Showing posts with label Pesawat Luftwaffe. Show all posts
Showing posts with label Pesawat Luftwaffe. Show all posts

Wednesday, December 14, 2022

Empat Jagoan Udara dari JG 2 "Richthofen"

Foto ini diambil pada bulan Agustus 1941, dan memperlihatkan para jagoan udara sekaligus Ritterkreuzträger dari Jagdgeschwader 2 (JG 2) "Richthofen", yang beroperasi di Selat Inggris dan sekitarnya. Dari kiri ke kanan: Leutnant Egon Mayer (Flugzeugführer di 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 2), Oberleutnant Erich Leie (Flugzeugführer im Stab der I. Gruppe / Jagdgeschwader 2), Major Walter Oesau (Geschwaderkommodore Jagdgeschwader 2), dan Oberleutnant Rudolf Pflanz (Flugzeugführer di 1.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 2). Di latar belakang terparkir sebuah pesawat pemburu dari jenis Messerschmitt Bf 109 yang merupakan tunggangan utama para pilot Jerman dalam Perang Dunia II. Dari keempat orang dalam foto ini, Geschwaderkommodore Oesau mempunyai kemenangan udara terbanyak dengan 127 kills, diikuti oleh Leie (121 kills), Mayer (102 kills), dan Pflanz (52 kills).

Sumber :
https://www.andreas-thies.de/auktionen/64-749906

Sunday, December 11, 2022

Pengujian Pesawat Jerman

Para ilmuwan Nazi mengujicoba sistem aerodinamik dari sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109 E-3 di tahun 1940. Ditenagai oleh mesin Rolls-Royce Kestrel V, pesawat hasil pengembangan kesekian dari Bf 109 ini mempunyai kecepatan maksimum 660km/jam. Panjangnya 8,65m dengan rentang sayap 9,87m. Senjata utamanya adalah dua buah kanon 20mm ditambah dengan dua senapan mesin sebagai pelengkap. Versi pertama pesawat rancangan Willy Messerschmitt ini telah teruji ketangguhannya dalam Perang Saudara Spanyol. Para pilotnya telah disumpah sebelum mereka meninggalkan Jerman bahwa mereka tidak akan membiarkan pesawat mereka sampai jatuh ke tangan musuh. Bila pesawatnya jatuh atau mendarat darurat di wilayah musuh, maka mereka harus membakarnya segera dengan menggunakan tangki khusus berisi materi yang mudah terbakar yang bisa disulut seketika dan memang disiapkan untuk tujuan semacam ini!

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Prajurit Luftwaffe Membaca Surat di Sebelah Motor Zündapp

Foto ini, yang tampaknya telah disetting dengan baik, kemungkinan dibuat untuk kepentingan propaganda Jerman. Seorang prajurit Luftwaffe berdiri sambil membaca surat yang datang dari tanah air di depan sepeda motor Zündapp Ks 600 bersespan, sementara di latar belakang mengudara sebuah pesawat Focke-Wulf Fw 189 "Uhu" (Burung Hantu). Pesawat bermesin ganda dan berkursi tiga ini terutama sekali dibuat untuk kepentingan pengintaian. Dibandingkan dengan pesawat yang umum diproduksi di masa itu, Fw 189 terlihat aneh karena mempunyai dua "badan". Pada awalnya kemampuannya diragukan, tapi kemudian medan udara Front Timur membuktikan kemampuan Fw 189 yang jauh melebihi harapan para pembuatnya! Pesawat ini dijuluki sebagai "matanya Luftwaffe" dan ketangguhannya terbukti dengan beberapa kali dia mampu pulang ke pangkalannya dengan sebagian ekornya copot atau rusak parah! Keberadaannya tidak diketahui oleh pihak Sekutu sampai dengan tahun 1941, walaupun prototipe pesawat ini sudah berseliweran dari masa sebelum perang. Total produksinya sampai dengan perang berakhir adalah 849 buah.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Markas Tentara Jerman di Desa Kecil Rusia


Pesawat penghubung sangat dibutuhkan untuk memelihara kontak langsung antara markas dengan prajurit di front depan. Tanpa pesawat ini maka akan mustahil bagi para komandan senior untuk bertemu dengan bawahannya dalam jangka waktu sebentar demi mendiskusikan perkembangan situasi atau sekedar melakukan inspeksi singkat di front. Karena biasanya pos komando dan markas front berada di wilayah hutan lebat, tertutup oleh kamuflase atau di desa-desa terpencil, maka kadangkala tak ada landasan udara standar terdekat yang menjangkaunya. Atas alasan ini maka Fieseler Fi 156 Storch, dengan kemampuan take-off dan landingnya di landasan sempit, menjadi pilihan utama para komandan staff senior. Pesawat ini bahkan bisa mendarat di atas permukaan yang kasar atau berlumpur. Foto di atas memperlihatkan sebuah desa kecil Rusia yang dikelilingi oleh hutan. Panji yang terpasang di depan sebuah rumah di sebelah kiri menandakan bahwa lokasi itu telah dijadikan sebagai markas sebuah Armee-Korps. Di latar belakang terparkir sebuah Storch, yang kemungkinan dipakai untuk menerbangkan sang komandan korps dalam kunjungan ke front depan atau membawa para komandan divisinya ke tempat ini.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/12/foto-artistik-perang-dunia-ii.html

