini memperlihatkan saat Rommel bermain-main bersama dengan keenam anak Goebbels (Helga Susanne, Hildegard Traudel, Helmut Christian, Holdine Kathrin, Hedwig Johanna, Heidrun Elisabeth), dengan ditemani oleh ibu mereka Magda serta Oberleutnant Alfred-Ingemar Berndt, Ajudan Rommel sekaligus Kepala Propaganda Afrikakorps.





Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=gwjBXhGEDf8
https://www.youtube.com/watch?v=cj6fOIWL8E0

Sunday, June 14, 2020

Major i.G. Joachim Kuhn, Anggota Komplotan 20 Juli 1944

 Major im Generalstab Joachim Kuhn (2 Agustus 1913 - 6 Maret 1994) bergabung dengan Infanterie-Regiment 14 pada bulan Oktober 1932. Dia ikut serta dalam penyerbuan pasukan Jerman ke Polandia (1939), Prancis (1940), dan Uni Soviet (1941). Kuhn dipromosikan menjadi Hauptmann pada bulan Agustus 1940, Major di bulan Januari 1943, dan Major i.G. tanggal 20 April 1943. Dia menghabiskan sebagian masa tugas militernya sebagai perwira staff, termasuk sebagai bawahan Oberstleutnant Claus Graf von Stauffenberg di Generalstab des Heeres. Perkenalannya dengan sang perwira penentang Hitler membuat Kuhn ikut "terseret" ke dalam gerakannya, apalagi setelah dia bertunangan dengan salah seorang sepupu Stauffenberg. Pada tanggal 20 Juli 1944, Kuhn mendapatkan tugas untuk menyediakan salah satu bahan peledak yang nantinya digunakan untuk membom Führerbunker oleh Stauffenberg. Saat usaha percobaan untuk membunuh Hitler tersebut gagal, Kuhn pun ikut disasar. Pada waktu itu dia telah menjadi Kepala Operasi 28. Jäger-Division di Front Timur. Komandan Divisi Generalleutnant Gustav Heistermann von Ziehlberg mendapat perintah dari Berlin untuk segera mengirim Kuhn ke Jerman untuk diadili. Sang Divisionskommandeur kemudian memberitahu Kuhn tentang perintah tersebut. Karena mengetahui bahwa perwiranya cepat atau lambat akan dieksekusi, Heistermann von Ziehlberg memberi Kuhn kesempatan untuk pergi seorang diri ke hutan dan menembak dirinya sendiri sebagai sebuah penebusan atas apa yang telah dilakukannya. Tak dinyana, Kuhn malah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dan kemudian membelot ke pihak Rusia! Heistermann von Ziehlberg lah yang kemudian kena getahnya, karena dia dituduh telah mengabaikan perintah dan membantu pelarian Kuhn, sehingga kemudian ganti diadili lalu dieksekusi! Kuhn sendiri selamat sampai dengan akhir perang, dan kemudian tinggal di kampung halamannya, Berlin, yang pada saat itu telah menjadi bagian dari Jerman Timur, negara satelitnya Uni Soviet. Medali dan penghargaan yang telah diperolehnya: Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse (4 Juli 1940); Kriegsverdienstkreuz II.Klasse und I.Klasse; Verwundetenabzeichen in Schwarz; serta Allgemeines-Sturmabzeichen

Sumber :
Buku "Stauffenbergs Freund. Die tragische Geschichte des Widerstandskämpfers Joachim Kuhn" karya Peter Hoffmann
https://www.gdw-berlin.de/en/recess/biographies/index_of_persons/biographie/view-bio/joachim-kuhn/?no_cache=1

Monday, June 8, 2020

Kavallerieschule Hannover (Sekolah Kavaleri Hannover)

