Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Barkmann's Corner

  Pada tanggal 27 Juli 1944, SS-Unterscharführer Ernst Barkmann baru saja kembali dengan Panther-nya dari front. Dalam perjalanan dia dihentikan oleh barisan prajurit infanteri SS yang sedang bergerak mundur. Mereka melaporkan bahwa unit lapis baja Amerika sedang mendekat. Barkmann memutuskan untuk mengirimkan dua orang awaknya untuk memverifikasi kebenaran laporan tersebut. Tak lama kemudian mereka kembali dengan berita bahwa 15 tank Sherman ditambah dengan beberapa kendaraan perang lainnya sedang mendekat. Barkmann memutuskan untuk menghadapi mereka tanpa menunggu perintah terlebih dahulu meskipun tak ada Panther lain yang menemaninya. Dia menggerakkan panzernya ke sudut jalan di dekat Le Lorey (Normandia) yang dilindungi oleh kerimbunan pohon ek sambil menunggu kedatangan musuh. Ketika rombongan tank Amerika akhirnya datang, Panther Barkmann mulai menembak dan menghancurkan dua tank terdepan serta sebuah truk tangki BBM di belakangnya. Dua Shermann berusaha memutari rongsokan kendaraan perang yang terbakar yang menghalangi jalan. Meriam Barkmann menyalak kembali. Satu buah tank Shermann meledak, diikuti oleh satunya lagi. Sisa kendaraan perang lainnya buru-buru mundur dari neraka tersebut sambil memanggil bantuan udara sehingga Panther Barkmann mengalami kerusakan dan beberapa awaknya terluka. Dengan menggunakan unsur dadakan serta memanfaatkan kebisingan suara pesawat, dua tank Sherman berusaha menyelinap dan menyerang Panther yang "terluka tersebut". tapi kemudian malah mereka yang berbalik dihancurkan oleh Barkmann! Dia dan awaknya lalu buru-buru memperbaiki panzer mereka yang rusak dengan tak lupa meng-K.O. dua tank Sherman lainnya dalam proses tersebut ditambah dengan satu Sherman terakhir dalam perjalanan kembali ke markas. Supirnya mampu menggerakkan Panther mereka yang rusak ke tempat yang aman di desa Neufborg yang terdekat. Dalam pertempuran luar biasa yang terkenal dengan nama "Barkmann's Corner" (Sudut Barkmann) tersebut, sang jagoan panzer Jerman mampu menghancurkan tidak kurang dari sembilan tank Sherman dan beberapa kendaraan perang lainnya. Atas prestasinya itu Barkmann diganjar dengan medali militer tertinggi Jerman, Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes. Lukisan ini dibuat oleh David Pentland, dan karya-karya dia lainnya bisa dilihat DISINI

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/koleksi-lukisan-perang-nazi-jerman.html

Lukisan Perwira Kavaleri Jerman

 Lukisan karya Paul Turoff buatan awal tahun 1940 berukuran 132cm x 93cm milik Philipp Towarisch ini memperlihatkan seorang Leutnant muda berwajah tampan dari unit kavaleri. Terdapat kisah menarik sekaligus mengharukan dibaliknya: dia berasal dari keluarga bangsawan Jerman dan gugur di Belgia tahun 1940 di usia 22 tahun. Tunangannya, yang juga berasal dari kaum bangsawan, bekerja di Kedutaan Besar Jerman di masa perang dan sesudahnya. Dia begitu mencintai pria tersebut walaupun telah tiada, dan selalu membawa lukisannya kemanapun dia pergi! Tak ada keterangan tentang nama sang perwira malang, tapi dari wappen (panji klan bangsawan) di kiri atas kita bisa tahu akan marganya. Wappen berbentuk setengah bendera Austria dan setengah roda kereta ini merupakan logo dari keluarga Von Cramon, keluarga bangsawan terkemuka Jerman yang terkenal dengan tradisi militernya


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/koleksi-lukisan-perang-nazi-jerman.html