Friday, May 27, 2022

Upacara Penganugerahan Ritterkreuz JG 52


Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dua orang pilot berprestasi Luftwaffe dari 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52), yang diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 1942 di Belyj-Kolodes (Ukraina), yang terletak di dekat Kharkov. Kedua pilot tersebut berdiri menghadap kamera di sebelah kanan, dan mendengarkan dengan serius saat General der Flieger Curt Pflugbeil (Kommandierender General IV. Fliegerkorps) sedang berpidato. Mereka adalah, dari kiri ke kanan: Feldwebel Alfred Grislawski dan Feldwebel Karl Steffen. Grislawski mendapatkan Ritterkreuz setelah mencatatkan 43 kemenangan udara terkonfirmasi, sementara Steffen setelah 44 kemenangan. Berdiri membelakangi kamera sambil membawa tas di belakang Pflugbeil adalah Oberleutnant der Reserve Hermann Graf (Staffelkapitän 9./JG 52), yang juga merupakan jagoan udara terkemuka Luftwaffe. Kepemimpinan Graf sebagai seorang Staffelkapitän begitu menonjol, sehingga beberapa orang anakbuahnya kemudian mengikuti jejaknya sebagai jagoan udara dan Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Selain dari Grislawski (total 133 kemenangan) dan Steffen (59 kemenangan), juga terdapat Ernst Süss (68 kemenangan), Leopold Steinbatz (99 kemenangan), dan Heinrich Füllgrabe (67 kemenangan). BTW, di latar belakang terlihat pesawat-pesawat transport dari jenis Junkers Ju 52 "Tante Ju" dan Fieseler Fi 156 "Storch".

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2013/07/album-foto-jagdgeschwader-52-jg-52.html

Wednesday, May 4, 2022

Gordon Gollob dan Pesawatnya yang Bolong

Major Gordon Gollob (Führer Jagdgeschwader 52) memperlihatkan pesawat Messerschmitt Bf 109 tunggangannya yang bolong oleh tembakan peluru musuh. Foto ini diambil pada tanggal 29 Agustus 1942 di sebuah lapangan udara di Front Timur oleh Kriegsberichter Jütte dari KBK Lw zbV (Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe zur besonderen Verwendung). Di hari itu, dia menembak jatuh empat pesawat Rusia sehingga mengerek kemenangannya menjadi 150 buah. Di leher Gollob sendiri tergantung medali Schwerter zum Ritterkreuz, yang didapatkannya pada tanggal 23 Juni 1942 setelah mencatatkan 107 kemenangan udara. Hanya berselang satu hari setelah foto ini diambil, sang Geschwaderkommodore (Komandan Skuadron Udara) menerima pengumuman bahwa dia menjadi orang ketiga di seantero Angkatan Bersenjata Jerman yang dianugerahi Brillanten, medali tingkat keempat dari Ritterkreuz sekaligus penghargaan militer tertinggi yang bisa diberikan oleh Hitler sampai saat itu. Gollob sendiri mendapatkan Brillanten sebagai ganjaran atas prestasinya sebagai pilot pertama dalam sejarah yang mencatatkan 150 kemenangan udara terkonfirmasi!

Sumber :
https://waralbum.ru/161552/

Friday, April 1, 2022

Erwin Rommel dan Joachim Müncheberg

 
Pertemuan antara Oberleutnant Joachim Müncheberg (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 26) dengan sang "Rubah Padang Pasir" General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) di medan perang Afrika Utara, bulan Juni-Juli 1941. Di belakang mereka terparkir pesawat pembom Heinkel He 111 H4 VG+ES (WNr 4085) yang berfungsi sebagai "Kurierstaffel v.b.z. Afrika" (pesawat transportasi pribadi Rommel). Disini Rommel tampaknya akan atau sudah melakukan perjalanan udara, yang terlihat dari schwimmweste (jaket pelampung) yang dikenakannya. Sementara itu, tidak terlihat dari sudut ini adalah perban di lutut kiri Müncheberg yang didapatkannya setelah dia terluka dalam kompetisi olahraga di Erfurt bulan Mei 1941 sebelumnya (dia terjatuh saat ikut lomba lari gawang sepanjang 110 meter!). Oberleutnant Müncheberg dan Staffel pimpinannya merupakan satu-satunya elemen dari Jagdgeschwader 26 (JG 26) yang beroperasi di Afrika Utara, dan itupun hanya selama bulan Juni dan Juli saja. Selama keberadaannya yang singkat tersebut, 7. Staffel tercatat menembak jatuh delapan pesawat Inggris, dengan lima diantaranya dibukukan oleh sang Staffelkapitän! Foto ini sendiri dibuat oleh Kriegsberichter Opper dari KB-Kp. Lw. 7 (Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe 7) dan, bila anda jeli, anda bisa melihat sandal hasil modifikasi lapangan dari sepatu yang dipakai oleh Joachim Müncheberg!

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Joachim_M%C3%BCncheberg

Saturday, November 6, 2021

Kata-Kata Terakhir Heinrich Ehrler

"Theo, Heinrich disini. Baru saja menembak jatuh dua bomber. Tak ada amunisi tersisa. Aku akan menabrakkan diri. Auf wiedersehen, sampai jumpa di Valhalla!"

