Showing posts with label Merokok. Show all posts
Showing posts with label Merokok. Show all posts

Sunday, April 3, 2022

Legion Freies Arabien

Foto propaganda hasil jepretan Kriegsberichter Schlickum dari Propaganda-Kompanie 690 ini memperlihatkan tiga orang anggota Legion Freies Arabien - salah seorang di antaranya berkulit hitam - yang sedang bersantai di sebuah tempat di Yunani, tanggal 23 September 1943. Si hitam nampaknya sedang bercanda sambil berakrobat di hadapan teman-temannya, yang terbukti dari kursi "maut" yang ia duduki, yang berada di atas kereta yang ditarik oleh dua ekor keledai!

Ketika Perang Dunia II berkobar, sejumlah tokoh nasionalis Arab berpaling pada Jerman Nazi untuk memperoleh bantuan guna membebaskan negeri mereka dari kekuasaan Inggris serta mencegah pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina. Demi mencapai cita-citanya itu, mereka juga meminta bantuan Hitler untuk membentuk dan mempersenjatai sebuah tentara pembebasan Arab yang akan berjuang bersama-sama pasukan Poros.

Tokoh Arab yang memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertempur di bawah komando kaum Nazi adalah Mufti Besar Yerusalem, Amin al-Husayni (Huseini). Pada tahun 1942, beberapa bulan setelah kedatangannya di Jerman, dengan seizin Hitler dia mulai membentuk apa yang dinamakannya sebagai Al-Mufraza al-Arabia al-Hura. Anggotanya direkrut dari antara para pelajar Arab yang berada di Jerman, para tawanan perang Arab yang ditangkap saat bertugas dengan tentara Sekutu, dan para pelarian yang mengikutinya ke Jerman. Mereka mengenakan seragam standar Wehrmacht yang disulam dengan panji bertuliskan "Freies Arabien" (Arab Merdeka).

Legiun Arab ini dihimpun di bawah komando Deutsche-Arabische Lehrabteilung. Sebagian di antara mereka dikirimkan ke Rusia Selatan untuk membantu Hitler merebut ladang-ladang minyak Irak melalui Kaukasus. Yang lainnya ditugaskan di bawah Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang memimpin Afrikakorps untuk merebut Timur Tengah lewat Mesir. Mereka terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Merah Soviet maupun Inggris, menderita korban besar, dan gagal memenuhi ambisi Sang Mufti untuk menjadi pasukan pelopor pembebasan bangsa Arab dari tangan tirani asing.

Pada bulan Mei 1943, setelah kekalahan pihak Poros di Tunisia dan penarikan tentara Jerman dari Kaukasus, OKW memerintahkan agar sisa-sisa sukarelawan Arab dari Deutsche-Arabische Lehrabteilung, yang sebagian besar terdiri atas orang Maroko, dihimpun ke dalam sebuah unit baru: Deutsche-Arabische Infanterie Bataillon 845.

Kader batalyon tersebut disusun di kamp pelatihan Döllersheim yang berada di utara Linz, Austria. Pada awalnya, batalyon Arab itu terdiri atas empat kompi. Sekalipun dibentuk sebagai sebuah batalyon infanteri, tetapi salah satu kompinya merupakan sebuah unit pasukan payung! Batalyon itu sendiri terutama dilatih dalam taktik-taktik perang gerilya.

Pada bulan November 1943, setelah menyelesaikan pelatihannya, batalyon Arab tersebut dikirimkan ke Yunani. Tugas awal mereka adalah menjaga jalur kereta api yang vital di sebelah utara Salonika. Batalyon itu berada di daerah di dekat Laut Aegea ini hingga musim semi 1944, dimana mereka kemudian dipindahkan ke Pelopennesus. Disana mereka ditugaskan sebagai satuan pengamanan di bawah komando Divisi Perbentengan Jerman ke-41.