Klip produksi UFA Kulturfilm ini berjudul "Heeres Reit- und Fahrschule Hannover" (biasa disingkat "Kavallerieschule Hannover"), yang merupakan sekolah para perwira kavaleri Jerman di Hannover. Film buatan tahun 1937 ini dibuka oleh pengenalan dari Richard Sahla, atlet berkuda terkenal Jerman yang juga adalah seorang perwira Wehrmacht, yang ditemani oleh kuda putihnya yang sama terkenalnya, Wotan. Adegan selanjutnya memperlihatkan upacara penganugerahan medali kejuaraan untuk atlet-atlet berkuda Jerman, yang juga merupakan instruktur di Kavallerieschule sama seperti Sahla (paling kiri adalah Harald Momm dengan kudanya Baccarat, dan diikuti oleh Ernst Hasse). Adegan-adegan selanjutnya memperlihatkan suasana pelatihan pasukan kavaleri di sekolah tersebut, termasuk latihan melompat palang rintangan, jalan cantik, dan membawa kereta beban. Diperlihatkan pula interaksi dengan penduduk setempat, pemeliharaan kuda-kuda milik sekolah, serta penampakan Kepala Sekolah Oberstleutnant Friedrich Gerhard. Kavallerieschule Hannover sendiri telah berdiri dari sejak tahun 1920, sementara kotanya - Hannover- telah menjadi salah satu pusat pengembangan kuda-kuda kavaleri terbaik Jerman selama 350 tahun. Pada tahun 1937 pusat pelatihan kavaleri Wehrmacht dipindahkan dari Hannover ke Krampnitz, Potsdam, dengan nama baru "Heeres Reit- und Fahrschule und Kavallerieschule Krampnitz" (Sekolah Berkuda, Mengemudi dan Kavaleri Angkatan Darat Krampnitz).

Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=f88BYiTBpeQ
http://www.horsemagazine.com/thm/2018/05/what-made-german-dressage-great-part-one/

Kontingen Berkuda Jerman Juara 'Preis der Nationen'

Dalam acara kompetisi berkuda internasional bergengsi "Preis der Nationen" yang diselenggarakan di Warsawa (Polandia) pada musim panas tahun 1936, kontingen Jerman berhasil merebut juara pertama dengan meraih 16 point, mengungguli Rumania di tempat kedua (18¼ point) dan Polandia di tempat ketiga (20 point), diikuti oleh Prancis dan Latvia. Foto ini diambil pada tanggal 8 Juni 1936 saat penganugerahan trofi kepada tim pemenang (yang seluruhnya merupakan perwira-perwira Wehrmacht dari unit kavaleri!) oleh Presiden Polandia. Sebagai identifikasinya adalah, dari kiri ke kanan: Oberst Bogislav von Studnitz (Atase Militer Jerman di Polandia. pangkat terakhir Generalleutnant), Rittmeister Harald "Harry" Momm (Anggota kontingen Jerman. Pangkat terakhir SS-Hauptsturmführer der Reserve), Rittmeister Marten von Barnekow (Anggota kontingen Jerman. Pangkat terakhir SS-Sturmbannführer der Reserve), Presiden Polandia Ignacy Mościcki, Rittmeister Ernst Hasse (Anggota kontingen Jerman. Pangkat terakhir tidak diketahui), Oberstleutnant Wolfgang Freiherr von Waldenfels (Ketua kontingen Jerman. Pangkat terakhir Generalmajor), dan Oberleutnant Kurt Hasse (Saudara Ernst Hasse yang juga menjadi anggota kontingen Jerman. Pangkat terakhir Oberstleutnant).


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=249725

Friday, June 5, 2020

Jagoan Stuka Hartmut Schairer dan Kameranya

Oberleutnant Hartmut Schairer (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Sturzkampfgeschwader 1) terlihat sedang membersihkan kamera Leica-nya. Jagoan Stuka ini dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 30 Agustus 1941 setelah dia menyelesaikan 150 misi tempur sebagai seorang pilot serang-darat Luftwaffe. Sayangnya, Hauptmann Schairer gugur dalam tugas hampir setahun kemudian - tepatnya pada tanggal 19 Juli 1942 - setelah pesawat Junkers Ju 87 yang dipilotinya jatuh di Staraya Russa, Uni Soviet, dalam misi tempurnya yang ke-562. Gunner kepercayaan yang telah menemaninya dari sejak tahun 1940, Oberfeldwebel Heinz Bevernis, ikut tewas pula bersamanya. Sang penembak senapan mesin kemudian dianugerahi medali Ritterkreuz secara anumerta pada tanggal 19 September 1942, dan tercatat sebagai gunner / operator radio Stuka pertama di seantero Luftwaffe yang mendapatkan kehormatan setinggi itu! BTW, dari jutaan prajurit Jerman yang berangkat menuju medan tempur dalam Perang Dunia II, banyak diantaranya yang membawa serta pula kamera pribadi mereka demi untuk merekam jejak 'Dienstzeit' (pengabdian militer) dalam perang akbar tersebut, sebuah era yang - mereka ketahui dengan pasti - akan menjadi salah satu yang paling terkenal dalam sejarah (dan karenanya mereka tidak mau ketinggalan untuk mengabadikannya!). Foto-foto yang dihasilkan biasanya kemudian dikirimkan ke handai taulan atau teman di kampung halaman dalam bentuk satuan, kartupos atau album. Tak ada pihak lain dalam Perang Dunia II yang melebihi 'kegilaan' tentaranya Hitler dalam hal mendokumentasikan segala sesuatu yang mereka temui di lapangan, sehingga tercatat JUTAAN foto dari masa itu yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di banyak album, kotak ataupun arsip penyimpanan! Kamera yang paling sering dipakai oleh prajurit Jerman adalah yang berformat 127 atau 120 (juga kamera film 35mm yang lebih modern). Benda-benda ini digunakan oleh para "soldat" dengan penuh dedikasi dan akurasi, layaknya seperti saat mereka sedang membidikkan senapan Mauser atau meriam Krupp dalam pertempuran!