- Heinrich Ehrler -

Heinrich Ehrler (14 September 1917 - 4 April 1945) adalah salah satu dari 10 pilot pemburu terbaik Jerman sepanjang masa, dan satu dari yang bertempur sampai akhir. Dia tercatat menembak jatuh 208 pesawat musuh dalam Perang Dunia II, yang sebagian besar dibukukannya di Front Timur. Delapan diantara korbannya dihancurkan saat Ehrler telah menggunakan pesawat jet Messerschmitt Me 262.

Misi terakhirnya, yang berlangsung pada tanggal 4 April 1945, adalah sebuah misi "Reichsverteidigung" (Pertahanan Reich). Pada saat itu Royal Air Force dan USAF tengah mengirimkan armada pembom mereka untuk membombardir lapangan-lapangan udara Luftwaffe serta pangkalan U-boat di Jerman. Tidak kurang dari 200 pesawat Lancaster serta 950 pesawat B-17 dan B-24 yang terbang di hari itu, belum lagi sekitar 800 pesawat pemburu Sekutu yang mengawal mereka.

Dua kemenangan terkonfirmasi terakhir Ehrler memakan korban dua B-17 Amerika. Tak lama kemudian amunisinya habis dan Ehrler memutuskan untuk menabrakkan diri pada pesawat pembom B-24H-30-FO Liberator "Trouble 'N Mind" yang dipiloti oleh Captain John Ray dari 713th Bomb Squadron / 448th Bomb Group USAF. Kedua pesawat tersebut hancur, dan Ehrler terbunuh dalam peristiwa tersebut.

BTW, 'Theo' merujuk pada teman sekaligus rekan seperjuangan Ehrler yang juga adalah jagoan udara Luftwaffe, Theodor Weissenberger.

Sumber :
http://www.americanairmuseum.com/aircraft/10033
https://en.wikipedia.org/wiki/Heinrich_Ehrler
https://www.facebook.com/WWIIKoreanWarVietnamVehicles/posts/theo-heinrich-here-have-just-shot-down-two-bombers-no-more-ammunition-im-going-t/1832923016820002/
http://forum.12oclockhigh.net/archive/index.php?t-21680.html

Thursday, June 25, 2020

Dogfight Bf 109 dari JG 53 vs Hurricane RAF

Pada tanggal 12 Agustus 1940, Jagdgeschwader 53 (JG 53) mendapatkan tugas untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (perburuan bebas) di sekitar wilayah pantai Portsmouth dan Isle of Wight, sebagai bagian dari dukungan terhadap pesawat-pesawat bomber Junkers Ju 88 dari Kampfgeschwader 51 (KG 51) yang sedang melakukan operasi pemboman di pelabuhan Portsmouth dan stasiun radar Ventnor di Isle of Wight. Sebagai pimpinan 1.Staffel / JG 53 adalah Hauptmann Hans-Karl Mayer, yang menerbangkan pesawat Messerschmitt Bf 109E-4 "Weiße 8", sementara yang bertugas sebagai Rottenflieger (wingman) adalah Unteroffizier Heinrich Rühl yang menerbangkan Bf 109E-1 "Weiße10". Terbang dengan ketinggian 8.500 meter, pada pukul 12:20 siang mata Mayer tiba-tiba memergoki tiga pesawat Hurricane Inggris yang sedang mengeroyok sebuah Messerschmitt Bf 110 yang sedang terbang sendirian. Meskipun pesawat Mayer dan Rottenflieger-nya langsung menukik menuju ke arah musuh, pilot Bf 110 yang panik keburu melompat keluar dari pesawatnya. Mayer memilih pesawat yang berada di sisi kanan, sementara Rühl di sisi kirinya. Sang Staffelkapitän memuntahkan 20 peluru kanon kaliber 20mm dan 80 peluru senapan mesin kaliber 7,92mm sebelum pesawat RAF (Royal Air Force) buruannya jatuh ke lautan dengan badan dipenuhi api, dan tercatat sebagai korban ke-10 dari Hans-Karl Mayer dalam Perang Dunia II. Sementara itu, Rühl membutuhkan seluruh persediaan peluru kanonnya dan 200 peluru senapan mesin sebelum pesawat musuhnya melengkung dengan lembut dan kemudian menghantam lautan. Mayer sekarang mengalihkan perhatiannya pada satu Hurricane yang tersisa, yang kini sedang mendapat giliran dikeroyok oleh pesawat-pesawat Staffel-nya. Tampaknya pilot terakhir ini cukup mahir, karena pesawat Mayer sempat terkena tembakan sebanyak enam kali. Yang terjadi selanjutnya adalah laporan pertempuran yang ditulis oleh Mayer seusai misinya: "Setelah menembak jatuh korban pertamaku, aku kembali pada dogfight (pertempuran udara) antara satu Hurricane yang tersisa melawan beberapa pesawat Staffel-ku. Aku segera menyerang pesawat tersebut dan mampu menembaknya sebanyak dua kali, sementara pesawatku sendiri terkena beberapa tembakan darinya. Pesawat musuh yang pincang tersebut berusaha untuk menyelamatkan diri ke arah pantai. Aku sendiri tetap mengejarnya, sementara teman-temanku kini kehilangan diriku di tengah kacaunya pertempuran. Meskipun pesawat musuh berusaha keras untuk mengecoh dan menghindar dariku, aku masih tetap dapat melepaskan beberapa tembakan yang mengenainya. Hurricane tersebut mulai mengeluarkan asap hitam, sebelum kemudian menukik di ketinggian rendah dan jatuh berkeping-keping saat menyentuh permukaan lautan". Mayer telah mencatatkan kemenangan keduanya di hari itu, setelah menghabiskan 10 peluru kanon dan 250 peluru senapan mesin untuk menghabisi korbannya yang terakhir. Meskipun tak dapat diketahui dengan pasti, kemungkinan besar tiga korban Mayer dan Rühl di hari itu adalah Pilot Officer John Harrison, Acting Flight Lieutenant Wilhelm Pankratz dan Sergeant Josef Kwiecinski, semuanya adalah pilot-pilot dari No.145 Squadron yang dilaporkan hilang di sekitar Isle of Wight di waktu yang bersamaan dengan klaim yang dikeluarkan oleh pihak Jerman.


