Showing posts with label Langka dan Tidak Biasa. Show all posts
Showing posts with label Langka dan Tidak Biasa. Show all posts

Sunday, March 19, 2023

Ritterkreuzträger Alfred Greim dari Grossdeutschland

 
Oberst Alfred Greim (8 Agustus 1902 - 19 Mei 1943) dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 4 Juni 1942 sebagai Oberstleutnant dan Kommandeur II.Bataillon / Infanterie-Regiment "Großdeutschland" (motorisiert). Medali bergengsi tersebut diberikan sebagai penghargaan atas aksi defensif batalyonnya dalam pertempuran melawan Tentara Merah di pinggir barat sungai Upa, Tula, tanggal 13 Desember 1941. Dengan hanya dibantu oleh beberapa buah meriam dari Artillerie-Abteilung 400, Batalyon Kedua Resimen Grossdeutschland mampu menahan berkali-kali upaya terobosan pasukan Soviet di sektornya yang berjumlah lebih besar, hingga akhirnya musuh menyerah dan mundur kembali. Greim sendiri nantinya meninggal dunia pada tahun 1943 selama dalam perawatan di rumah sakit di tanah air, bukan karena luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran melainkan karena demam ruam akibat dari infeksi oleh serangga di padang rumput Front Timur! BTW, dalam buku "God, Honor, Fatherland: A Photo History of Panzergrenadier Division “Grossdeutschland” karya Thomas McGuirl dan Remy Spezzano (halaman 27), ada sedikit keterangan menarik mengenai foto ini (yang merupakan koleksi Bundesarchiv Jerman): Di sakunya persis di bawah lambang elang, tergantung salah satu medali terpenting NSDAP, yaitu Blutorden (Blood Order), yang hanya dikenakan oleh sekelompok orang yang terlibat kudeta gagal partai Nazi di Münich tahun 1923. Uniknya, Greim sendiri bukanlah anggota awal partai tersebut (karena ada larangan keras anggota militer untuk ikut campur dalam urusan politik). Blutorden untuk Greim diberikan karena pada saat berlangsungnya kudeta tanggal 9 November, ia masih menjadi kadet muda sekolah infanteri Reichswehr di Münich. Komandan sekolah tersebut, yang bersimpati pada Hitler, memerintahkan para kadet untuk keluar membawa senjata demi mendukung usaha kudeta. Ironisnya, pemberontakan keburu dipadamkan sebelum para tentara muda ini ikut ambil bagian. Petinggi Reichswehr di Berlin kemudian memberikan hukuman dengan memindahkan sekolah infanteri ke Dresden, sementara para kadet dan perwiranya dijuluki sebagai "Putschists" (tukang kudeta). Kondisi tidak menguntungkan ini berbalik saat Hitler naik ke tampuk pemerintahan pada tahun 1933, dan para mantan didikan sekolah infanteri ini mendapatkan kehormatan untuk dianugerahi Blutorden - sama seperti veteran-veteran kudeta 9 November 1923 lainnya - meskipun notabene mereka tidak terlibat langsung dalam peristiwa tersebut! Yang kemudian terjadi adalah, keadaan tidak biasa saat ratusan prajurit militer - yang sama sekali bukan anggota partai - berhak untuk mengenakan medali langka Nazi yang hanya dikenakan oleh segelintir anggota awal partai tersebut!


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=52168&hilit=alfred+greim

Thursday, January 5, 2023

Kurt Oppenländer: Jenderal Tukang Mabok


Generalleutnant Kurt Oppenländer (11 Februari 1892 - 17 Maret 1947). Dia digadang-gadang sebagai salah satu komandan lapangan terbaik yang dimiliki oleh Jerman dalam Perang Dunia II. Di tahun 1942 dia telah mendapatkan medali Ritterkreuz, Deutsches Kreuz in Gold serta Anerkennungsurkunde sebagai bukti kepiawaiannya dalam memimpin pasukan serta keberaniannya dalam menghadapi musuh. Kalau saja dia meneruskan karir militernya yang gemilang sebagai komandan di front pertempuran, bisa jadi dia akan mendapatkan lebih banyak lagi medali dan penghargaan. Tapi semua itu tidak terjadi, dan dia harus menghabiskan sisa perang sebagai perwira garis belakang yang "tidak bonafid". Satu-satunya alasannya adalah ini: kebiasaan MABOK. Pada bulan Oktober 1942 atasannya, General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach, mencopotnya dari jabatannya sebagai Komandan 305. Infanterie-Division karena menemukannya sedang mabok berat saat melakukan inspeksi mendadak ke markas divisi tersebut di Stalingrad! Karena Oppenländer adalah seorang Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) - yang otomatis membuatnya berstatus sebagai pahlawan perang - maka dia tidak diajukan ke mahkamah militer melainkan hanya dipulangkan ke kampung halamannya untuk mendapat evaluasi akan tindakannya yang tak patut tersebut. Diketahui bahwa luka yang didapatnya di masa Perang Dunia Pertama membuat Oppenländer menderita ketergantungan pada obat bius dan alkohol. Setelah menjalani rehabilitasi di Reservelazarett Freiburg, dia mendapat kepercayaan untuk menjadi Komandan 198. Infanterie-Division pada bulan Juni 1944... hanya untuk dipecat dua bulan kemudian dengan alasan yang sama! Oppenländer kemudian dikirim kembali ke Reservelazarett, dan pada bulan November 1944 dia membuat onar di sebuah acara rumah sakit saat melecehkan istri-istri prajurit yang berkunjung, dalam kondisi mabuk berat. Kali ini kelakuannya sudah tidak bisa ditolerir lagi, karena sang jenderal dianggap sudah melakukan "Wehrkraftzersetzung" alias tindakan yang merugikan kepentingan militer Jerman di masa perang. Atas perintah langsung dari Kepala Oberkommando der Wehrmacht Wilhelm Keitel, Oppenländer dihukum kurungan di rumahnya sambil menunggu keputusan pemecatannya dari Angkatan Bersenjata secara tidak hormat. Perang Dunia II keburu berakhir sebelum keputusan tersebut dikeluarkan, sementara Kurt Oppenländer sendiri kemudian ditangkap oleh pasukan Amerika pada tahun 1945 dan tutup usia dua tahun kemudian dalam status masih sebagai tawanan perang. Sebuah sumber menyebutkan bahwa dia meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh kebiasaannya minum alkohol...

