
Para imam dari Divisi Handschar (saat itu namanya masih Kroatische
SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division) dalam acara kunjungan ke
Badelsberg/Potsdam, Jerman, pada bulan Juli 1943. Berdiri dari kiri ke
kanan: Imam Husejin Džozo, Imam Ahmed Skaka, Imam Hafiz Mehmed Hajrović,
SS-Schütze Zvonimir Bernwald, SS-Obersturmführer Heinrich Gaese, Imam
Divisi Abdulah Muhasilović, seorang Jerman yang tak diketahui namanya
yang nyempil di belakang kayak upil, Imam Haris Korkut, Imam Džemal
Ibrahimović, Imam Hasan Bajraktarević, Imam Salih Šabanović, Imam Fikret
Mehmedagić, seorang Jerman yang tak diketahui namanya yang tertutup oleh Mehmedagić, dan Imam
Sulejman Alimajstrović. Jongkok dari kiri ke kanan: Imam Muhamed
Mujakić, Imam Mustafa Hadžimulić, Imam Kasim Mašić, Imam Hasim Torlić,
dan Imam Osman Delić. Anggota rombongan yang tidak ikut nampang dalam
foto ini adalah Imam Halim Malkoć dan SS-Unterscharführer Albert Bauer.
Wehrmacht, Waffen SS, Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine, Nazi, German, Germany, Army, Air Force, Navy, Armed Forces, Schutzstaffel, World War II, WW2, WWII, Adolf Hitler, Afrikakorps, Fallschirmjäger, Panzertruppen, Panzer, U-boat, Brandenburgers, Ace, Stuka, Day, Night, Pilot, Captain, General, Admiral, Officer, Jerman, NSDAP, Holocaust, Halftrack, Soldiers, Soldat, Landser, Mortar, Aircraft, Tank, PaK, Infantry, Cavalry, Artillery, Flak, Anti-Aircraft, Military, Operation
Tuesday, July 4, 2023
Para Imam Divisi SS Handschar
Saturday, June 24, 2023
Prajurit Handschar Bersiap untuk Makan

Para prajurit muslim Bosnia dari 13. Waffen-Gebirgs-Division der SS "Handschar" (kroatische Nr. 1) menunggu giliran untuk menikmati makanan halal yang sedang dimasak oleh koki divisi menggunakan Feldkochherd (FKH) alias "Gulaschkanone". Ikut mengawasi di sebelah kiri adalah komandan mereka yang berkebangsaan Jerman, yang berpangkat SS-Hauptsturmführer (Kapten). Foto hasil pewarnaan oleh Julius Jääskeläinen ini diambil pada bulan Maret 1944 sewaktu berlangsungnya "Unternehmen Wegweiser" (Operation Signpost). Dari tanggal 10 s/d 13 Maret 1943, Divisi Handschar menyerbu kantong pertahanan Partisan Yugoslavia di wilayah Syrmia, terutama di hutan-hutan sekitar Bosut dan pedesaan di pinggir sungai Sava. Kelompok gerilyawan Komunis di wilayah ini menjadi ancaman terus-menerus bagi jalur kereta api strategis yang menghubungkan Zagreb dengan Beograd. Unternehmen Wegweiser juga menjadi operasi militer pertama yang melibatkan Handschar, sekaligus pertempuran pertama mereka setelah berbulan-bulan menjalani pelatihan intensif di Prancis dan Jerman.
Sumber ;
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Men_of_the_Handschar_division_waiting_for_food_in_the_Balkan_Mountains,_Bosnia,_March_1944._(49492152336).jpg
https://handzar.jimdofree.com/ratne-operacije/maiglockchen/
Friday, June 23, 2023
Amin al-Husseini dan Sukarelawan Muslim Wehrmacht

Amin al-Husseini, mantan Mufti Yerusalem yang tinggal di pengasingan di Jerman, melakukan sesi ramah-tamah dengan prajurit-prajurit Wehrmacht yang merupakan sukarelawan muslim dari wilayah Timur, khususnya Kaukasus. Dalam kesempatan tersebut, sang Mufti menerima salinan surat kabar propaganda "Ostfront" dari para sukarelawan Azerbaijan. Foto ini diambil pada tanggal 19 Desember 1942 di Haus der Flieger, Berlin, sewaktu berlangsungnya pembukaan "Islamische Zentral-Institut", sekaligus sebagai perayaan Idul-Adha untuk orang-orang Islam yang tinggal di Jerman, yang jatuh di hari Jum'at sehari sebelumnya.
Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Amin_al-Husseini
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_147-0483,_Berlin,_Besuch_Amin_el_Husseini.jpg
Sunday, June 18, 2023
Sukarelawan SS Bosnia Berlatih di Pegunungan

Prajurit-prajurit sukarelawan Bosnia dari Kroatische SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division (yang nantinya berganti nama menjadi 13. Waffen-Gebirgs-Division der SS Handschar) melakukan latihan militer di pegunungan bersalju di Jerman, sebelum nantinya diterjunkan ke wilayah Balkan yang menjadi rumah mereka. Foto ini diambil di musim panas tahun 1943, dengan keterangan asli berbunyi: "Leben sehen die Männer aus dem Süden Schneeberge im Sommer." (untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, orang-orang dari Selatan ini melihat pegunungan yang diselimuti salju di musim panas!)
Sumber :
https://hindi.fansshare.com/community/uploads32/7110/ferid_d__ani__/?d=german.fansshare.com
https://oper-1974.livejournal.com/1453438.html
Sunday, April 3, 2022
Legion Freies Arabien
Foto propaganda hasil jepretan Kriegsberichter Schlickum dari Propaganda-Kompanie 690 ini memperlihatkan tiga orang anggota Legion Freies Arabien - salah seorang di antaranya berkulit hitam - yang sedang bersantai di sebuah tempat di Yunani, tanggal 23 September 1943. Si hitam nampaknya sedang bercanda sambil berakrobat di hadapan teman-temannya, yang terbukti dari kursi "maut" yang ia duduki, yang berada di atas kereta yang ditarik oleh dua ekor keledai!
Ketika Perang Dunia II berkobar, sejumlah tokoh nasionalis Arab berpaling pada Jerman Nazi untuk memperoleh bantuan guna membebaskan negeri mereka dari kekuasaan Inggris serta mencegah pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina. Demi mencapai cita-citanya itu, mereka juga meminta bantuan Hitler untuk membentuk dan mempersenjatai sebuah tentara pembebasan Arab yang akan berjuang bersama-sama pasukan Poros.
Tokoh Arab yang memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertempur di bawah komando kaum Nazi adalah Mufti Besar Yerusalem, Amin al-Husayni (Huseini). Pada tahun 1942, beberapa bulan setelah kedatangannya di Jerman, dengan seizin Hitler dia mulai membentuk apa yang dinamakannya sebagai Al-Mufraza al-Arabia al-Hura. Anggotanya direkrut dari antara para pelajar Arab yang berada di Jerman, para tawanan perang Arab yang ditangkap saat bertugas dengan tentara Sekutu, dan para pelarian yang mengikutinya ke Jerman. Mereka mengenakan seragam standar Wehrmacht yang disulam dengan panji bertuliskan "Freies Arabien" (Arab Merdeka).
Legiun Arab ini dihimpun di bawah komando Deutsche-Arabische Lehrabteilung. Sebagian di antara mereka dikirimkan ke Rusia Selatan untuk membantu Hitler merebut ladang-ladang minyak Irak melalui Kaukasus. Yang lainnya ditugaskan di bawah Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang memimpin Afrikakorps untuk merebut Timur Tengah lewat Mesir. Mereka terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Merah Soviet maupun Inggris, menderita korban besar, dan gagal memenuhi ambisi Sang Mufti untuk menjadi pasukan pelopor pembebasan bangsa Arab dari tangan tirani asing.
Pada bulan Mei 1943, setelah kekalahan pihak Poros di Tunisia dan penarikan tentara Jerman dari Kaukasus, OKW memerintahkan agar sisa-sisa sukarelawan Arab dari Deutsche-Arabische Lehrabteilung, yang sebagian besar terdiri atas orang Maroko, dihimpun ke dalam sebuah unit baru: Deutsche-Arabische Infanterie Bataillon 845.
Kader batalyon tersebut disusun di kamp pelatihan Döllersheim yang berada di utara Linz, Austria. Pada awalnya, batalyon Arab itu terdiri atas empat kompi. Sekalipun dibentuk sebagai sebuah batalyon infanteri, tetapi salah satu kompinya merupakan sebuah unit pasukan payung! Batalyon itu sendiri terutama dilatih dalam taktik-taktik perang gerilya.
Pada bulan November 1943, setelah menyelesaikan pelatihannya, batalyon Arab tersebut dikirimkan ke Yunani. Tugas awal mereka adalah menjaga jalur kereta api yang vital di sebelah utara Salonika. Batalyon itu berada di daerah di dekat Laut Aegea ini hingga musim semi 1944, dimana mereka kemudian dipindahkan ke Pelopennesus. Disana mereka ditugaskan sebagai satuan pengamanan di bawah komando Divisi Perbentengan Jerman ke-41.