Di antara unit-unit Jerman yang bertugas di Yunani terdapat sebuah kesatuan yang ganjil. Di antaranya adalah unit-unit hukuman Angkatan Darat. Banyak di antara anggotanya adalah bekas tahanan politik yang anti-Nazi, yang direkrut karena mesin perang Jerman kekurangan sumber daya manusia untuk mempertahankan dan menjaga wilayah kekuasaannya yang sebegitu luas. Akibatnya, kesetiaan mereka terhadap Hitler sangat diragukan, dan malahan banyak yang membelot ke pihak gerilyawan Yunani!

Sebagai unit pengamanan, Batalyon 845 kadang kala bertugas dengan para prajurit hukuman tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengaruh buruk para prajurit anti-Nazi itu tersebar pula di kalangan para prajurit Arab. Bahkan terdapat beberapa kasus desersi dalam Batalyon 845. Misalnya, kasus tiga orang prajurit Arab yang melakukan desersi dengan membawa senjata mereka pada bulan November 1943.

Demoralisasi juga melanda para prajurit Arab. Hauptmann von Voss, komandan kompi ke-1 batalyon tersebut, menceritakan beberapa kasus menarik mengenai mentalitas orang-orang Arab itu.

Kisah pertama berhubungan dengan seorang prajurit bernama Ali ben Mohammed. Pada suatu hari, dia mendatangi perwira medis dan meminta agar dirumahsakitkan. Namun setelah diperiksa, si perwira menemukan bahwa Ali benar-benar sehat!

"Mengapa kamu ingin dirumahsakitkan?" tanya perwira itu heran, "kamu kan tidak sakit?"

"Yang lain dirawat di rumah sakit. Kenapa aku tidak bisa?" tukas Ali.

"Kamu sehat, jadi kamu tidak boleh dirumahsakitkan!" bentak si perwira.

Ali berbalik ke arah pintu, yang mempunyai sebuah panel kaca. Dia kemudian membenturkan kepalanya ke panel itu. Berlumuran darah dan dengan pecahan kaca menancap di kulit kepalanya, dia mendatangi perwira medis itu lagi dan berkata, "sekarang saya sudah sakit, bukan?"

Pada kesempatan lainnya dalam suatu latihan, seorang prajurit bernama Mahmood tiba-tiba melemparkan senapannya dan merebahkan tubuh di tanah.

"Ich nicht soldat (saya bukan prajurit)!" jeritnya.

Salah seorang rekannya, yang merasa malu dengan kelakuan Mahmood, mencabut bayonetnya dan menyayat kepalanya sendiri sebanyak lima atau enam kali hingga membuat tulang di bawah kulit kepalanya terlihat!

Sikap menjunjung tinggi kehormatan diri dalam budaya Arab sendiri menimbulkan sejumlah masalah serius di dalam batalyon itu. Pada suatu hari, dua orang Arab mengejek seorang prajurit karena kecenderungan homoseksualnya. Pada malam harinya, prajurit yang diejek itu mengambil senapannya, menempelkannya di belakang telinga salah seorang pengejeknya, dan menarik picunya!

Selama bertugas di kawasan pegunungan Helicon di Yunani Selatan, Batalyon 845 membuktikan kemampuannya dalam memerangi gerilyawan ELAS Yunani yang berhaluan Komunis. Berkat pelatihan dan naluri alaminya, para prajurit Arab dengan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai taktik para gerilyawan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa agen Sekutu yang dikirimkan untuk membantu gerilyawan Yunani.

Keberanian para prajurit Arab dalam menantang maut serta menahan rasa sakit juga mengundang rasa kagum dari atasan Jerman mereka. Sekalipun demikian, Hauptmann von Voss juga mengkritik anak buahnya karena kecenderungan mereka untuk menjarah dan memperkosa, terutama selama pertempuran di Kyriaki.