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Kurt_Oppenl%C3%A4nder
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=258695
https://www.tracesofwar.com/persons/12991/Oppenl%C3%A4nder-Kurt-Generalleutnant.htm

Tuesday, September 20, 2022

Upacara Penguburan Komandan Resimen Gustav-Adolf Riebel

Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Dieck dari Propaganda-Kompanie 694 pada akhir bulan Agustus 1942, dan memperlihatkan suasana pemakaman Oberst Gustav-Adolf Riebel, Kommandeur Panzer-Regiment 24 / 24.Panzer-Division. Regimentskommandeur Riebel terbunuh oleh ledakan peluru artileri pada tanggal 23 Agustus 1942, saat sedang memimpin resimennya dalam gerak maju menuju kota Stalingrad. Jasadnya kemudian dikuburkan di luar wilayah Krasnoarmeyskiy, yang terletak di pinggiran sungai Volga, selatan Stalingrad. Secara anumerta, Oberst Riebel dipromosikan menjadi Generalmajor, efektif per tanggal 1 Agustus 1942. Sebagai pemimpin upacara dalam pemakaman ini adalah Komandan 24. Panzer-Division, Generalmajor Bruno Ritter von Hauenschild. Uniknya, dalam foto ini sang Divisionskommandeur mengenakan seragam perwira biasa dan bukannya jenderal, juga tanpa kehadiran medali (kecuali Ritterkreuz) dan tanpa dilengkapi schulterklappen (tanda pangkat bahu)! Hal ini kemungkinan besar adalah untuk berjaga-jaga dari ancaman sniper Soviet yang menjadi momok bagi pasukan Jerman di Front Timur.



Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=154141&start=15

Thursday, August 18, 2022

Penyematan Medali era Nazi oleh Anggota Bundeswehr

 
Per-tanggal 1 April 1958, para anggota veteran Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman Barat) - yang baru dibentuk tiga tahun sebelumnya - diperbolehkan untuk mengenakan medali era Perang Dunia II, meskipun hanya dalam bentuk feldspange (baris medali) serta telah dihilangkan segala simbol swastika yang terdapat di dalamnya. Medali dalam ukuran yang asli cuma terbatas dipakai di acara-acara tertentu saja, dan itupun harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari komandan divisi atau Kementerian Pertahanan. Foto ini diambil di hari pertama pemberlakuan peraturan tersebut, dan memperlihatkan seorang anggota Bundesluftwaffe (Angkatan Udara Jerman Barat) berpangkat Hauptmann (Kapten) yang sedang memasangkan feldspange 1957er (baris medali era Perang Dunia II yang telah di-Denazifikasi) di seragamnya. Baris atas adalah Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes; baris tengah adalah, dari kiri ke kanan: Eisernes Kreuz I.Klasse, Eisernes Kreuz II.Klasse, Frontflugspange für Kampfflieger, Ärmelstreifen "KRETA", dan Flugzeugführerabzeichen; baris bawah dari kiri ke kanan: Fallschirmschützenabzeichen dan sebuah medali asing (kemungkinan Vapaudenristin Ritarikunta Finlandia). Nama dari orang dalam foto ini adalah Egon Delica, salah satu anggota pasukan parasut Jerman yang dianugerahi medali Ritterkreuz langsung oleh Hitler setelah berprestasi dalam penaklukan Benteng Eben Emael di tahun 1940.

Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=9&t=153613&start=645

Sunday, August 7, 2022

Tentara Jerman Memeriksa Puing-Puing Pesawat Soviet


Seorang anggota Feldgendarmerie (Polisi Lapangan) dari Panzergrenadier-Division "Großdeutschland" bersama dengan beberapa orang prajurit Rumania memeriksa sisa-sisa pesawat Soviet yang tak lama sebelumnya ditembak jatuh di wilayah Târgu Frumos, Rumania, antara tanggal 2-8 Mei 1944. Uniknya, dari bentuk rongsokannya diketahui bahwa pesawat tersebut bukanlah buatan Rusia melainkan dari jenis Bell P-39 Airacobra buatan Amerika yang dihibahkan ke Angkatan Udara Uni Soviet sebagai bagian dari perjanjian Land-Lease. Yang lebih asyik lagi, si anggota Feldgendarmerie memakai ringkragen (gorget) Wehrmacht dengan tambahan insignia "GD" di atasnya! Dari buku "Uniforms and Insignia of the Grossdeutschland Division" karya Scott Pritchett diketahui bahwa hanya ada dua contoh dari ringkragen model ini yang diketahui: satu relic yang didapatkan di wilayah Rzhev (dan diperlihatkan di buku tersebut), dan satu lagi yang masih dalam kondisi bagus dan kini menjadi milik salah satu kolektor di Eropa. Foto ini sendiri dibuat oleh Theodor Scheerer dari KBZ HGr. Südukraine (Kriegsberichter-Zug Heeresgruppe Südukraine).

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/05/album-foto-feldgendarmerie-polisi.html

Tuesday, July 19, 2022

Panzer-Abteilung z.b.V.66


Personil 1.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V.66 berpose di depan Panzerkampfwagen IV Ausf.G milik mereka, musim panas 1942. Zur Besonderen Verwendung (z.b.V.) biasa diterjemahkan sebagai "untuk tujuan khusus". Rencana invasi Pulau Malta yang dinamakan sebagai Unternehmen Herkules membutuhkan unit panzer special pake telor. Untuk mengakomodasinya maka dibentuklah sebuah kompi tank baru yang dibekali dengan Panzer IV Ausf.G. Kompi ini dinamakan sebagai Panzer-Kompanie z.b.V.66 dan dikomandani oleh Oberleutnant Hans-Günther Bethke, seorang Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Tak dinyana, rencana invasi tersebut dibatalkan oleh Hitler sehingga kompi yang sudah kadung dibentuk kemudian direorganisasi ulang menjadi setaraf batalyon yang dilengkapi dengan dua kompi. Kompi pertama kemudian ditugaskan bersama dengan Heeresgruppe Nord, sementara kompi kedua ditempatkan di garis belakang Heeresgruppe Mitte. Karena ruang operasinya telah pindah dari wilayah Mediterania ke Front Timur, maka para personilnya pun mengganti seragam tropis mereka menjadi seragam hitam Panzertruppen biasa.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/10/album-foto-panzer-iv.html