Di antara unit-unit Jerman yang bertugas di Yunani terdapat sebuah kesatuan yang ganjil. Di antaranya adalah unit-unit hukuman Angkatan Darat. Banyak di antara anggotanya adalah bekas tahanan politik yang anti-Nazi, yang direkrut karena mesin perang Jerman kekurangan sumber daya manusia untuk mempertahankan dan menjaga wilayah kekuasaannya yang sebegitu luas. Akibatnya, kesetiaan mereka terhadap Hitler sangat diragukan, dan malahan banyak yang membelot ke pihak gerilyawan Yunani!
Sebagai unit pengamanan, Batalyon 845 kadang kala bertugas dengan para prajurit hukuman tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengaruh buruk para prajurit anti-Nazi itu tersebar pula di kalangan para prajurit Arab. Bahkan terdapat beberapa kasus desersi dalam Batalyon 845. Misalnya, kasus tiga orang prajurit Arab yang melakukan desersi dengan membawa senjata mereka pada bulan November 1943.
Demoralisasi juga melanda para prajurit Arab. Hauptmann von Voss, komandan kompi ke-1 batalyon tersebut, menceritakan beberapa kasus menarik mengenai mentalitas orang-orang Arab itu.
Kisah pertama berhubungan dengan seorang prajurit bernama Ali ben Mohammed. Pada suatu hari, dia mendatangi perwira medis dan meminta agar dirumahsakitkan. Namun setelah diperiksa, si perwira menemukan bahwa Ali benar-benar sehat!
"Mengapa kamu ingin dirumahsakitkan?" tanya perwira itu heran, "kamu kan tidak sakit?"
"Yang lain dirawat di rumah sakit. Kenapa aku tidak bisa?" tukas Ali.
"Kamu sehat, jadi kamu tidak boleh dirumahsakitkan!" bentak si perwira.
Ali berbalik ke arah pintu, yang mempunyai sebuah panel kaca. Dia kemudian membenturkan kepalanya ke panel itu. Berlumuran darah dan dengan pecahan kaca menancap di kulit kepalanya, dia mendatangi perwira medis itu lagi dan berkata, "sekarang saya sudah sakit, bukan?"
Pada kesempatan lainnya dalam suatu latihan, seorang prajurit bernama Mahmood tiba-tiba melemparkan senapannya dan merebahkan tubuh di tanah.
"Ich nicht soldat (saya bukan prajurit)!" jeritnya.
Salah seorang rekannya, yang merasa malu dengan kelakuan Mahmood, mencabut bayonetnya dan menyayat kepalanya sendiri sebanyak lima atau enam kali hingga membuat tulang di bawah kulit kepalanya terlihat!
Sikap menjunjung tinggi kehormatan diri dalam budaya Arab sendiri menimbulkan sejumlah masalah serius di dalam batalyon itu. Pada suatu hari, dua orang Arab mengejek seorang prajurit karena kecenderungan homoseksualnya. Pada malam harinya, prajurit yang diejek itu mengambil senapannya, menempelkannya di belakang telinga salah seorang pengejeknya, dan menarik picunya!
Selama bertugas di kawasan pegunungan Helicon di Yunani Selatan, Batalyon 845 membuktikan kemampuannya dalam memerangi gerilyawan ELAS Yunani yang berhaluan Komunis. Berkat pelatihan dan naluri alaminya, para prajurit Arab dengan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai taktik para gerilyawan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa agen Sekutu yang dikirimkan untuk membantu gerilyawan Yunani.
Keberanian para prajurit Arab dalam menantang maut serta menahan rasa sakit juga mengundang rasa kagum dari atasan Jerman mereka. Sekalipun demikian, Hauptmann von Voss juga mengkritik anak buahnya karena kecenderungan mereka untuk menjarah dan memperkosa, terutama selama pertempuran di Kyriaki.
Efektifitas Batalyon 845 membuat komando Jerman berencana untuk meningkatkan kekuatannya. Para sukarelawan tambahan, yang terdiri atas orang-orang Arab yang tinggal di Eropa dan sejumlah tawanan perang Sekutu, dikumpulkan di Zwetll, Cekoslowakia, pada awal September 1944. Namun rencana untuk membentuk sebuah unit baru yang akan ditempatkan pada batalyon tersebut tidak pernah terwujud karena arah peperangan yang semakin merugikan Jerman.