Efektifitas Batalyon 845 membuat komando Jerman berencana untuk meningkatkan kekuatannya. Para sukarelawan tambahan, yang terdiri atas orang-orang Arab yang tinggal di Eropa dan sejumlah tawanan perang Sekutu, dikumpulkan di Zwetll, Cekoslowakia, pada awal September 1944. Namun rencana untuk membentuk sebuah unit baru yang akan ditempatkan pada batalyon tersebut tidak pernah terwujud karena arah peperangan yang semakin merugikan Jerman.

Menjelang akhir musim panas tahun 1944, pasukan Jerman di Yunani terancam terpotong oleh serangan besar-besaran Tentara Merah yang telah menaklukkan Bulgaria dan Rumania serta sedang bergerak maju memasuki Yugoslavia dan Hungaria. Untuk menghindari bencana itu, pada bulan Oktober 1944 pasukan Jerman mulai menarik diri dari Yunani selatan menuju Yugoslavia. Batalyon 845 sendiri bertugas melindungi penarikan mundur tersebut.

Batalyon 845 mengundurkan diri melalui rute Larissa di Yunani, Bitolj, dan Skoplje di Makedonia, lalu Kraljevo dan Uzice di Serbia. Mereka sempat terlibat pertempuran sengit dengan kaum partisan Yugoslavia untuk memperebutkan Bukit 734 di Uzice. Pada bulan Februari 1945, akhirnya mereka tiba di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Setelah beristirahat dan direorganisasi, batalyon Arab itu ditugaskan di kawasan antara sungai Sava dan Danube.

Pada bulan Maret dan April 1945, batalyon Arab itu beroperasi di sebelah tenggara Vinkovci di Srem. Pada akhir bulan April mereka ditarik mundur ke Vukovar, sebelum akhirnya ditempatkan di sebelah barat Zagreb, Kroasia. Di tempat itulah riwayat batalyon Arab tersebut berakhir. Mereka menyerah kepada kaum Partisan, yang menempatkan orang-orang Arab itu di sebuah kamp tawanan khusus hingga mereka dibebaskan satu tahun kemudian.


Sumber :
Buku "Der Freiwillige: Kisah-Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Hitler" karya Nino Oktorino
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/02/deutsche-arabische-infanteri-bataillon.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Free_Arabian_Legion

Sunday, August 16, 2020

Fallschirmjäger Eben Emael

Bisa dibilang bahwa inilah foto paling terkenal yang memperlihatkan para Fallschirmjäger (pasukan terjung payung) Jerman pemberani dari Sturmgruppe Granit / Sturmabteilung Koch yang menyerbu benteng Eben-Emael (Belgia) pada tahun 1940. Mereka difoto sekembalinya di barak Köln-Delbrück, Jerman, pada tanggal 12 Mei 1940, tak lama sebelum upacara penganugerahan medali Eisernes Kreuz II.Klasse untuk para anggota Sturmabteilung Koch. Tapi siapakah sebenarnya mereka? Dari kiri ke kanan: Edmund 'Eddi' Schmidt (Trupp 4. Meninggal tahun 1991), Gerhard Becker (Trupp 5. Meninggal tahun 1986), Franz Jannowski (Trupp 5. Nasib setelahnya tidak diketahui), Karl Polzin (Trupp 4. Tewas ditembak oleh rekan sendiri saat mabuk-mabukan pada tahun 1941), Wilhelm Stucke (Trupp 1. Terbunuh dalam Pertempuran Kreta tahun 1941), Harm Mülder (Trupp 7. Nasib setelahnya tidak diketahui), Wilhelm Ölmann (Trupp 2. Nasib setelahnya tidak diketahui), dan Peter Zirwes (Trupp 6. Terbunuh di Rusia tahun 1942). Sebagai fotografernya adalah Oberfeldwebel Helmut Wenzel (Trupp 4). Terlihat sebagian muka dan helm mereka dilumuri oleh tanah liat sebagai sebuah tindakan kamuflase sederhana. Para Fallschirmjäger dalam foto ini mengenakan jaket penerjun payung model pertama, dengan dalaman Fliegerbluse. Uniknya, Jäger Schmidt di sebelah kiri mengenakan hoheitsadler (lambang elang) Heer dan bukannya Luftwaffe. Ini karena pada awalnya pasukan penerjun payung Jerman dibentuk oleh Angkatan darat sebelum kemudian dialihtugaskan ke Angkatan Udara. Sebagian anggota awal memilih untuk tetap mengenakan jaket lama dengan adler Heer, sebagai sebuah kebanggaan bahwa mereka termasuk ke dalam generasi pertama Fallschirmjäger Jerman.