Friday, May 27, 2022

Prajurit Jerman Menangkap Sniper Rusia


Uni Soviet, musim panas tahun 1942. Dalam caption aslinya, disebutkan bahwa prajurit-prajurit Waffen-SS ini berhasil menangkap hidup-hidup seorang sniper Rusia, dan dengan marah menyeretnya keluar dari lubang persembunyiannya (salah seorang diantara mereka bahkan memukulkan ujung senapan pada sang sniper sial!). Kecil kemungkinan bahwa sniper tersebut akan selamat - atau setidaknya dikirim ke kamp tawanan - karena nasib sniper dimana-mana kalau tertangkap biasanya lebih buruk dari nasib prajurit biasa, apalagi kalau ditangkapnya oleh pasukan SS yang terkenal brutal, maka itu adalah benar-benar skenario terburuk yang bisa terjadi! BTW, prajurit di sebelah kiri mengenakan jaket Telogreika/Vatnik Soviet hasil rampasan. Jaket hangat yang terdiri atas lapisan kapuk dan wol ini biasa dikenakan oleh tentara-tentara Rusia saat musim dingin tiba, meskipun tidak diketahui alasannya kenapa si prajurit Jerman justru mengenakannya pada saat musim panas!

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/10/album-foto-tawanan-perang-sekutu-dan.html

Thursday, May 26, 2022

Rommel Mendorong Mobil


 
Foto propaganda ini diambil oleh Kriegsberichter (Wartawan Perang) Klemens Valtingojer, dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 9 Februari 1942. Disini diperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") yang sedang sibuk membantu mendorong mobil Horch 901 Typ 40 Kfz.21 miliknya yang terperangkap di pasir gurun. Bundesarchiv mengidentifikasi orang di belakang Rommel sebagai Oberstleutnant i.G. Siegfried Westphal, Ia alias Kepala Operasi Panzerarmee "Afrika". Saya haqul yakin bahwa identifikasi ini keliru, karena wajahnya 100% lebih mirip Major Friedrich-Wilhelm von Mellenthin, yang merupakan Ic alias Kepala Intelijen Panzerarmee "Afrika". Bundesarchiv (Arsip Nasional Jerman) memang banyak sekali membuat kekeliruan dalam hal identifikasi orang serta keterangan waktu dari koleksi foto-fotonya. Sebagai contoh adalah foto ini sendiri, yang disebutkan diambil pada bulan Januari 1941, padahal di bulan tersebut Rommel belum lagi tiba di Afrika! Biasanya, ketika mendapati perbedaan keterangan tanggal, tempat atau identifikasi dari orang dalam foto, saya lebih mempercayai caption dari Bayerische Staasbibliothek (Arsip Bavaria) daripada Bundesarchiv, karena hampir selalu keterangannya lebih akurat.




Sumber :
https://alchetron.com/Siegfried-Westphal
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_183-B20800,_Nordafrika,_Rommel_und_Westphal_schieben_Auto.jpg

Friday, May 13, 2022

Erich Raeder Menginspeksi AL Italia di Krim

Foto yang diambil pada tanggal 30 September 1942 ini memperlihatkan Großadmiral Erich Raeder (tengah, Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) yang sedang menginspeksi para anggota Regia Marina (Angkatan Laut Italia) di pangkalan Angkatan Laut Sebastopol di Krim, Front Timur. Gabungan pasukan Jerman, Italia dan Rumania - di bawah pimpinan Marsekal Erich von Manstein - baru saja merebut semenanjung Krim dan benteng Sebastopol yang strategis dari pihak Rusia. Sebagai identifikasi para pengiring Raeder adalah, dari kiri ke kanan: perwira tak dikenal (kemungkinan ajudan Großadmiral Raeder), Konteradmiral Hellmuth Heye (Kommandierender Admiral Schwarzes Meer), Admiral Karlgeorg Schuster (Oberbefehlshaber Marinegruppenkommando Süd), dan Konteradmiral Hans-Hermann Graf von Schweinitz und Krain Freiherr von Kauder (Kommandant Seeverteidigung Krim). BTW, selain dari Raeder dan ajudannya, semua orang yang ada dalam foto ini mengenakan seragam tropis berwarna cerah. Khusus untuk Jerman, tropenuniform (seragam tropis) tidak hanya dikenakan oleh anggota Afrikakorps saja, tapi juga personil-personil lainnya yang bertugas di wilayah panas seperti Krim, Kaukasus, Balkan dan Mediterania.

Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=235624&hilit=wilhelm+R%C3%B6der

Sunday, May 8, 2022

Markas Panzer-Abteilung z.b.V. 40 di Denmark


Foto yang diambil bulan April 1940 ini memperlihatkan sejumlah Panzerkampfwagen I Ausf. B milik  1.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40 yang diparkir di depan pintu masuk Hotel Jørgensens di Horsens, Denmark, yang dijadikan sebagai markas dari batalyon panzer tersebut selama masa tinggalnya di Denmark. Hotel Jørgensens sendiri beralamat di jalan Søndergade no. 17, dan sampai sekarang masih beroperasi.