Sumber :
Lukisan hasil karya Mark Postlethwaite dalam buku "Jagdgeschwader 53 'Pik-As' Bf 109 Aces of 1940" karya Chris Goss

Sunday, May 17, 2020

Teknisi Focke-Wulf di Markas JG 26

Pada bulan September 1942, III.Gruppe / Jagdgeschwader 26 (JG 26) kedatangan tamu istimewa di pangkalannya yang terletak di Wevelghem, Belgia. Profesor Kurt Tank, perancang utama pesawat-pesawat Focke-Wulf, dan ilmuwan seniornya Rudolf Blaser (kepala perancang pesawat berkursi tunggal sekaligus kepala program Fw 190), datang untuk membantu penyempurnaan Focke-Wulf Fw 190 A-2 dengan mendasarkan pada pengalaman para pilot JG 26 yang menggunakannya. Disini terlihat Oberingenieur Blaser berdiri di atas sayap Fw 190 A-2 dengan marking taktis < + I. Pesawat dengan Werknummer 20206 ini dipiloti oleh Oberfeldwebel Walter Grünlinger, katschmarek (wingman) dari Gruppenkommandeur Hauptmann Josef Priller. Grünlinger tampaknya baru kembali dari sebuah feindflug (misi tempur) ketika foto ini diambil, dan Blaser terlihat sedang menerangkan beberapa aspek teknis dari pesawat. Fw 190 milik Grünlinger, yang sebelumnya diterbangkan oleh Hauptmann Priller dan pertama kali tercatat dalam logbook sang Gruppenkommandeur pada tanggal 11 Desember 1941. Chevron (tanda pangkat berbentuk V) besar ganda menandakan bahwa pemiliknya adalah seorang Gruppenkommandeur (Komandan Gruppe), sementara lambang pribadi Priller, yaitu sebuah kartu remi As Hati dengan nama "Jutta", kini telah dihapus dan digantikan oleh lambang pilihan Grünlinger, yang berbentuk kartu remi tujuh Hati dengan nama "Rata" (gambar kartu tersebut dilukis di kedua sisi bagian mesin). Perhatikan juga "sayap elang" hitam yang hampir semuanya tertutup oleh jas yang dikenakan Blaser. Marking ini biasa ditemukan di pesawat-pesawat berjenis Fw 190 pada saat itu, dan gunanya untuk menutupi noda hitam bekas knalpot di bagian mesin. Pesawat ini memakai pola kamuflase RLM 74 bawaan pabrik (terlihat jelas di bawah kokpit) yang dipadukan dengan RLM 76 serta bintik-bintik RLM 75 yang tersebar di bagian logam penutup mesin. Grünlinger sendiri terus bertugas bersama Priller setelah yang disebut terakhir menjadi Jagdgeschwaderkommodore (Komandan Skuadron Pemburu) dari JG 26 pada tanggal 11 Januari 1943. Pada tanggal 4 September 1943 dia telah mengumpulkan jumlah kemenangan udaranya menjadi 12 (5 pesawat pemburu serta 7 pesawat pembom berat dan medium), yang dibukukan dalam 88 misi tempur. Di hari itu Grünlinger tinggal landas bersama dengan 10.Staffel/JG 26, dimana dia telah diperbantukan sehari sebelumnya. Staffel ini lalu bertemu dengan sekitar 20 Spitfire, dan Oberfeldwebel Grünlinger kemudian gugur ketika pesawatnya ditembak jatuh sekitar tiga kilometer barat-laut Bomy di Prancis utara. Pesawat yang digunakannya di saat kematiannya adalah Fw 190 A-5 Werknummer 7287 dari Geschwaderstab. Tanggal 9 September 1943 dia dikebumikan di kompleks pemakaman JG 26 di Abbéville.


Sumber :
Majalah "Luftwaffe im Focus Spezial" edisi No.1 terbitan tahun 2003

Friday, April 17, 2020

Pesawat Stuka Milik Legion Condor

Jarang terdapat foto yang memperlihatkan pesawat Junkers ju 87 A dari “Legion Condor” yang, berdasarkan buku-buku keluaran Jerman tentang unit tersebut di masa Perang Saudara Spanyol, tidak pernah disebutkan keberadaannya! Hanya terdapat tiga buah Ju 87 A yang biasa dinamakan sebagai “Jolanthe-Kette” (berdasarkan emblem babi “Jolanthe-Schwein”) yang disebut-sebut digunakan sebagai bahan percobaan pesawat pembom tukik terbaru Jerman. Ketiga buah pesawat tersebut tiba di Spanyol pada tanggal 15 Januari 1938, dimana identitasnya telah banyak orang tahu: 29●2 Unteroffizier Bartels/Unteroffizier Fleisch, 29●3 Leutnant Gerhard Weyert /Unteroffizier Göller, dan 29●4 Leutnant Hermann-Josef Haas (Kettenführer)/Feldwebel Kramer. Semua awaknya diambil dari 11.Staffel/Lehrgeschwader 1 (LG 1) dan hanya pernah menerbangkan Ju 87 A beberapa bulan saja sebelum tiba di Spanyol! Pada kenyataannya, cuma Ju 87 A 29●5, 29●6, dan 29●7 yang melakukan misi tempur, dengan dua yang terakhir dari bulan Juli 1938 dan seterusnya. Tak banyak yang diketahui mengenai Ju 87 A 29●5 dalam foto ini 