Sumber :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10215206242104111&set=gm.3765629170130883&type=1&theater

Saturday, August 1, 2020

Theodor Eicke Komandan Divisi Totenkopf di Demyansk

 SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Theodor Eicke (Kommandeur SS-Division Totenkopf) bersama dengan ajudannya, SS-Hauptsturmführer Otto Friedrich (kanan), di wilayah Demyansk pada tanggal 1 Mei 1942, dimana unitnya telah terkepung oleh pasukan Rusia dari sejak tanggal 8 Februari 1942. Dalam Pertempuran tersebut Eicke ikut merasakan penderitaan para prajuritnya. Dia berkemah di tumpukan salju, mengenakan pakaian basah selama berhari-hari, berkali-kali terekspos oleh tembakan musuh, dan memakan ransum yang sama seperti yang diterima oleh prajurit berpangkat paling rendah! Tidak heran kalau anakbuahnya menjadi begitu memuja pimpinan mereka, dan memanggil Eicke dengan sebutan "Papa". Ajudannya Friedrich mempunyai akhir kehidupan yang sama dengan bossnya: mereka berdua tewas saat pesawat yang membawanya jatuh satu tahun kemudian. Pada tanggal 26 Februari 1943, selama berlangsungnya fase awal Pertempuran Ketiga Kharkov, pesawat pengintai ringan Fieseler Fi 156 Storch yang membawa mereka ditembak jatuh oleh senjata anti-pesawat Rusia diantara desa Artil'ne dan Mykolaivka, sekitar 105 kilometers di selatan Kharkov dekat Lozova. Pesawat tersebut jatuh di wilayah yang masih dikuasai oleh pasukan Soviet. Mengetahui kabar mengejutkan tersebut, Divisi Totenkopf mengirimkan beberapa unit kecil berani mati demi untuk menyelamatkan jenazah pemimpin mereka. Mereka akhirnya berhasil setelah kehilangan beberapa orang prajuritnya. Eicke lalu dimakamkan dengan penuh penghormatan di komplek pemakaman divisi di dekat Orelka. Nantinya, setelah pasukan Jerman dipaksa untuk mundur dari Front Timur, sisa-sisa jenazahnya kemudian dipindahkan ke Kiev oleh beberapa orang perwira staff Totenkopf.

Sumber :
https://ritterkreuztraeger.blogspot.com/2020/07/theodor-eicke-in-demyansk.html