Panzer-Abteilung zur besonderen Verwendung 40 (Panzer-Abteilung z.b.V. 40), yang diterjemahkan sebagai "Batalyon Tank untuk Tujuan Khusus", dibentuk pertama kali pada tanggal 8 Maret 1940 dan dibentuk special pake telor untuk invasi Jerman ke Denmark dan Norwegia yang berlangsung sebulan setelahnya. Unit ini sebagian besar diisi oleh tank-tank ringan dari jenis Panzer I dan II, yang disebar di tiga kompi (berkekuatan masing-masing tiga peleton) serta satu seksi markas. Pada tanggal 9 April 1940 Panzer-Abteilung z.b.V. 40 berkekuatan 72 tank, yang terdiri dari 42 Panzer I, 21 Panzer III, 6 Panzerbefehlswagen I, dan 3 Neubaufahrzeug Typ B. Pada saat invasi dimulai, kompi pertama dan kedua dikirim ke Denmark melalui jalan darat, sementara kompi ketiga diberangkatkan ke Norwegia dengan menumpang kapal transport Urundi dan Antaris H. Pada tanggal 10 April 1940 Antaris H ditenggelamkan oleh kapal selam Inggris bersama dengan 15 tank beserta awaknya. Hanya dua tank yang selamat tiba di tujuan. Pasukan Jerman di Norwegia kemudian mendapat tambahan balabantuan dari kompi pertama dan kedua Panzer-Abteilung z.b.V. 40, yang berangkat dari Denmark tanggal 20 April dan tiba empat hari kemudian.






Sumber :
https://477768.livejournal.com/5996713.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Panzer-Abteilung_40
https://www.reddit.com/r/wwiipics/comments/k5lpr8/panzer_i_ausf_bs_of_panzerabteilung_40_at_the/
https://waralbum.ru/357345/

Perwira SS dan Polizei di Sekeliling Tatra 87

Foto ini diambil di Calais, wilayah pendudukan Prancis, pada akhir tahun 1940, dan berasal dari album foto milik seorang anggota 1.Kompanie / Feuerschutzpolizei-Regiment 1 "Sachsen" (Kompi Pertama Resimen Polisi Pemadam Kebakaran 1 "Sachsen"). Disini diperlihatkan sebuah mobil Tatra 87 yang dikerubungi oleh para perwira SS dan Polizei. Memakai Führermantel ketiga dari kiri adalah SS-Brigadeführer Ludolf von Alvensleben, jenderal SS yang seusai perang dituduh bertanggungjawab atas kematian ribuan orang rakyat Polandia. Tatra 87 sendiri adalah mobil produksi Cekoslowakia yang terbilang kendaraan revolusioner pada masanya. Mobil yang mempunyai tiga lampu depan ini menjadi salah satu yang tercepat di golongannya, tapi juga yang teririt dalam masalah konsumsi bahan bakar. Ini sebagian besar diraih berkat bodinya yang aerodinamis, hasil rancangan orang yang sama yang merancang kerangka balon raksasa Zeppelin. Dari sejak kemunculan pertamanya, Tatra 87 telah menarik minat banyak begitu orang, dan beberapa fiturnya terbilang sangat maju di zamannya sehingga kemudian ditiru oleh mobil-mobil di masa depan, termasuk Porsche dan Volkswagen. Orang-orang terkenal yang pernah memiliki mobil ini diantaranya adalah si "Rubah Gurun" Erwin Rommel, perancang pesawat Jerman Ernst Heinkel, Marsekal Soviet Andrey Yeryomenko, Raja Farouk I dari Mesir, dan pembawa acara Amerika terkenal Jay Leno.

Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=38&t=228163&p=2075127&hilit=hans+rumpf#p2075127
https://www.forum-der-wehrmacht.de/index.php?user-post-list/22919-siegerland/

Monday, May 2, 2022

Gebirgsmarine di Narvik 1940

 
Foto ini pertama kali nongol dalam buku "Narvik im Bild" terbitan tahun 1941 karya Gerd Böttgers, dan memperlihatkan seorang Gebirgsmarine berjanggut tipis yang ikut serta dalam pertempuran di Narvik (Norwegia) tahun 1940. Tellermütze terpasang di kepalanya, sementara stielhandgranate M24 "Potato-Masher" terselip di pinggangnya. Uniknya, dia mengenakan seragam militer M34 Norwegia lengkap dengan Colt-rig tempat menyimpan magasin Kongsberg Colt 1911 yang juga merupakan produksi Norwegia! Gebirgsmarine sendiri sebenarnya adalah para pelaut Kriegsmarine yang kapalnya ditenggelamkan di sekitar kota pelabuhan Narvik, sehingga memaksa mereka bertempur di darat bersama-sama dengan Gebirgsjäger (Pasukan Gunung) dan Fallschirmjäger (Pasukan Terjun Payung). Di tengah situasi pertempuran yang kacau-balau dan ketiadaan pasokan senjata serta perlengkapan, para "pasukan laut" ini mau tidak mau dipaksa untuk menggunakan peralatan milik Angkatan Barsenjata Norwegia yang tersimpan di depot Elvegardsmoen yang telah berpindah tangan ke pihak Jerman dari sejak tanggal 9 April 1940. Karenanya, banyak foto di saat itu yang memperlihatkan pasukan Jerman (terutama Gebirgsmarine) yang mengenakan pakaian serta perlengkapan perang Norwegia, termasuk senapan Krag-Jörgensen serta sepatu tempur militærstøve.