Dogfight Bf 109 dari JG 53 vs Hurricane RAF

Pada tanggal 12 Agustus 1940, Jagdgeschwader 53 (JG 53) mendapatkan tugas untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (perburuan bebas) di sekitar wilayah pantai Portsmouth dan Isle of Wight, sebagai bagian dari dukungan terhadap pesawat-pesawat bomber Junkers Ju 88 dari Kampfgeschwader 51 (KG 51) yang sedang melakukan operasi pemboman di pelabuhan Portsmouth dan stasiun radar Ventnor di Isle of Wight. Sebagai pimpinan 1.Staffel / JG 53 adalah Hauptmann Hans-Karl Mayer, yang menerbangkan pesawat Messerschmitt Bf 109E-4 "Weiße 8", sementara yang bertugas sebagai Rottenflieger (wingman) adalah Unteroffizier Heinrich Rühl yang menerbangkan Bf 109E-1 "Weiße10". Terbang dengan ketinggian 8.500 meter, pada pukul 12:20 siang mata Mayer tiba-tiba memergoki tiga pesawat Hurricane Inggris yang sedang mengeroyok sebuah Messerschmitt Bf 110 yang sedang terbang sendirian. Meskipun pesawat Mayer dan Rottenflieger-nya langsung menukik menuju ke arah musuh, pilot Bf 110 yang panik keburu melompat keluar dari pesawatnya. Mayer memilih pesawat yang berada di sisi kanan, sementara Rühl di sisi kirinya. Sang Staffelkapitän memuntahkan 20 peluru kanon kaliber 20mm dan 80 peluru senapan mesin kaliber 7,92mm sebelum pesawat RAF (Royal Air Force) buruannya jatuh ke lautan dengan badan dipenuhi api, dan tercatat sebagai korban ke-10 dari Hans-Karl Mayer dalam Perang Dunia II. Sementara itu, Rühl membutuhkan seluruh persediaan peluru kanonnya dan 200 peluru senapan mesin sebelum pesawat musuhnya melengkung dengan lembut dan kemudian menghantam lautan. Mayer sekarang mengalihkan perhatiannya pada satu Hurricane yang tersisa, yang kini sedang mendapat giliran dikeroyok oleh pesawat-pesawat Staffel-nya. Tampaknya pilot terakhir ini cukup mahir, karena pesawat Mayer sempat terkena tembakan sebanyak enam kali. Yang terjadi selanjutnya adalah laporan pertempuran yang ditulis oleh Mayer seusai misinya: "Setelah menembak jatuh korban pertamaku, aku kembali pada dogfight (pertempuran udara) antara satu Hurricane yang tersisa melawan beberapa pesawat Staffel-ku. Aku segera menyerang pesawat tersebut dan mampu menembaknya sebanyak dua kali, sementara pesawatku sendiri terkena beberapa tembakan darinya. Pesawat musuh yang pincang tersebut berusaha untuk menyelamatkan diri ke arah pantai. Aku sendiri tetap mengejarnya, sementara teman-temanku kini kehilangan diriku di tengah kacaunya pertempuran. Meskipun pesawat musuh berusaha keras untuk mengecoh dan menghindar dariku, aku masih tetap dapat melepaskan beberapa tembakan yang mengenainya. Hurricane tersebut mulai mengeluarkan asap hitam, sebelum kemudian menukik di ketinggian rendah dan jatuh berkeping-keping saat menyentuh permukaan lautan". Mayer telah mencatatkan kemenangan keduanya di hari itu, setelah menghabiskan 10 peluru kanon dan 250 peluru senapan mesin untuk menghabisi korbannya yang terakhir. Meskipun tak dapat diketahui dengan pasti, kemungkinan besar tiga korban Mayer dan Rühl di hari itu adalah Pilot Officer John Harrison, Acting Flight Lieutenant Wilhelm Pankratz dan Sergeant Josef Kwiecinski, semuanya adalah pilot-pilot dari No.145 Squadron yang dilaporkan hilang di sekitar Isle of Wight di waktu yang bersamaan dengan klaim yang dikeluarkan oleh pihak Jerman.