Thursday, May 7, 2020

Anggota Polizei Membersihkan Senjata

 Wachtmeister Freber, seorang anggota ORPO (Ordnungspolizei), sedang membersihkan pegangan bawah senapan mesin MG-34 yang telah dilepaskan. Berdasarkan keterangan dari buku "ORPO Waffentechnischer Leitfaden", Bagian yang menonjol ke depan adalah engsel tempat pegangan diputar saat sedang mengganti laras senapan. Freber sendiri memegang sebuah kuas kecil yang digunakan untuk membersihkan kotoran yang menempel di bagian luar senapan. Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL edisi bahasa Belanda, yang menceritakan tentang sebuah batalyon Polizei dalam gerak maju ke wilayah Leningrad di tahun 1941. Caption aslinya berbunyi: "Politieagenten brengen veslag uit de straatgevechten van Staro Panowo: Wachtmeister Freber had tussen de onoverzichtelijke ruines het contact met zijn kameraden verloren en zag zich plotseling door tien sowjetgeweren bedreigd. -- "Zij hebben me een paar straten naar achteren gebracht, maar vraag niet hoe" vertelt hij hier. -- Met schoppen en slagen van geweekolven op m'n hoofd. Maar ik ben Rijnlander en kan tegen een stootje. En toen 't donker werd ben ik 'm weer fijn gesmeerd" (Laporan resmi seorang anggota polisi mengenai pertempuran jalanan di Staro Panovo: Wachtmeister Freber telah kehilangan kontak dengan rekan-rekan seperjuangannya di sebuah reruntuhan bangunan, dan tiba-tiba kini berada dalam todongan senapan dari 10 orang prajurit Soviet. 'Mereka menyeretku ke jalanan sejauh beberapa blok, tapi tidak bertanya apa-apa kepadaku..' dia berkata. 'Mereka juga menendang dan memukul kepalaku dengan popor senapan. Tapi aku seorang Rheinlander - orang yang berasal dari Rhineland - sehingga aku masih cukup kuat untuk menerima semua siksaan tersebut. Dan ketika hari telah gelap, aku dapat dengan mudah meloloskan diri...). BTW, dalam foto ini Wachtmeister Freber tampak sedang ngelepus tembakau melalui pipa cangklong, yang dinamakan sebagai pipa meerschaum. Tindakan seperti ini secara teori sangat tidak dianjurkan, karena abu rokok yang terbuang berpotensi mengotori senapan yang telah dibersihkan, atau bahkan menimpa sisa-sisa mesiu yang masih tertinggal!


Sumber :
https://www.antik1941.ru/new_catalog/?mode=descr&item_id=25883
https://mundosgm.com/index.php?topic=947.0

Thursday, April 23, 2020

Tertangkapnya Otto Elfeldt di Falaise

Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Friedrich Von Criegern (Chef des Generalstabes LXXXIV. Armeekorps), Generalleutnant Otto Elfeldt (Mit der Führung beauftragt LXXXIV. Armeekorps), dan Major im Generalstab Hasso Viebig (Ia Erster Generalstabsoffizier LXXXIV. Armeekorps). Ketiga perwira Wehrmacht ini baru saja ditangkap oleh pasukan Sekutu di Saint-Lambert-sur-Dive, Normandia, pada tanggal 20 Agustus 1944. Sambil menunggu evakuasi ke garis belakang, mereka ngobrol santai sambil ngudud rokok cap Siluman Tulen. Saat semua unit-unit Jerman yang masih mempunyai kekuatan tempur diperintahkan untuk keluar dari kepungan Sekutu di Kantong Falaise di malam tanggal 19-20 Agustus 1944, Jenderal Elfeldt dan Korps pimpinannya ditugaskan untuk berjaga dan melindungi usaha terobosan unit-unit Jerman yang dipecah menjadi beberapa Kampfgruppe (Grup Tempur) tersebut. Di awal pagi tanggal 20 Agustus, Elfeldt memimpin sebuah tim kecil dalam usahanya untuk mengitari kota Saint Lambert yang diduduki oleh musuh, tapi usahanya menemui kegagalan saat dia dikejutkan dan ditangkap oleh elemen-elemen dari Divisi Lapis Baja Polandia ke-1. Pada sore hari tanggal 21 Agustus 1944, kantong pengepungan di Falaise akhirnya tertutup rapat, dengan sekitar 50.000 orang prajurit Jerman yang terperangkap di dalamnya. Meskipun banyak pula yang berhasil lolos dari kepungan, tapi kerugian yang diderita oleh Hitler dalam peristiwa ini - baik dari segi sumber daya manusia maupun mesin perang - terhitung kolosal! Elfeldt sendiri kemudian menjadi tawanan Inggris dan dipenjarakan di Island Farm Special Camp 11 di Wales


Sumber :
https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/photograph-of-lieutenant-general-otto-elfeldt-taken-news-photo/513686027
http://www.specialcamp11.co.uk/Generalleutnant%20Otto%20Elfeldt.htm