Sumber :
Narvik im Bild

Wednesday, April 13, 2022

U-553 Kembali ke St. Nazaire

Saat U-553 kembali ke pangkalannya di St. Nazaire (Prancis) dari patrolinya yang kedua pada tanggal 19 Juli 1941, u-boat satu ini tak hanya datang dengan membawa dua buah panji kemenangan, tapi juga periskop dalam kondisi yang rusak berat! Di malam tanggal 11-12 Juni 1941, setelah lima hari berada di samudera, kapten kapal tersebut yaitu Kapitänleutnan Karl Thurmann (4 September 1909 - 20 Januari 1943) memergoki beberapa kapal kargo Sekutu di utara kepulauan Azores yang terpisah dari konvoy OG-64, yang sedang dalam perjalanan ke arah barat. Tidak banyak buang waktu, pada pukul 01:22 dinihari U-553 mentorpedo kapal "Susan Maersk" (2.355 ton). Karena kondisi gelap dan begitu cepatnya kapal uap Inggris tersebut tenggelam, maka hanya hitungan kasar tonase dari korbannya yang bisa dicantumkan di panji kemenangan, dan itupun masih salah pula! Pada pukul 15:05 giliran kapal tanker berbendera Norwegia "Ranella" (5.590 ton) yang diserang oleh U-553. Sebuah torpedo mengenai kapal tersebut, tapi tidak membuatnya nyuksruk ke dasar lautan. Sebuah tembakan dilepaskan sekali lagi pada pukul 15:36, hanya saja torpedonya gagal meledak. Frustokat, Kapitänleutnant Thurmann memerintahkan agar U-553 melintas di bawah haluan "Ranella", yang sekarang dalam kondisi berhenti karena mesinnya rusak. Sayangnya, periskop U-553 belum sepenuhnya diturunkan sehingga mengenai bagian bawah dari kapal korbannya. Akibatnya, alat pengintip andalan u-boat tersebut menyon ke arah belakang sepanjang dua meter. Akhirnya, pada pukul 16:35 sore hari, torpedo ketiga dilepaskan yang mengenai "Ranella" dan membuatnya terbelah dua. Kontolnya eh konyolnya, kapal tersebut masih ogah untuk tenggelam! Dibutuhkan rentetan 100 tembakan peluru dari meriam geladak U-553 yang akhirnya berhasil menenggelamkan dua bagian dari "Ranella". BTW, 29 orang awak kapal Norwegia tersebut sebelumnya telah meninggalkan kapal dengan menggunakan perahu penyelamat dan mencapai Azores 12 hari kemudian. Semua keterangan ini didapatkan dari buku "Die U-Boot Fahrer - Die Boote, die Besatzungen und ihr Admiral" karya Lothar-Günther Buchheim halaman 160-161.

Sumber :
Majalah "U-Boot Im Focus" edisi no.2 - 2007

Sunday, April 3, 2022

Prajurit Heer Memakai Feldmütze M34

Proses untuk memperbaharui pakaian serta perlengkapan perang Heer (Angkatan Darat Jerman) sebenarnya telah dimulai dari sejak tahun 1930, tiga tahun sebelum Hitler naik ke tampuk kekuasaan, meskipun skalanya masih belum masif dan sebagian besar dilakukan secara sembunyi-sembunyi dikarenakan adanya pembatasan Perjanjian Versailles yang telah diterapkan dari tahun 1919. Foto ini memperlihatkan penampakan feldmütze (topi lapangan) khusus untuk prajurit dan bintara yang mulai dibagikan dari bulan Maret 1934. Satu bulan sebelumnya diberlakukan peraturan baru yang mewajibkan penggunaan "hoheitsabzeichen" (lambang negara) berbentuk elang yang memegang swastika, yang dipakai di bagian dada kanan, topi/helm serta kepala ikat pinggang. Tentu saja pemakaiannya tidak langsung merata ke semua unit Angkatan Darat, seperti tampak dalam foto ini dimana hanya bintara di sebelah kanan yang mengenakan "Reichsadler", sementara prajurit-prajurit lainnya masih tetap polos dan belum mengenal dosa (aseek).

Sumber ;
Buku "Deutsche Uniformen 1919-1945" karya Ricardo Recio Cardona

Legion Freies Arabien

Foto propaganda hasil jepretan Kriegsberichter Schlickum dari Propaganda-Kompanie 690 ini memperlihatkan tiga orang anggota Legion Freies Arabien - salah seorang di antaranya berkulit hitam - yang sedang bersantai di sebuah tempat di Yunani, tanggal 23 September 1943. Si hitam nampaknya sedang bercanda sambil berakrobat di hadapan teman-temannya, yang terbukti dari kursi "maut" yang ia duduki, yang berada di atas kereta yang ditarik oleh dua ekor keledai!

Ketika Perang Dunia II berkobar, sejumlah tokoh nasionalis Arab berpaling pada Jerman Nazi untuk memperoleh bantuan guna membebaskan negeri mereka dari kekuasaan Inggris serta mencegah pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina. Demi mencapai cita-citanya itu, mereka juga meminta bantuan Hitler untuk membentuk dan mempersenjatai sebuah tentara pembebasan Arab yang akan berjuang bersama-sama pasukan Poros.

Tokoh Arab yang memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertempur di bawah komando kaum Nazi adalah Mufti Besar Yerusalem, Amin al-Husayni (Huseini). Pada tahun 1942, beberapa bulan setelah kedatangannya di Jerman, dengan seizin Hitler dia mulai membentuk apa yang dinamakannya sebagai Al-Mufraza al-Arabia al-Hura. Anggotanya direkrut dari antara para pelajar Arab yang berada di Jerman, para tawanan perang Arab yang ditangkap saat bertugas dengan tentara Sekutu, dan para pelarian yang mengikutinya ke Jerman. Mereka mengenakan seragam standar Wehrmacht yang disulam dengan panji bertuliskan "Freies Arabien" (Arab Merdeka).

Legiun Arab ini dihimpun di bawah komando Deutsche-Arabische Lehrabteilung. Sebagian di antara mereka dikirimkan ke Rusia Selatan untuk membantu Hitler merebut ladang-ladang minyak Irak melalui Kaukasus. Yang lainnya ditugaskan di bawah Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang memimpin Afrikakorps untuk merebut Timur Tengah lewat Mesir. Mereka terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Merah Soviet maupun Inggris, menderita korban besar, dan gagal memenuhi ambisi Sang Mufti untuk menjadi pasukan pelopor pembebasan bangsa Arab dari tangan tirani asing.

Pada bulan Mei 1943, setelah kekalahan pihak Poros di Tunisia dan penarikan tentara Jerman dari Kaukasus, OKW memerintahkan agar sisa-sisa sukarelawan Arab dari Deutsche-Arabische Lehrabteilung, yang sebagian besar terdiri atas orang Maroko, dihimpun ke dalam sebuah unit baru: Deutsche-Arabische Infanterie Bataillon 845.

Kader batalyon tersebut disusun di kamp pelatihan Döllersheim yang berada di utara Linz, Austria. Pada awalnya, batalyon Arab itu terdiri atas empat kompi. Sekalipun dibentuk sebagai sebuah batalyon infanteri, tetapi salah satu kompinya merupakan sebuah unit pasukan payung! Batalyon itu sendiri terutama dilatih dalam taktik-taktik perang gerilya.