Sumber :
Buku "Memoars of a Stuka Pilot" karya Helmut Mahlke

Tuesday, June 2, 2020

Prajurit Afrikakorps Mengenakan Tropenhelm Niederlande

 Seorang anggota Panzer-Regiment 8 / 15.Panzer-Division berfoto di sebuah studio di Jerman dengan mengenakan tropenhelm "Niederlande" (Belanda) pada tanggal 13-14 April 1941, kemungkinan besar sebelum berangkat menuju Afrika Utara untuk bergabung dengan DAK (Deutsches Afrikakorps) pimpinan Generalleutnant Erwin Rommel. Uniknya, penamaan helm tropis jenis ini bukanlah karena dia dipakai oleh militer Belanda sebelumnya, melainkan karena merupakan hasil produksi MOL NV di Breda Belanda, berdasarkan lisensi dari SAPHI (South African Pith Helmet Industries of Pretoria), untuk kepentingan tentara Afrika Selatan. Sayangnya, sebelum sempat dikapalkan ke benua Afrika, negara penjajah Indonesia tersebut keburu diduduki oleh pasukan Jerman pada tahun 1940 sehingga helm-helm yang masih fresh belum dipakai kemudian dibagikan kepada para anggota Panzer-Regiment 8, yang nantinya dikirimkan ke Afrika Utara pada bulan Mei 1941, dengan sedikit modifikasi tambahan panji Hoheitsabzeichen dan shield berbahan metal di bagian samping. Tentara Jerman memakainya karena pada waktu itu mereka masih kekurangan stok tropenhelm untuk dipakai oleh prajurit-prajuritnya yang ditugaskan di medan perang Afrika yang beriklim panas, sehingga dipakailah apa yang tersedia meskipun penggunaannya pun masih terbatas. Pada awalnya diduga hanya beberapa ratus saja helm jenis ini yang dibagikan, tapi kemudian diketahui bahwa jumlahnya mencapai 2000-3000 buah! Perkiraan ini didasarkan pada jumlah unit yang mengenakan tropenhelm "Niederlande" di Afrika Utara bulan Mei 1941 yang merupakan bagian dari 15. Panzer-Division: Panzer-Regiment 8 (kompi ke-2, 5, 6, dan kompi Stab II.Abteilung), Artillerie-Regiment 33, Aufklärungs-Abteilung 33, dan Panzerjäger-Abteilung 33. Ketika pasukan Rommel berhasil merebut Tobruk pada bulan Juni 1942, lebih banyak lagi helm "polo" Afrika Selatan yang berhasil dirampas. Yang membedakan adalah: mereka bukanlah buatan Belanda melainkan buatan Inggris, dan jumlahnya pun tidak sebanyak hasil rampasan pada tahun 1940. Untuk membedakan tropenhelm buatan Belanda dan Inggris cukup melihat bagian dalamnya, dimana yang buatan Belanda tertera stempel "MOL NV" dan "HOLLAND".