Sunday, November 17, 2019

Awak Panzer 38(t) dari 7. Panzer-Division

Sebuah foto terkenal masa Perang Dunia II hasil jepretan Kriegsberichter Erich Borchert, yang memperlihatkan seorang awak Panzer 38(t) dari 7. Panzer-Division pimpinan Generalmajor Erwin Rommel, yang diambil pada tanggal 4 Juli 1940 di Prancis. Baret panzer berlapis - yang mempunyai nama resmi Schutzmütze - secara resmi ditinggalkan penggunaannya pada tanggal 15 Januari 1941 untuk kemudian digantikan oleh feldmütze (topi lapangan), meskipun sedikit pengecualian telah diberikan kepada para awak PzKpfw 38(t) karena interior tanknya yang sempit. Pada prakteknya, sebagian besar awak PzKpfw 38(t) telah beralih untuk memakai topi lapangan pada saat dimulainya Unternehmen Barbarossa (penyerbuan Jerman atas Uni Soviet) pada musim panas tahun 1941.


Sumber :
Buku "Panzer 38(t) vs BT-7: Barbarossa 1941" karya Steven J. Zaloga

Monday, May 6, 2019

Para Komandan Peleton dari Pionier Bataillon 25

 Foto yang diambil dari buku "Island of Fire" karya Jason D. Mark ini (halaman 52) memperlihatkan empat orang Zugführer (Komandan Peleton) dari Pionier-Bataillon 25 - sebuah batalyon zeni yang berada di bawah komando langsung 6. Armee - yang berfoto bersama di musim panas tahun 1942, selama berlangsungnya Unternehmen Blau (Operasi Biru), yaitu gerak maju pasukan Jerman di selatan Uni Soviet. Dari kiri ke kanan: Leutnant Emil Gräf (1. Kompanie), Leutnant Anton Locherer (2. Kompanie), Leutnant Fritz Molfenter (2. Kompanie), dan Leutnant Karl Vögele (2. Kompanie). Mereka semua bergaya "ngeboss" dengan cerutu tertempel di mulut! Pionier-Bataillon 25 sendiri merupakan perpaduan yang tepat dari pengalaman dan darah muda. Kebanyakan dari perwiranya pernah menjadi prajurit atau bintara dari batalyon yang sama selama berlangsungnya kampanye militer di Polandia (1939) dan Prancis (1940). Bisa dibilang bahwa Pionier-Bataillon 25 merupakan satu dari sedikit unit Wehrmacht dimana anggotanya menghabiskan seluruh karir militer mereka di unit yang sama. Apabila mereka terluka, dilatih ulang atau mendapat promosi kenaikan pangkat, maka kemungkinan sangat besar bahwa mereka akan dikembalikan lagi ke unit tercinta mereka. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Ini semata sebagai keistimewaan dari salah satu unit zeni tertua yang dimiliki oleh Angkatan Darat Jerman! Di musim panas tahun 1942, batalyon pimpinan Hauptmann Dr. Ludwig Büch ini berkekuatan 451 orang, yang terdiri dari 11 perwira, 1 petugas administrasi, 43 bintara dan 396 prajurit. Kekuatannya terdiri atas tiga kompi: kompi pertama dipimpin oleh Oberleutnant Max Bunz, kompi kedua dipimpin oleh Oberleutnant Walter Heinrich, dan kompi ketiga dipimpin oleh Oberleutnant Eberhard Warth.