Sumber :
Majalah "Luftwaffe im Focus" edisi No.1 tahun 2002

Rommel Dibantu oleh Marseille Menaiki Stuka

General der Panzertruppe Erwin Rommel (Befehlshaber Panzergruppe "Afrika") bersiap-siap untuk menikmati rasanya terbang, saat dibantu duduk di jok penembak senapan mesin sebuah pesawat pembom tukik Junkers Ju 87B "Stuka" milik Hauptmann Kurt Kuhlmey (Staffelkapitän 1.Staffel / I.Gruppe / Sturzkampfgeschwader 1). Yang membantu sang jenderal bersiap-siap tidak lain adalah Leutnant Hans-Joachim Marseille (Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), yang nantinya menjelma menjadi pilot pemburu terbaik Jerman dalam kancah pertempuran di Afrika Utara. Foto ini diambil pada bulan November 1941, dalam kunjungan pertama Jenderal Rommel ke markas Jagdgeschwader 27 (JG 27). Dikisahkan bahwa Marseille dan Rommel saling bertukar cerita mengenai insiden yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, dimana pilot Australia Clive "Killer" Caldwell telah dengan sengaja menembak seorang pilot JG 27 yang sedang melayang dengan parasutnya. Kuhlmey, yang ikut hadir, juga menyatakan bahwa anakbuahnya turut menyaksikan insiden tersebut, sebuah hal yang dianggap sebagai perbuatan yang kontroversial di kancah peperangan Afrika Utara yang dikenal "bersih"


Sumber :
https://www.heatonlewisbooks.com/hansjoachimmarseille.htm

Sunday, March 15, 2020

Messerschmitt Bf 109 Milik AURI

AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dahulu pernah memiliki empat buah pesawat Messerschmitt Bf 109, tapi sayangnya saat Agresi Belanda ke-2 keempat pesawat tersebut hancur di lapangan udara Maguwo (Yogyakarta). Bagaimana ceritanya sampai pesawat Luftwaffe sekelas Messerschmitt Bf 109 sampai berada di Indonesia? Mereka adalah bekas pesawat Jepang yang tertinggal di Lapangan Andir Bandung, lalu diterbangkan ke Maguwo hingga hancur karena serangan Belanda (Jepang memang pernah menerima beberapa Bf 109 dari jerman sebagai bentuk alih teknologi, dan hasilnya adalah versi lokal Kawasaki KI61 Hien). Dari lima buah Bf 109 yang diterima, empat buah diantaranya dikirim ke lapangan udara Andir Bandung sedangkan satu buah lagi dijadikan bahan riset untuk menghasilkan KI61 Hien. Di buku Alutsisa TNI AU Periode tahun 1946 - 1950 disebutkan bahwa di lapangan udara Andir ditemukan pesawat Ki 61 Hien. Apakah itu yang dimaksud dengan Messerschmitt Bf 109 ini? Abdul Rachman Saleh juga pernah membaca buku petunjuk untuk bisa menerbangkan pesawat Mustang Jepang ini, dimana di dalam buku "Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid III" diterangkan oleh Marsda TNI Purn R. A. Wiriadinata bahwa dia pernah mendampingi Abdul Rachman Saleh di Pangkalan Udara Singosari Malang sekitar paruh kedua tahun 1946 hingga paruh pertama tahun 1947, yang mana Pak Abdul Rachman Saleh sibuk mempelajari buku-buku dan kokpit pesawat Mustang Jepang. Yang menarik untuk dikaji adalah: apakah yang dimaksud dengan Mustang Jepang tersebut sebenarnya adalah Ki 61 Hien atau Messerschmitt Bf 109? Karena kalau itu yang didapat di Bandung itu kemungkinan yang versi Messerschmitt Bf 109. Selain pesawat Messerschmitt Bf-109E ( Emil )-7, Jepang juga diketahui membangun pesawat pemburu yang menyerupai pemburu Luftwaffe kerena mendapat bantuan teknis dari Jerman yaitu Mitsubishi J8M Shusui yang mirip Me-163 Komet dan Nakajima Kikka yang mirip jet tempur Me-262. Foto sebagai ilustrasi.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2013/07/album-foto-third-reich-dan-indonesia.html