Sumber :
http://afrikakorps.forumcrea.com/viewtopic.php?id=1880

Monday, June 1, 2020

Tank Tiger di Front Leningrad 1942

Para prajurit infanteri Wehrmacht berjalan melewati sebuah Panzerkampfwagen VI Tiger Ausf.H1 milik schwere Panzer-Abteilung 502 di Leningrad, Uni Soviet, awal musim gugur tahun 1942. Unit tank berat Heer ini tiba di sektor Leningrad pada akhir bulan Agustus 1942, dan untuk pertama kalinya mencicipi ganasnya pertempuran pada tanggal 16 September 1942 di selatan Danau Ladoga (peristiwa ini juga tercatat dalam sejarah sebagai aksi pertama tank Tiger dalam kancah Perang Dunia II). Pada tanggal 22 September, setelah menyeberangi sebuah pematang, sebuah Tiger terjebak dalam lumpur. Karena sulitnya medan, ditambah dengan tembakan gencar dari tentara Rusia, tank berat tersebut tak dapat ditarik keluar meskipun telah dicoba berkali-kali. Untuk mencegahnya jatuh ke tangan musuh, dengan sangat terpaksa monster satu ini diledakkan oleh pasukan Jerman pada tanggal 25 November 1942, sehingga secara resmi menjadi Tiger pertama yang menjadi korban perang. Beberapa lagi tank Tiger dan Panzer III tiba di markas schwere Panzer-Abteilung 502 pada tanggal 25 September, yang kemudian digunakan untuk melengkapi kompi pertama unit tersebut. Kloter Tiger selanjutnya yang datang di bulan Februari 1943 nantinya digunakan untuk mengganti tank-tank yang telah hancur atau rusak.






Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/502nd_Heavy_Panzer_Battalion
https://reibert.info/threads/sd-kfz-181-pz-kpfw-vi-tiger.14285/page-43

Foto Grup schwere Panzer-Abteilung

 Para anggota sebuah kompi tank berat Jerman berpose bersama dengan dua buah tunggangan andalan mereka, Panzerkampfwagen VI Tiger (8,8 cm L/56) Ausf.E (Sd.Kfz. 181). Detasemen Tank Berat Jerman (schwere Panzerabteilungen), adalah unit tank elite dalam Perang Dunia II seukuran batalyon yang dilengkapi dengan Tiger I, dan kemudian Tiger II. Pada awalnya unit semacam ini ditujukan untuk bertempur secara ofensif dalam operasi penembusan pertahanan musuh, tapi kemudian situasi perang yang makin memburuk memaksa mereka digunakan untuk tujuan defensif dengan menyediakan tembakan pendukung serta ujung tombak dalam serangan balik ke wilayah-wilayah dimana pasukan lapis baja musuh berhasil menembus masuk pertahanan Jerman. Karenanya dalam beberapa kesempatan mereka kadang direorganisasi menjadi Kampfgruppen (Grup-Grup Tempur) yang hanya digunakan sementara dan sesuai kebutuhan saja sebelum dikembalikan kembali ke unit asal mereka


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/09/foto-panzerkampfwagen-vi-tiger.html

Erwin Rommel Menginspeksi Tank Tiger

Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") menginspeksi salah satu Tiger keluaran pertama Jerman dengan nomor sasis 250001, kemungkinan di Pusat Pengembangan Senjata Wehrmacht di Kummersdorf pada bulan September-Oktober 1942. Pelindung roda rantai depannya masih bersifat tambalan, sementara bagian belenggu penariknya sendiri bukan dari tipe standar. Selain dari ukurannya yang bongsor, Rommel terutama sekali mengagumi lampu sorot Bosch yang dipasang di bagian depan (begitu berharganya lampu ini, sehingga para awak Tiger biasa mencopot dan menyimpannya terlebih dahulu sebelum berangkat menuju medan tempur!). Tiga Tiger pertama tiba di medan perang Afrika Utara pada tanggal 23 November 1942, dan untuk pertama kalinya beraksi dalam pertempuran di Tunisia pada tanggal 1 s/d 3 Desember 1942 saat mereka - dengan dibantu oleh pesawat-pesawat Stuka dan "gerombolan" Panzer III - menghancurkan 134 tank Sekutu di timur Tebourba! BTW, pada saat pertama keluar dari pabrik, tank berat satu ini mempunyai nama resmi "Panzerkampfwagen VI Ausführung H (Henschel)" (Panzer VI versi H), biasa disingkat "PzKpfw VI Ausf.H", sementara bagian suplai senjata biasa menyebutnya sebagai "Sonderkraftfahrzeug 182" (Kendaraan Fungsi Khusus 182) atau "Sd.Kfz.182". Tapi pada bulan Maret 1943 penamaannya dirubah menjadi PzKpfw VI Ausf.E atau Sd.Kfz.181.


 Lampu sorot Bosch



Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Tiger_I
https://forum.warthunder.com/index.php?/topic/149313-tiger-headlight-34bug34/
https://www.reddit.com/r/TankPorn/comments/288gt0/erwin_rommel_inspects_one_of_first_ausf_e_tiger/