Pada bulan November 1943, setelah menyelesaikan pelatihannya, batalyon Arab tersebut dikirimkan ke Yunani. Tugas awal mereka adalah menjaga jalur kereta api yang vital di sebelah utara Salonika. Batalyon itu berada di daerah di dekat Laut Aegea ini hingga musim semi 1944, dimana mereka kemudian dipindahkan ke Pelopennesus. Disana mereka ditugaskan sebagai satuan pengamanan di bawah komando Divisi Perbentengan Jerman ke-41.

Di antara unit-unit Jerman yang bertugas di Yunani terdapat sebuah kesatuan yang ganjil. Di antaranya adalah unit-unit hukuman Angkatan Darat. Banyak di antara anggotanya adalah bekas tahanan politik yang anti-Nazi, yang direkrut karena mesin perang Jerman kekurangan sumber daya manusia untuk mempertahankan dan menjaga wilayah kekuasaannya yang sebegitu luas. Akibatnya, kesetiaan mereka terhadap Hitler sangat diragukan, dan malahan banyak yang membelot ke pihak gerilyawan Yunani!

Sebagai unit pengamanan, Batalyon 845 kadang kala bertugas dengan para prajurit hukuman tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengaruh buruk para prajurit anti-Nazi itu tersebar pula di kalangan para prajurit Arab. Bahkan terdapat beberapa kasus desersi dalam Batalyon 845. Misalnya, kasus tiga orang prajurit Arab yang melakukan desersi dengan membawa senjata mereka pada bulan November 1943.

Demoralisasi juga melanda para prajurit Arab. Hauptmann von Voss, komandan kompi ke-1 batalyon tersebut, menceritakan beberapa kasus menarik mengenai mentalitas orang-orang Arab itu.

Kisah pertama berhubungan dengan seorang prajurit bernama Ali ben Mohammed. Pada suatu hari, dia mendatangi perwira medis dan meminta agar dirumahsakitkan. Namun setelah diperiksa, si perwira menemukan bahwa Ali benar-benar sehat!

"Mengapa kamu ingin dirumahsakitkan?" tanya perwira itu heran, "kamu kan tidak sakit?"

"Yang lain dirawat di rumah sakit. Kenapa aku tidak bisa?" tukas Ali.

"Kamu sehat, jadi kamu tidak boleh dirumahsakitkan!" bentak si perwira.

Ali berbalik ke arah pintu, yang mempunyai sebuah panel kaca. Dia kemudian membenturkan kepalanya ke panel itu. Berlumuran darah dan dengan pecahan kaca menancap di kulit kepalanya, dia mendatangi perwira medis itu lagi dan berkata, "sekarang saya sudah sakit, bukan?"

Pada kesempatan lainnya dalam suatu latihan, seorang prajurit bernama Mahmood tiba-tiba melemparkan senapannya dan merebahkan tubuh di tanah.

"Ich nicht soldat (saya bukan prajurit)!" jeritnya.

Salah seorang rekannya, yang merasa malu dengan kelakuan Mahmood, mencabut bayonetnya dan menyayat kepalanya sendiri sebanyak lima atau enam kali hingga membuat tulang di bawah kulit kepalanya terlihat!

Sikap menjunjung tinggi kehormatan diri dalam budaya Arab sendiri menimbulkan sejumlah masalah serius di dalam batalyon itu. Pada suatu hari, dua orang Arab mengejek seorang prajurit karena kecenderungan homoseksualnya. Pada malam harinya, prajurit yang diejek itu mengambil senapannya, menempelkannya di belakang telinga salah seorang pengejeknya, dan menarik picunya!

Selama bertugas di kawasan pegunungan Helicon di Yunani Selatan, Batalyon 845 membuktikan kemampuannya dalam memerangi gerilyawan ELAS Yunani yang berhaluan Komunis. Berkat pelatihan dan naluri alaminya, para prajurit Arab dengan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai taktik para gerilyawan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa agen Sekutu yang dikirimkan untuk membantu gerilyawan Yunani.

Keberanian para prajurit Arab dalam menantang maut serta menahan rasa sakit juga mengundang rasa kagum dari atasan Jerman mereka. Sekalipun demikian, Hauptmann von Voss juga mengkritik anak buahnya karena kecenderungan mereka untuk menjarah dan memperkosa, terutama selama pertempuran di Kyriaki.

Efektifitas Batalyon 845 membuat komando Jerman berencana untuk meningkatkan kekuatannya. Para sukarelawan tambahan, yang terdiri atas orang-orang Arab yang tinggal di Eropa dan sejumlah tawanan perang Sekutu, dikumpulkan di Zwetll, Cekoslowakia, pada awal September 1944. Namun rencana untuk membentuk sebuah unit baru yang akan ditempatkan pada batalyon tersebut tidak pernah terwujud karena arah peperangan yang semakin merugikan Jerman.

Menjelang akhir musim panas tahun 1944, pasukan Jerman di Yunani terancam terpotong oleh serangan besar-besaran Tentara Merah yang telah menaklukkan Bulgaria dan Rumania serta sedang bergerak maju memasuki Yugoslavia dan Hungaria. Untuk menghindari bencana itu, pada bulan Oktober 1944 pasukan Jerman mulai menarik diri dari Yunani selatan menuju Yugoslavia. Batalyon 845 sendiri bertugas melindungi penarikan mundur tersebut.

Batalyon 845 mengundurkan diri melalui rute Larissa di Yunani, Bitolj, dan Skoplje di Makedonia, lalu Kraljevo dan Uzice di Serbia. Mereka sempat terlibat pertempuran sengit dengan kaum partisan Yugoslavia untuk memperebutkan Bukit 734 di Uzice. Pada bulan Februari 1945, akhirnya mereka tiba di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Setelah beristirahat dan direorganisasi, batalyon Arab itu ditugaskan di kawasan antara sungai Sava dan Danube.

Pada bulan Maret dan April 1945, batalyon Arab itu beroperasi di sebelah tenggara Vinkovci di Srem. Pada akhir bulan April mereka ditarik mundur ke Vukovar, sebelum akhirnya ditempatkan di sebelah barat Zagreb, Kroasia. Di tempat itulah riwayat batalyon Arab tersebut berakhir. Mereka menyerah kepada kaum Partisan, yang menempatkan orang-orang Arab itu di sebuah kamp tawanan khusus hingga mereka dibebaskan satu tahun kemudian.