Tuesday, March 3, 2020

Kedatangan Delegasi Jerman di Skotlandia


Pada tanggal 11 Mei 1945, delegasi Wehrmacht dari Norwegia tiba dengan menggunakan pesawat transport Junkers Ju 52 di pangkalan udara milik Royal Naval Air Station, Drem, East Lothian, Skotlandia. Mereka sengaja datang dari Oslo untuk mendiskusikan penyerahan total seluruh pasukan pendudukan Jerman di Norwegia, sekaligus menyerahkan detail tentang posisi-posisi ranjau laut serta benteng pertahanan di sepanjang pantai negara Skandinavia tersebut. Setelah pesawat mendarat, rombongan dari Jerman ini disambut oleh Commander Mundy Cox, Komandan Royal Naval Air Station, yang didampingi oleh Captain Loewisch, Captain Kruger dan Lieutenant Albens. Dari bandara, mereka kemudian diberangkatkan dengan beberapa buah mobil menuju lokasi perundingan di kapal perang HMS Renown. Di menit 02:00 kita bisa melihat kepala delegasi Jerman, Oberst Dr.jur. Ernst Kühl, mantan Komandan 5. Flieger-Division di Narvik yang juga adalah seorang pilot pembom jempolan (Kühl dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz dan Eichenlaub saat masih menjadi pimpinan Kampfgeschwader 55 "Greif"). Ketika perang di Eropa berakhir pada tanggal 8 Mei 1945, pasukan pendudukan Jerman di Norwegia masih utuh tak kurang suatu apa, dengan total personil berjumlah 400.000 orang, sementara penduduk Norwegia sendiri pada saat itu kurang dari tiga juta orang! Hitler sengaja menempatkan begitu banyak pasukannya di Norwegia - yang seharusnya bisa digunakan di wilayah lain yang lebih membutuhkan - karena parno berlebihan akan kemungkinan adanya invasi pihak Sekutu dari Skandinavia, salah satu wilayah yang menjadi sumber utama bahan baku mesin-mesin perang Jerman. Begitu pentingnya wilayah ini, sehingga sang Führer keukeuh untuk tidak memindahkan sebagian saja personilnya ke Front Timur atau Barat yang di akhir-akhir perang sedang digempur habis-habisan!


Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=47IzY8Zeacs
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=1036250

Wednesday, February 12, 2020

Kematian Jagoan Udara Luftwaffe Walter Oesau

Pada tanggal 11 Mei 1944, tidak kurang dari SERIBU pesawat pembom Amerika Serikat dari US Eighth Air Force menyerang target jalan-jalan kereta api di timur Prancis serta timur-laut Belgia, sebagai upaya untuk melumpuhkan sarana transportasi Wehrmacht terutama di minggu-minggu terakhir sebelum dimulainya D-Day, alias pendaratan Sekutu di Normandia. "Gerombolan" ini dikawal pula oleh pesawat-pesawat pemburu P-38 dan P-51 dengan jumlah yang lebih banyak lagi! Sialnya, pada saat serangan berlangsung dengan hebatnya, Oberst Walter Oesau (Kommodore Jagdgeschwader 1 di Front Barat yang juga adalah seorang jagoan udara dengan 127 kills), malah sedang terbaring sakit di ranjang karena influenza. Sementara itu di Jerman, Panglima Luftwaffe Reichsmarschall Hermann Göring buru-buru menelepon staff Oesau setelah mendengar kabar serangan tersebut:

Göring – "Apakah Komodor sudah terbang?"
Staff – "Tidak Reichsmarschall, dia sedang terbaring sakit di ranjang."
Göring – "Ya, ya, aku tahu jenis manusia seperti itu!" Göring berkata dengan sinis, "Dia telah menjadi lelah dan pengecut!"


Ketika Oesau diberitahu tentang komentar Göring tersebut, dia begitu marahnya sehingga langsung menyiapkan diri untuk terbang walaupun sedang terkena demam tinggi. Dengan gagah berani, sang Geschwaderkommodore tinggal landas dari lapangan udara Paderborn dengan menggunakan Messerschmitt Bf 109 G-6/AS "Grün 13" (Werknummer 20601) untuk menghadapi beratus-ratus pesawat musuh di angkasa. Nasibnya sudah bisa diduga: jenazahnya tak lama kemudian ditemukan tergeletak tak jauh dari pesawatnya yang tertembak jatuh di baratdaya St. Vith, Belgia (di tubuhnya ditemukan beberapa lubang peluru). Jenazah sang jagoan udara Luftwaffe tersebut kemudian dikebumikan dalam upacara kenegaraan yang megah - yang dihadiri oleh Göring - di kuburan keluarga di Stadtfriedhof Meldorf, Schleswig-Holstein. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Jagdgeschwader 1 (JG 1) kemudian mendapat tambahan nama "Oesau" di belakangnya (hanya satu jagoan udara Luftwaffe lainnya yang mendapatkan kehormatan setinggi itu, yaitu Werner Mölders dengan JG 51 "Mölders"). Bisa dibilang bahwa itulah pelipur lara yang bisa Reichsmarschall Göring berikan sebagai tanda penyesalan atas kata-kata tak berdasar yang ditujukannya pada mendiang Oesau, yang secara tidak langsung menjadi penyebab kematian tragis salah satu jagoan udara Luftwaffe terhebat dalam Perang Dunia II tersebut...