Sumber :
Lukisan hasil karya Mark Postlethwaite dalam buku "Jagdgeschwader 53 'Pik-As' Bf 109 Aces of 1940" karya Chris Goss

Friday, January 17, 2020

Reenactment Era Third Reich

Foto ini terdapat dalam Wehrpaß (buku tugas) seorang prajurit Wehrmacht, dengan keterangan bahwa dia diambil pada tahun 1940. Uniknya, disini sang soldat dan teman-temannya mengenakan seragam prajurit Kerajaan Prusia dari abad ke-18. Pertanyaannya: apakah mereka sedang melakukan sesi reenactment ataukah hanya sekedar iseng-iseng nyobain pakaian zaman jebot? Keterangan lebih lanjut menyebutkan bahwa para prajurit ini sedang dilibatkan dalam syuting "Der Große König" (Raja Agung), film yang mengangkat kisah Raja legendaris Friedrich the Great dari Prusia, yang diadakan pada musim semi dan awal musim panas tahun 1940. Karena semua produk propaganda Jerman di masa perang - khususnya dalam hal ini adalah film - diproduksi serta diawasi langsung oleh negara, maka pemerannyapun seringkali diambil dari para PNS atau tentara yang telah mendapatkan cuti khusus demi untuk membintangi film tersebut. Khusus untuk "Der Große König" sendiri, para figurannya sebagian besar diambil dari unit Polizei-Infanterie-Regiment 1 dan Polizei-Ausbildungs-Bataillon Oranienburg. Film dengan masa putar 118 menit yang disutradarai oleh Veit Harlan ini dirilis untuk pertama kalinya pada tanggal 3 Maret 1942. Hasilnya bisa dibilang sukses besar, karena berhasil mendapatkan Piala Mussolini untuk gelar Film Asing Terbaik dalam Festival Film Venesia tahun 1942. Sambutan penontonpun tidak mengecewakan, karena dia mampu mendapatkan pemasukan enam juta Reichsmark (sementara biaya produksinya 4,7 juta Reichsmark). Sebagai peran utama dalam film ini - yang memerankan Friedrich the Great - adalah Otto Gebühr. Aktor kawakan yang begitu identik dengan sang Raja Friedrich karena telah memerankannya dalam 16 film yang berbeda! BTW, di era Third Reich juga seringkali diadakan acara reenactment untuk mengenang kebesaran Jerman di masa lalu, utamanya adalah event berkala di halaman Grosses Militair-Waisenhaus di Potsdam, yang diselenggarakan selama berlangsungnya acara Stiftungsfest (Festival Para Pendiri).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Great_King
https://www.forum-der-wehrmacht.de/index.php?thread/48211-polizei-infanterie-regiment-1-und-film-der-gro%C3%9Fe-k%C3%B6nig/
http://www.militaria-archive.com/AlbumsIII/Polizei-Ausbildungs-Bataillon-Oranienburg/index_2.html
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=1030312