Menjelang akhir musim panas tahun 1944, pasukan Jerman di Yunani terancam terpotong oleh serangan besar-besaran Tentara Merah yang telah menaklukkan Bulgaria dan Rumania serta sedang bergerak maju memasuki Yugoslavia dan Hungaria. Untuk menghindari bencana itu, pada bulan Oktober 1944 pasukan Jerman mulai menarik diri dari Yunani selatan menuju Yugoslavia. Batalyon 845 sendiri bertugas melindungi penarikan mundur tersebut.
Batalyon 845 mengundurkan diri melalui rute Larissa di Yunani, Bitolj, dan Skoplje di Makedonia, lalu Kraljevo dan Uzice di Serbia. Mereka sempat terlibat pertempuran sengit dengan kaum partisan Yugoslavia untuk memperebutkan Bukit 734 di Uzice. Pada bulan Februari 1945, akhirnya mereka tiba di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Setelah beristirahat dan direorganisasi, batalyon Arab itu ditugaskan di kawasan antara sungai Sava dan Danube.
Pada bulan Maret dan April 1945, batalyon Arab itu beroperasi di sebelah tenggara Vinkovci di Srem. Pada akhir bulan April mereka ditarik mundur ke Vukovar, sebelum akhirnya ditempatkan di sebelah barat Zagreb, Kroasia. Di tempat itulah riwayat batalyon Arab tersebut berakhir. Mereka menyerah kepada kaum Partisan, yang menempatkan orang-orang Arab itu di sebuah kamp tawanan khusus hingga mereka dibebaskan satu tahun kemudian.
Sumber :
Buku "Der Freiwillige: Kisah-Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Hitler" karya Nino Oktorino
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/02/deutsche-arabische-infanteri-bataillon.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Free_Arabian_Legion
Tuesday, May 18, 2021
Sukarelawan Wehrmacht Berambut Gondrong Asal India
Belum pernah kan lihat tentara Wehrmacht gondrong? Nah, ini salah satu contoh penampakan langkanya! Foto ini memperlihatkan tiga orang tentara sukarelawan dari Legion Freies Indien (Legiun India Merdeka) yang sedang menjalani pelatihan militer di Truppenübungsplatz Beverloo, Belgia. Anggota unit ini - yang sebagian besarnya adalah orang-orang India yang bermukim di Eropa atau tawanan Inggris keturunan India - mendapat keistimewaan untuk tetap menjalankan tradisi keagamaan yang mereka anut, termasuk diantaranya adalah memanjangkan rambut serta menggunakan turban bagi orang-orang Sikh. Legion Freies Indien sendiri dibentuk pada tahun 1942, pada awalnya setingkat batalyon tapi kemudian membengkak menjadi sebuah resimen dengan kekuatan 3.000 orang. Sebuah panji lengan khusus sengaja dibuat untuk mereka, dalam bentuk perisai berisi bendera nasional India beserta gambar harimau. Seragam yang mereka kenakan sendiri umumnya adalah seragam tropis Jerman (tropenuniform). Mereka mempunyai nama resmi Infanterie-Regiment 950 (indische), di bawah pimpinan Oberstleutnant Kurt Krappe yang kharismatik. Unit sukarelawan India ini tercatat bertempur mulai tahun 1944 di Prancis, Belanda dan Italia, sebelum ditarik mundur ke Jerman. Mereka kemudian dialihtugaskan menjadi bagian dari Waffen-SS, dengan nama resmi Indische Freiwilligen Legion der Waffen-SS.Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?p=2343546#p2343546
Sunday, May 10, 2020
Parade Sukarelawan Wehrmacht Prancis di Paris
Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=9&t=153613&start=495
Sunday, December 29, 2019
Jenderal Jerman Menginspeksi Pelatihan Sukarelawan Turkistan
Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Turkestan_Legion
http://thirdreichcolorpictures.blogspot.com/2011/01/
Thursday, May 30, 2019
Oberst d.R. Ewert von Renteln dari Resimen Kosak Wehrmacht
Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/album-foto-sukarelawan-cossack-dalam.html
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=71&t=238291&p=2206053#p2206053
Tuesday, May 28, 2019
Perwira Resimen Sukarelawan Kosak Wehrmacht
Sumber :
https://foto-history.livejournal.com/1418296.html
Thursday, May 2, 2019
Kunjungan Vidkun Quisling ke Front Timur
Sumber :
https://no.wikipedia.org/wiki/Arthur_Qvist