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/01/album-foto-terbaik-walter-oesau.html

Saturday, January 25, 2020

Pemboman Pelabuhan Bari (1943)

Formasi pesawat pembom Junkers Ju 88 A-4 Luftwaffe dari Luftflotte 2 dalam perjalanan menuju Bari, Italia, di awal sore tanggal 2 Desember 1943. "Luftangriff auf den Hafen von Bari" (Serangan udara terhadap Pelabuhan Bari) adalah salah satu misi pemboman Jerman yang paling sukses dalam Perang Dunia II. 105 buah bomber Ju 88 memporakporandakan pelabuhan yang diduduki oleh Sekutu tersebut, menenggelamkan 28 kapal sementara hanya kehilangan satu pesawat saja! Ironisnya, di hari yang sama beberapa jam sebelum serangan, Marsekal Udara Sir Arthur Coningham berkata dengan pede-nya dihadapan para wartawan, "Saya akan menganggap sebuah penghinaan pribadi apabila ada satu saja pesawat Jerman yang terbang di atas kota Bari!" Panglima Pasukan Udara Taktis Inggris di Afrika Barat Laut tersebut - yang nantinya hilang di Segitiga Bermuda - bahkan bertindak lebih jauh dengan meniadakan pengamanan anti pesawat di darat dan udara, serta membiarkan lampu-lampu menerangi pelabuhan di malam hari sehingga memudahkan pihak penyerang Jerman dalam mendeteksi keberadaan targetnya! Tepat pukul 19:25 pembantaian pun dimulai, yang berlangsung kurang lebih satu jam saja tapi yang menyisakan kehancuran total di Bari. Selain dari kehilangan puluhan kapalnya, pihak Sekutu juga menderita korban 1.000 orang personil militer serta 1.000 warga sipil yang kehilangan nyawanya. Salah satu dari kapal yang tenggelam membawa serta gas beracun yang kemudian bocor dan membunuh setidaknya 83 orang. Pihak Sekutu mati-matian berusaha menutupi fakta ini, karena tidak ingin Jerman terdorong untuk menggunakan gas yang sama dalam peperangan. Hitler, yang menjadi korban serangan gas dalam Perang Dunia Pertama, terkenal menentang keras penggunaan gas beracun dalam peperangan (diklaim sebagai salah satu dari sedikit hal "baik" yang dia lakukan), dan bila saja dia tahu bahwa salah satu dari kapal Sekutu tersebut dipenuhi oleh peluru artileri berisi gas berbahan mematikan, kemungkinan besar dia akan mempertimbangkan penggunaannya dalam melawan musuh-musuhnya!



Sumber :
http://fly.historicwings.com/2012/12/deadly-mystery-at-bari/
https://ww2inphotos.wordpress.com/2017/07/27/junked-junkers/

Monday, December 2, 2019

Terbunuhnya Jenderal Gott di Afrika Utara

 Di siang hari tanggal 7 Agustus 1942, empat pesawat Messerschmitt Bf 109 dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" tinggal landas dari pangkalan mereka di Quotaifiya, yang terletak di jalan pantai Mediterania sekitar 72 kilometer sebelah barat El Alamein, Mesir. Mereka berangkat untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (Berburu Bebas) rutin di belakang garis pertahanan Sekutu. Di waktu yang bersamaan, sebuah pesawat transport Bristol Bombay dari Nr. 219 Squadron RAF (Royal Air Force) Inggris terbang sendirian dari Heliopolis ke front terdepan pertempuran di Mesir untuk mengambil prajurit-prajurit yang terluka, dan kemudian menerbangkannya kembali ke rumah sakit di Kairo. Di lapangan udara terdepan Sekutu di Burg-el-Arab, Sergeant Hugh "Jimmy" James, sang pilot Bombay berusia 18 tahun, diperintahkan untuk membawa seorang penumpang istimewa: Lieutenant-General William Gott, yang baru beberapa jam sebelumnya ditunjuk untuk menjadi Panglima Eighth Army Inggris menggantikan Jenderal Claude Auchinlek, dan kini membutuhkan pesawat transport secepatnya untuk terbang kembali ke Kairo demi menghadiri sebuah pertemuan penting. Pesawat Bombay biasanya terbang dalam ketinggian rendah - sekitar 15 meter di atas daratan - untuk menghindari terdeteksi oleh pesawat-pesawat Jerman yang berada di sekitarnya. Meskipun begitu, penerbangan kali ini terpaksa dilakukan di ketinggian 150 meter demi menghindari kondisi overheating dari mesin Bristol Pegasus XXII yang diusung oleh pesawat itu. Di ketinggian inilah - sewaktu sedang melintasi bagian tenggara Alexandria - pesawat transport lamban Bombay tersebut terlihat oleh "schwarm" (kawanan) Bf 109 yang terbang di atasnya, yang dipimpin oleh Oberfeldwebel Emil Clade. Dengan hanya bermodalkan dua senapan mesin Vickers sebagai alat pertahanan diri, Bristol Bombay jelas bukanlah tandingan dibandingkan dengan empat pesawat pemburu Luftwaffe dari 5.Staffel / JG 27 tersebut, yang kemudian menukik bagaikan elang dari ketinggian 6.000 meter. Rentetan tembakan dari Oberfeldwebel Clade membuat pilot James berusaha mendaratkan pesawatnya secara darurat. Saat para penumpang berusaha berhamburan keluar dari pesawat yang terbakar tersebut, Bf 109 yang dipiloti oleh Unteroffizier Bernhard Schneider tiba-tiba menukik lalu memberondong tembakan senapan mesin ke arah mereka. Ke-17 orang penumpang yang berada di daratan kehilangan nyawanya, dan hanya menyisakan satu yang selamat yang masih berada di dalam pesawat, yaitu pilot James. Diantara yang terbunuh di hari itu adalah Jenderal Gott - yang ironisnya, mempunyai julukan "Strafer" alias pemberondong - yang tercatat sebagai perwira dengan pangkat tertinggi Inggris yang tewas oleh musuh dalam Perang Dunia II! Pesawat Bombay yang dipiloti oleh Sergeant James sendiri adalah satu-satunya korban dari Freie Jagd Jerman di hari itu, tapi akibat yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari yang disadari oleh semua pihak: kematian Gott berakibat dibutuhkannya seorang pemimpin baru untuk Eighth Army Inggris, dan orang yang kemudian terpilih adalah seorang perwira tidak terkenal bernama Bernard Law Montgomery. Dialah yang nantinya memimpin kemenangan Sekutu dalam pertempuran menentukan El Alamein di Afrika Utara dua bulan kemudian, dan yang membuat "si Rubah Gurun" Erwin Rommel harus mundur dari Mesir. Tidak hanya itu, Montgomery pula orangnya yang menerima penyerahan seluruh pasukan Jerman di Eropa Barat dan Utara pada tanggal 4 Mei 1945...