Sumber :
Buku "Island Of Fire: The Battle For the Barrikady Gun Factory In Stalingrad November 1942 - February 1943" karya Jason D. Mark

Sunday, April 28, 2019

Anggota Polizei sedang Membersihkan Senapan

 Wachtmeister Freber, seorang anggota ORPO (Ordnungspolizei), sedang membersihkan pegangan bawah senapan mesin MG-34 yang telah dilepaskan. Berdasarkan keterangan dari buku "ORPO Waffentechnischer Leitfaden", Bagian yang menonjol ke depan adalah engsel tempat pegangan diputar saat sedang mengganti laras senapan. Freber sendiri memegang sebuah kuas kecil yang digunakan untuk membersihkan kotoran yang menempel di bagian luar senapan. Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL edisi bahasa Belanda, yang menceritakan tentang sebuah batalyon Polizei dalam gerak maju ke wilayah Leningrad di tahun 1941. Caption aslinya berbunyi: "Politieagenten brengen veslag uit de straatgevechten van Staro Panowo: Wachtmeister Freber had tussen de onoverzichtelijke ruines het contact met zijn kameraden verloren en zag zich plotseling door tien sowjetgeweren bedreigd. -- "Zij hebben me een paar straten naar achteren gebracht, maar vraag niet hoe" vertelt hij hier. -- Met schoppen en slagen van geweekolven op m'n hoofd. Maar ik ben Rijnlander en kan tegen een stootje. En toen 't donker werd ben ik 'm weer fijn gesmeerd" (Laporan resmi seorang anggota polisi mengenai pertempuran jalanan di Staro Panovo: Wachtmeister Freber telah kehilangan kontak dengan rekan-rekan seperjuangannya di sebuah reruntuhan bangunan, dan tiba-tiba kini berada dalam todongan senapan dari 10 orang prajurit Soviet. 'Mereka menyeretku ke jalanan sejauh beberapa blok, tapi tidak bertanya apa-apa kepadaku..' dia berkata. 'Mereka juga menendang dan memukul kepalaku dengan popor senapan. Tapi aku seorang Rheinlander - orang yang berasal dari Rhineland - sehingga aku masih cukup kuat untuk menerima semua siksaan tersebut. Dan ketika hari telah gelap, aku dapat dengan mudah meloloskan diri...). BTW, dalam foto ini Wachtmeister Freber tampak sedang ngelepus tembakau melalui pipa cangklong, yang dinamakan sebagai pipa meerschaum. Tindakan seperti ini secara teori sangat tidak dianjurkan, karena abu rokok yang terbuang berpotensi mengotori senapan yang telah dibersihkan, atau bahkan menimpa sisa-sisa mesiu yang masih tertinggal!


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?t=126293

Friday, November 9, 2018

Jagoan Panzer Herbert Gomille

 Oberstleutnant Herbert Gomille (15 Oktober 1913 - 18 Mei 2009) adalah seorang jagoan panzer yang, bersama dengan Hauptmann Joachim Barth (Chef 1.Kompanie / Panzerjäger-Abteilung 13), berhasil menghancurkan 33 buah tank Soviet dalam pertempuran sengit di bulan September 1942 yang berlangsung selama tiga hari! Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 25 Oktober 1942 sebagai Hauptmann dan  Kommandeur II.Abteilung / Panzer-Regiment 4 / 13.Panzer-Division / III.Panzerkorps / 1.Panzerarmee / Heeresgruppe A. Pada tanggal 5 Mei 1943 dia berada di Panzertruppenschule Wünsdorf, tapi hanya beberapa bulan kemudian (10 Juli 1943) dipromosikan sebagai Kommandeur III.Schwere-Abteilung (Tiger) / Panzer-Regiment "Großdeutschland" yang merupakan unit elit Wehrmacht. Pada tanggal 10 Maret 1944 Gomille ditarik kembali dari front dan menjadi staff Inspekteur der Panzertruppen. Tidak diketahui lagi penempatannya setelahnya. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (29 September 1939) und I.Klasse (23 Mei 1940); serta Deutsches Kreuz in Gold (24 Februari 1942). Foto ini memperlihatkan saat Gomille nongkrong di atas turet befehlspanzer (tank komando), sambil ngudud rokok cap "Raja Ifrit". Di kepalanya terpasang kopfhörer (headphone) dan Kehlkopfmikrofon (mikrofon tenggorokan), yang merupakan alat komunikasi utama seorang komandan panzer


Source :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2013/10/album-foto-13-panzer-division.html