Sumber :
Buku "Der Freiwillige: Kisah-Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Hitler" karya Nino Oktorino
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/02/deutsche-arabische-infanteri-bataillon.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Free_Arabian_Legion

Saturday, December 25, 2021

Pengecatan Helm Luftwaffe


 
Dari stahlhelm kinclong ke sedikit bluwek: foto yang diambil pada tahun 1940/1941 ini memperlihatkan para anggota Werkstatt-Kompanie (Kompi Pemeliharaan) dari sebuah unit Flak Luftwaffe tak dikenal, yang terlihat sedang sibuk mencat ulang helem-helm mereka dengan warna yang tidak terlalu kinclong alias kontras, agar bisa lebih menyatu dengan sekitarnya. Ini sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Wehrmacht pada tahun 1940 mengenai warna dan dekal stahlhelm yang baru. Prajurit yang memegang alat semprotan terlihat mengenakan pakaian kerja Luftwaffe yang terbuat dari bahan HBT berwarna hijau gelagah. Foto ini juga cukup menarik karena memperlihatkan situasi di bengkel pemeliharaan Luftwaffe, yang tampaknya terletak tidak jauh dari rel kereta api (perhatikan gambar di latar belakang). Di sebelah kanan kita bisa melihat laras meriam Flak (Flugzeugabwehrkanone) kaliber 20mm dengan lima buah Abschußbalken (baris kemenangan), yang menunjukkan bahwa senjata satu ini setidaknya telah mamakan korban lima pesawat musuh!

Sumber :
http://menofwehrmacht.blogspot.com/2021/12/painting-luftwaffe-helmets.html

Friday, October 29, 2021

Foto Bersama Anggota Abteilung Fremde Heere Ost

Foto yang diambil pada tahun 1943 ini memperlihatkan para anggota Abteilung Fremde Heere Ost dalam sesi "gruppenbild" (foto bersama) di markas mereka di Angerburg, Mauerwald, yang merupakan bagian dari komplek Markas Besar Komando Angkatan Darat Jerman (OKH-Stabsquartier). Untuk identifikasinya adalah, duduk dari kiri ke kanan: Major Dr. Hellmut Nauck (Wirtschaftssachbearbeiter Gruppe II), Oberstleutnant Hübner (Leiter Gruppe V), Oberstleutnant z.V. Riedl, Oberst i.G. Reinhard Gehlen (Abteilungschef), Oberstleutnant Karl Ogilvie (Sachbearbeiter Lage Skandinavien), Oberstleutnant i.G. Johannes Hoheisel (Leiter Gruppe II), dan Major i.G. Höfer (Sachbearbeiter Lage Mitte, Gruppe I). Baris kedua dari kiri ke kanan: Hauptmann Georg Viktor von der Marwitz (Kommandant des Stabsquartiers), Major i.G. Wilhelm Kuebart, Major i.G. Gerhard Wessel (Leiter Gruppe I), Major i.G. Karl-Heinz Graf von Rittberg (Sachbearbeiter Personallage, Gruppe II), Major i.G. Rudolf Grüner (Sachbearbeiter Lage A, Gruppe I), Oberleutnant Günther Letschert (Kartei-Referent), Ministerialregistrator Rudolf Bahlk, Oberleutnant Adolf Eiseler (Mitarbeiter Gruppe I), perwira tak dikenal, (berdiri sedikit ke belakang), dan Technische Oberinspektor Johannes Wagner. Baris ketiga dari kiri ke kanan: Leutnant Peter von Vaernewyk (Gehilfe des Kommandanten Stabsquartier), Oberleutnant Jürgen Remé (Mitarbeiter Gruppe II), Oberzahlmeister Albert Wiesemann (Mitarbeiter Kartei-Referat), Hauptmann Körnchen (Verwaltungsaufgaben), perwira tak dikenal, Hauptmann Otto Schiller (Mitarbeiter Gruppe I), Oberleutnant Dr.jur. Dipl.-Kfm. dipl.cons. Max Ritter von Bitterl-Tessenberg (Mitarbeiter Gruppe II), dan Oberleutnant d.R. Walter Schüle (Mitarbeiter Gruppe I). Baris terakhir dari kiri ke kanan: Oberleutnant Buchholz (Mitarbeiter Gruppe III), Oberleutnant Hellmut von Hagens (Mitarbeiter Gruppe I), Oberleutnant Hermann Förster (Mitarbeiter Gruppe I), perwira tak dikenal, Sonderführer Emmanuel Haller (Mitarbeiter Gruppe II), Major Friedrich-Wilhelm von Leutsch (Sachbearbeiter Lage Nord, Gruppe I), Hauptmann Kurt Göllnitz (Mitarbeiter Gruppe II), perwira tak dikenal, perwira tak dikenal, dan Kriegstechniker Dr.jur. Jacobus Reimers. Abteilung Fremde Heere Ost (Detasemen Luar Negeri AD Timur) sendiri adalah organisasi intelijen bentukan Angkatan Darat Jerman yang bertugas untuk menganalisa kekuatan militer asing di Front Timur, terutama sekali Uni Soviet. Ketika Perang Dunia II usai, Abteilungschef Gehlen dan anakbuahnya dimanfaatkan oleh CIA untuk melanjutkan kerja mereka dalam memata-matai Komunis Soviet melalui unit "baru tapi lama" bernama Gehlen Organization. Unit inilah yang nantinya menjadi cikal bakal dari Bundesnachrichtendienst, satuan intelijen Jerman Barat di era Perang Dingin.