Sumber :
Buku "Jagdgeschwader 27 Afrika" karya John Weal

Tuesday, October 22, 2019

Upacara Penganugerahan Ritterkreuz untuk Pilot JG 52

 Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dua orang pilot berprestasi Luftwaffe dari 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52), yang diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 1942 di Belyj-Kolodes (Ukraina), yang terletak di dekat Kharkov. Kedua pilot tersebut berdiri menghadap kamera di sebelah kanan, dan mendengarkan dengan serius saat General der Flieger Curt Pflugbeil (Kommandierender General IV. Fliegerkorps) sedang berpidato. Mereka adalah, dari kiri ke kanan: Feldwebel Alfred Grislawski dan Feldwebel Karl Steffen. Grislawski mendapatkan Ritterkreuz setelah mencatatkan 43 kemenangan udara terkonfirmasi, sementara Steffen setelah 44 kemenangan. Berdiri membelakangi kamera sambil membawa tas di belakang Pflugbeil adalah Oberleutnant der Reserve Hermann Graf (Staffelkapitän 9./JG 52), yang juga merupakan jagoan udara terkemuka Luftwaffe. Kepemimpinan Graf sebagai seorang Staffelkapitän begitu menonjol, sehingga beberapa orang anakbuahnya kemudian mengikuti jejaknya sebagai jagoan udara dan Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Selain dari Grislawski (total 133 kemenangan) dan Steffen (59 kemenangan), juga terdapat Ernst Süss (68 kemenangan), Leopold Steinbatz (99 kemenangan), dan Heinrich Füllgrabe (67 kemenangan). BTW, di latar belakang terlihat pesawat-pesawat transport dari jenis Junkers Ju 52 "Tante Ju" dan Fieseler Fi 156 "Storch"


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=29879&start=17085

Wednesday, January 30, 2019

Dietrich Hrabak dan Hans Philipp Mengawasi Pengisian BBM

  Hauptmann Dietrich Hrabak dan Oberleutnant Hans Philipp (memakai kacamata hitam) dari Jagdgeschwader 54 (JG 54) “Grünherz” memperhatikan prosesi pengisian bahan bakar untuk sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109E yang dilakukan oleh para awak darat JG 54 di Yugoslavia, bulan April 1941. Di akhir tahun 1940 keduanya telah membuktikan diri sebagai pilot pemburu yang berkualitas. Hrabak memimpin II. Gruppe dan menjadi pilot pertama di JG 54 yang dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 21 Oktober 1940 setelah meraih 16 kemenangan udara (termasuk enam buah yang diklaimnya dalam Pertempuran Prancis). Nantinya Hrabak tercatat menembak jatuh lebih dari 100 pesawat musuh yang dibukukannya di JG 54 dan JG 52 (setelah tahun 1942 dia dipercaya menjadi Geschwaderkommodore dari dua wing pemburu terkemuka Luftwaffe ini). Philipp (Staffelkapitän 4.Staffel / II.Gruppe) sendiri memperoleh Ritterkreuz pada tanggal 22 Oktober 1940, hanya berselang satu hari setelah Hrabak, atas 20 kemenangan udara yang telah diraihnya (dengan hampir setengahnya diraih sebelum Pertempuran Britania). Korban pertama dijatuhkannya di atas Polandia tanggal 5 September 1939 ketika sang jagoan udara Jerman mengklaim sebuah pesawat PZL P.24 di atas kota Radomsko (padahal kenyataannya adalah P.11). Sampai dengan akhir tahun 1940 Philipp mengklaim 23 kemenangan yang membuatnya menjadi pilot terbaik di JG 54 dalam hal jumlah kemenangan. Pada tahun 1941, sebelum dimulainya Unternehmen Barbarossa, dia menambahkan enam buah korban dalam perbendaharaan kemenangannya (termasuk dua buah Messerschmitt Bf 109 milik Angkatan Udara Yugoslavia yang dibeli dari Jerman!). Nantinya Philipp juga memperlihatkan prestasi yang mengesankan di atas udara Rusia dimana dia mengklaim sebagian besar dari 206 kemenangan udara yang diraihnya. Philipp kemudian gugur bulan Oktober 1943 saat pesawatnya ditembak jatuh oleh gunner pesawat pembom B-17 Amerika di atas Jerman


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2015/06/foto-pengisian-bahan-bakar-minyak-bbm.html