Monday, December 2, 2019

Terbunuhnya Jenderal Gott di Afrika Utara

 Di siang hari tanggal 7 Agustus 1942, empat pesawat Messerschmitt Bf 109 dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" tinggal landas dari pangkalan mereka di Quotaifiya, yang terletak di jalan pantai Mediterania sekitar 72 kilometer sebelah barat El Alamein, Mesir. Mereka berangkat untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (Berburu Bebas) rutin di belakang garis pertahanan Sekutu. Di waktu yang bersamaan, sebuah pesawat transport Bristol Bombay dari Nr. 219 Squadron RAF (Royal Air Force) Inggris terbang sendirian dari Heliopolis ke front terdepan pertempuran di Mesir untuk mengambil prajurit-prajurit yang terluka, dan kemudian menerbangkannya kembali ke rumah sakit di Kairo. Di lapangan udara terdepan Sekutu di Burg-el-Arab, Sergeant Hugh "Jimmy" James, sang pilot Bombay berusia 18 tahun, diperintahkan untuk membawa seorang penumpang istimewa: Lieutenant-General William Gott, yang baru beberapa jam sebelumnya ditunjuk untuk menjadi Panglima Eighth Army Inggris menggantikan Jenderal Claude Auchinlek, dan kini membutuhkan pesawat transport secepatnya untuk terbang kembali ke Kairo demi menghadiri sebuah pertemuan penting. Pesawat Bombay biasanya terbang dalam ketinggian rendah - sekitar 15 meter di atas daratan - untuk menghindari terdeteksi oleh pesawat-pesawat Jerman yang berada di sekitarnya. Meskipun begitu, penerbangan kali ini terpaksa dilakukan di ketinggian 150 meter demi menghindari kondisi overheating dari mesin Bristol Pegasus XXII yang diusung oleh pesawat itu. Di ketinggian inilah - sewaktu sedang melintasi bagian tenggara Alexandria - pesawat transport lamban Bombay tersebut terlihat oleh "schwarm" (kawanan) Bf 109 yang terbang di atasnya, yang dipimpin oleh Oberfeldwebel Emil Clade. Dengan hanya bermodalkan dua senapan mesin Vickers sebagai alat pertahanan diri, Bristol Bombay jelas bukanlah tandingan dibandingkan dengan empat pesawat pemburu Luftwaffe dari 5.Staffel / JG 27 tersebut, yang kemudian menukik bagaikan elang dari ketinggian 6.000 meter. Rentetan tembakan dari Oberfeldwebel Clade membuat pilot James berusaha mendaratkan pesawatnya secara darurat. Saat para penumpang berusaha berhamburan keluar dari pesawat yang terbakar tersebut, Bf 109 yang dipiloti oleh Unteroffizier Bernhard Schneider tiba-tiba menukik lalu memberondong tembakan senapan mesin ke arah mereka. Ke-17 orang penumpang yang berada di daratan kehilangan nyawanya, dan hanya menyisakan satu yang selamat yang masih berada di dalam pesawat, yaitu pilot James. Diantara yang terbunuh di hari itu adalah Jenderal Gott - yang ironisnya, mempunyai julukan "Strafer" alias pemberondong - yang tercatat sebagai perwira dengan pangkat tertinggi Inggris yang tewas oleh musuh dalam Perang Dunia II! Pesawat Bombay yang dipiloti oleh Sergeant James sendiri adalah satu-satunya korban dari Freie Jagd Jerman di hari itu, tapi akibat yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari yang disadari oleh semua pihak: kematian Gott berakibat dibutuhkannya seorang pemimpin baru untuk Eighth Army Inggris, dan orang yang kemudian terpilih adalah seorang perwira tidak terkenal bernama Bernard Law Montgomery. Dialah yang nantinya memimpin kemenangan Sekutu dalam pertempuran menentukan El Alamein di Afrika Utara dua bulan kemudian, dan yang membuat "si Rubah Gurun" Erwin Rommel harus mundur dari Mesir. Tidak hanya itu, Montgomery pula orangnya yang menerima penyerahan seluruh pasukan Jerman di Eropa Barat dan Utara pada tanggal 4 Mei 1945...