Sumber :
Der Spiegel 1971
Bundesarchiv B 206 Bild-GN13-08-01
https://www.archivportal-d.de/item/JX6IFLT44EBIBOXOBAGFSUDWCDIOJEUB?isThumbnailFiltered=false&rows=20&offset=20&viewType=list&hitNumber=34
https://archive.org/stream/GEHLEN-Reinhard-CIA-files/GEHLEN-Reinhard-CIA-file-VOL-2_f%26c322_djvu.txt
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=260485

Tuesday, May 18, 2021

Sukarelawan Wehrmacht Berambut Gondrong Asal India

Belum pernah kan lihat tentara Wehrmacht gondrong? Nah, ini salah satu contoh penampakan langkanya! Foto ini memperlihatkan tiga orang tentara sukarelawan dari Legion Freies Indien (Legiun India Merdeka) yang sedang menjalani pelatihan militer di Truppenübungsplatz Beverloo, Belgia. Anggota unit ini - yang sebagian besarnya adalah orang-orang India yang bermukim di Eropa atau tawanan Inggris keturunan India - mendapat keistimewaan untuk tetap menjalankan tradisi keagamaan yang mereka anut, termasuk diantaranya adalah memanjangkan rambut serta menggunakan turban bagi orang-orang Sikh. Legion Freies Indien sendiri dibentuk pada tahun 1942, pada awalnya setingkat batalyon tapi kemudian membengkak menjadi sebuah resimen dengan kekuatan 3.000 orang. Sebuah panji lengan khusus sengaja dibuat untuk mereka, dalam bentuk perisai berisi bendera nasional India beserta gambar harimau. Seragam yang mereka kenakan sendiri umumnya adalah seragam tropis Jerman (tropenuniform). Mereka mempunyai nama resmi Infanterie-Regiment 950 (indische), di bawah pimpinan Oberstleutnant Kurt Krappe yang kharismatik. Unit sukarelawan India ini tercatat bertempur mulai tahun 1944 di Prancis, Belanda dan Italia, sebelum ditarik mundur ke Jerman. Mereka kemudian dialihtugaskan menjadi bagian dari Waffen-SS, dengan nama resmi Indische Freiwilligen Legion der Waffen-SS.

Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?p=2343546#p2343546

Sunday, May 17, 2020

Parade Militer 999. leichte Afrika-Division

Upacara pengambilan sumpah para prajurit-prajurit baru 999. leichte Afrika-Division yang diselenggarakan di Heuberg, Jerman, pada bulan Januari 1943. Divisi ini pertama kali dibentuk pada bulan Oktober 1942 sebagai sebuah unit hukuman, dimana para tahanan kriminal dan politik - ditambah dengan prajurit-prajurit yang desersi atau mbalelo - dikumpulkan dalam sebuah kesatuan, dan rencananya akan dikirim untuk bertempur melawan pasukan Sekutu di Afrika Utara. Kloter pertama telah tiba pada awal tahun 1943, hanya sayangnya Tunisia keburu menyerah beberapa bulan kemudian - bersama dengan ratusan ribu pasukan Poros yang ada disana - sehingga sisa sebagian besar anggota 999. leichte Afrika-Division dialihkan untuk bertugas sebagai pasukan pendudukan di Yunani yang sama-sama beriklim tropis. Divisi ini kemudian dibubarkan pada bulan Mei 1943, dan sisa-sisa anggotanya dilebur ke dalam unit-unit yang berbeda. Karena sebagian anggotanya adalah mantan tahanan politik yang sebelumnya dipenjara karena aktivitas anti-Nazi mereka, maka tak heran bila aktivitasnya "kambuh" kembali di tempat yang baru. Beberapa diantaranya, seperti Falk Harnack dan Wolfgang Abendroth, malah kabur dan bergabung dengan pihak musuh dalam memerangi pasukan Jerman! Dalam pertempuran melawan tentara Amerika di Afrika Utara sendiri, semangat bertempur sebagian prajurit 999. leichte Afrika-Division sudah berada di titik nadir, sehingga mereka hanya melawan seadanya sebelum kemudian mundur atau menyerah. Tak heran bila di sepanjang eksistensinya, hanya satu orang anggota divisi ini yang mendapatkan medali keberanian yang cukup bergengsi, yaitu Oberstleutnant Gotthold Wolf (Kommandeur Infanterie-Regiment 961) yang dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold pada tanggal 12 Mei 1943. Tercatat ada tiga orang yang pernah menjadi Komandan 999. leichte Afrika-Division dari bulan Oktober 1942 s/d Mei 1943: Oberst Heinz Karl von Rinkleff (Oktober 1942 - 2 Februari 1943), Generalleutnant Kurt Thomas (2 Februari 1943 - 1 April 1943), dan Generalmajor Ernst-Günther Baade (2 April 1943 - 13 Mei 1943)


Sumber :
https://enanosin.wordpress.com/category/world-war-two-history/

Friday, April 17, 2020

Pesawat Stuka Milik Legion Condor

Jarang terdapat foto yang memperlihatkan pesawat Junkers ju 87 A dari “Legion Condor” yang, berdasarkan buku-buku keluaran Jerman tentang unit tersebut di masa Perang Saudara Spanyol, tidak pernah disebutkan keberadaannya! Hanya terdapat tiga buah Ju 87 A yang biasa dinamakan sebagai “Jolanthe-Kette” (berdasarkan emblem babi “Jolanthe-Schwein”) yang disebut-sebut digunakan sebagai bahan percobaan pesawat pembom tukik terbaru Jerman. Ketiga buah pesawat tersebut tiba di Spanyol pada tanggal 15 Januari 1938, dimana identitasnya telah banyak orang tahu: 29●2 Unteroffizier Bartels/Unteroffizier Fleisch, 29●3 Leutnant Gerhard Weyert /Unteroffizier Göller, dan 29●4 Leutnant Hermann-Josef Haas (Kettenführer)/Feldwebel Kramer. Semua awaknya diambil dari 11.Staffel/Lehrgeschwader 1 (LG 1) dan hanya pernah menerbangkan Ju 87 A beberapa bulan saja sebelum tiba di Spanyol! Pada kenyataannya, cuma Ju 87 A 29●5, 29●6, dan 29●7 yang melakukan misi tempur, dengan dua yang terakhir dari bulan Juli 1938 dan seterusnya. Tak banyak yang diketahui mengenai Ju 87 A 29●5 dalam foto ini 


Sumber :
Majalah "Luftwaffe im Focus" edisi No.1 tahun 2002