Sumber :
Buku "Jagdgeschwader 27 Afrika" karya John Weal

Sunday, May 12, 2019

Lukisan Perwira 1. Gebirgs-Division

Lukisan karya Gisbert Palmié (1897-1986) berjudul "Vor der Schlacht" (Sebelum Pertempuran) ini dibuat pada tahun 1942 dan dipajang di Haus der Deutschen Kunst, Münich, sementara reproduksinya disebarluaskan melalui kartupos yang diedarkan di masa Perang Dunia II. Lukisan ini memperlihatkan sesi "Kommandeurbesprechung" (Pertemuan Komandan) dari 1. Gebirgs-Division pada tanggal 14 Juli 1941, yang digelar untuk merencanakan penyerangan terhadap Stalin Line, garis pertahanan Soviet di perbatasan dengan Polandia yang membentang sejauh 60-140 km. Selama beberapa waktu, sang pelukis telah menyertai perjalanan 1. Gebirgs-Division dalam penyerbuannya ke wilayah Rusia di tahun 1941. Dia membuat banyak lukisan dan sketsa selama masa tinggalnya tersebut, dengan "Vor der Schlacht" adalah yang paling terkenal diantara semuanya. Lukisan ini bahkan sampai membuat kesengsem Adolf Hitler, sehingga sang Führer membelinya seharga 22.000 Marks! Penyerbuan ke Stalin Line sendiri adalah salah satu prestasi 1. Gebirgs-Division yang paling menonjol dalam Perang Dunia II, dimana kesuksesannya telah membuahkan beberapa penghargaan Ritterkreuz untuk perwiranya. Meskipun mendapat tentangan dari atasannya Ludwig Kübler, dengan berani Divisionskommandeur Lanz memutar pasukan utamanya dan menusuk musuh dari arah samping dan belakang, sehingga membuat runtuhnya pertahanan musuh secara keseluruhan.

Sebagai identifikasi dari lukisan ini adalah, dari kiri ke kanan: 
1.Oberstleutnant Rudolf Lang (Kommandeur Gebirgs-Panzerjäger-Abteilung 44),
2.Oberst Egbert Picker (Kommandeur Gebirgsjäger-Regiment 98),
3.Hauptmann Josef Salminger (Kommandeur III.Bataillon / Gebirgsjäger-Regiment 98),
4.Major der Reserve Peter Freiherr von le Fort (Kommandeur II.Abteilung / Gebirgs-Artillerie-Regiment 79),
5.Hauptmann Karl Eisgruber (Kommandeur II.Bataillon / Gebirgsjäger-Regiment 98),
6.Hauptmann Herbert Schlager (Kommandeur Gebirgs-Pionier-Bataillon 54),
7.Major im Generalstab Hans Steets (Ia Erster Generalstabsoffizier 1. Gebirgs-Division),
8.Major Josef Fleischmann (Kommandeur I.Bataillon / Gebirgsjäger-Regiment 99),
9.Oberst Max Winkler (Kommandeur Gebirgs-Artillerie-Regiment 79),
10.Oberst Hermann Kress (Kommandeur Gebirgsjäger-Regiment 99),
11.Generalmajor Hubert Lanz (Kommandeur 1. Gebirgs-Division),
12.Major der Reserve Dr. Hans Otto Hofmann (Divisions-Nachschub-Truppen 54),
13.Hauptmann Franz Knabl (Kommandeur Gebirgs-Nachrichten-Abteilung 54),
14.Hauptmann Ludwig von Eimannsberger (Ib Quartiermeister 1. Gebirgs-Division)



Sumber :
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=1002695&page=2

Tuesday, March 27, 2018

Prajurit Jerman dan Istrinya

Seorang prajurit Jerman bersama dengan istrinya melihat sebuah sketsa yang berisikan gambar sang istri. Di lengan si prajurit kita bisa melihat chevron untuk pangkat Obergefreiter, yang setara dengan pangkat Kopral Kepala dalam sistem kepangkatan TNI. Dalam Perang Dunia II, pemegang pangkat ini biasanya bertanggungjawab untuk memimpin unit setingkat regu (3-5 orang), atau untuk mereka yang mempunyai pangkat Gefreiter tapi telah memperlihatkan kemampuan yang menonjol dalam pertempuran. Seorang Obergefreiter tidak tergolong ke dalam pangkat bintara atau calon perwira (Unteroffizier). Dalam foto ini, kita juga bisa melihat pita Medaille "Winterschlacht im Osten 1941/42" (Ostmedaille), yang diberikan kepada anggota militer Jerman yang berpartisipasi dalam pertempuran musim dingin tahun 1941/42 di Rusia. Karenanya, kita bisa mengetahui bahwa foto ini diambil setidaknya dalam rentang waktu 1942 s/d 1945. 



Sumber :
https://menofwehrmacht.blogspot.co.id/2018/03/german-soldier-watching-drawing-of-his.html