Showing posts with label Seragam dan Perlengkapan. Show all posts
Showing posts with label Seragam dan Perlengkapan. Show all posts

Sunday, January 1, 2023

Teropong Gunting di Lubang Pertahanan Sewaktu Barbarossa

Prajurit-prajurit infanteri Wehrmacht memperhatikan pergerakan tentara Rusia dari lubang pertahanan mereka tak lama sebelum dilakukannya sebuah serangan. Foto ini diambil pada tanggal 10 Juli 1941 sewaktu berlangsungnya Unternehmen Barbarossa, invasi Jerman atas Uni Soviet, dan pertama kali dipublikasikan pada bulan Oktober 1941. Seorang perwira berpangkat Leutnant tampak mengintip melalui "teropong gunting" Scherenfernrohr S.F.14.Z.Gi. Alat optik ini dikembangkan oleh perusahaan Leitz yang juga adalah produsen kamera Leica. Bentuknya sendiri merupakan hibrida antara teropong genggam standar dengan periskop, yang memungkinkan sang pengamat yang menggunakannya untuk tetap terlindungi, dengan hanya bagian "mata" teropongnya yang terlihat oleh musuh. Pihak Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) sendiri menggunakannya secara luas, dari mulai sebagai sarana observasi umum (di darat dan di kendaraan) sampai dengan alat pengarah tembakan artileri. BTW, tali pengikat di schulterklappen (tanda pangkat bahu) Letnan dalam foto ini menunjukkan bahwa dia sebenarnya telah berpangkat satu tingkat lebih tinggi (Oberleutnant), hanya saja baru secara "de facto" (di lapangan) dan belum secara "de jure" (melalui surat keputusan resmi alias RDA, Rangdienstalter). Satu lagi: lencana bergambar petir yang digunakan prajurit berpangkat Obergefreiter di belakang sang perwira menunjukkan bahwa dia adalah anggota Nachrichtentruppe (Pasukan Sandi/Komunikasi).

Sumber ;
https://www.theatlantic.com/photo/2011/07/world-war-ii-operation-barbarossa/100112/

Saturday, December 17, 2022

Perwira Tinggi Luftwaffe dengan Ledermantel M36

Foto para perwira tinggi Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang diambil pada tanggal 18 Oktober 1937. Baris depan dari kiri ke kanan: Generalmajor Ernst Udet (Direktor des Technischen Amts der Luftwaffe im Reichsluftfahrtministerium), General der Flieger Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe), Generalleutnant Hans-Jürgen Stumpff (Chef des Generalstabes der Luftwaffe), dan Generalmajor Ralph Wenninger (Luftwaffenattaché an der Deutschen Botschaft in London). Milch dan Stumpff mengenakan ledermantel (mantel kulit) M36 yang biasa dipakai oleh para perwira/jenderal Wehrmacht, yang terdiri dari dua baris kancing, dua saku pinggir, serta manset "Prancis". Kancingnya dipasang dengan mesin, dan dilengkapi dengan dua saku ritsleting di bagian dalam. Bagian belakangnya terbelah dua untuk mengantisipasi saat si pemakai mengendarai sepeda motor atau kuda. Terdapat pula dua buah sabuk pengikat berbahan sama: di bagian kaki untuk membuat jubah tetap membujur ke bawah, serta di bagian pinggang untuk tetap menahan jubah saat kondisi berangin kencang.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/05/album-foto-jaket-kulit-nazi-jerman.html
https://forum.axishistory.com/viewforum.php?f=5

Saturday, October 22, 2022

Panzer-Panzer Afrikakorps di Tripoli


Deretan tank-tank Jerman milik Panzer-Regiment 5 dari jenis Panzer IV Ausf.D dan Panzer II yang baru saja tiba di Tripoli, Libya, bulan Maret 1941. Khusus untuk tank dari jenis pertama, mereka dilengkapi dengan gepäckkasten (kotak penyimpanan khusus) yang terpasang di bagian belakang kubah, dengan tiga nomor identifikasi tertulis dengan ukuran besar. Dari nomor-nomor tersebut kita bisa mengetahui bahwa tank-tank ini berasal dari Kompi ke-8 dan ke-5 (dua-duanya merupakan bagian dari Batalyon kedua). Cara membacanya sederhana: angka pertama adalah nomor kompi, angka kedua adalah nomor peleton, sementara angka ketiga adalah nomor urutan kendaraan di peleton tersebut. Karenanya, turmnummer (nomor turet) "824" menunjukkan bahwa tank tersebut adalah tank ke-4 dari peleton ke-2 kompi ke-8. Uniknya, sebagian awaknya tampak telah mendapat jatah seragam tropis berbahan kain, sementara sebagian lainnya masih mengenakan seragam hitam standar Eropa berbahan wol! Komandan Afrikakorps Generalleutnant Erwin Rommel datang untuk pertama kalinya di Afrika Utara di bulan Februari 1941, dengan perintah tegas hanya sebagai unit "Sperrband" alias penghalang gerak maju pasukan Inggris sekaligus penambah kekuatan tentara-tentara Italia yang baru saja menderita kekalahan dalam Pertempuran di Beda Fomm. Kekuatan yang Rommel miliki pada saat itu bisa dibilang seadanya: satu batalyon pelopor serta satu detasemen anti-tank dari 5. leichte-Division (nantinya berganti nama menjadi 21. Panzer-Division). Sisa unit-unit lainnya dari divisi tersebut nantinya tiba secara bertahap di Afrika, sementara divisi kedua yang berada di bawah komando Deutsches Afrikakorps (DAK), yaitu 15. Panzer-Division, baru tiba sepenuhnya di akhir bulan Mei 1941.

Sumber :
"Deutsche Afrikakorps (1941-1943)" karya Ricardo Recio Cardona

Sunday, August 7, 2022

Panzer III di Musim Dingin di Front Timur


Seorang Feldgendarmerie (Polisi Militer) mengarahkan sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.H ke lokasi yang telah ditentukan, di sebuah tempat di Front Timur. Panzer tersebut teridentifikasi sebagai Ausf.H dengan melihat pada pintu keluar komandan model baru yang terpasang di turetnya, begitu pun tampilan bagian belakang turet yang berbeda dari model-model sebelumnya. Model H juga memperkenalkan transmisi baru serta penggerak versi akhir, yang otomatis membutuhkan dudukan penggerak yang berbeda pula. Perhatikan rambu petunjuk arah di sebelah kiri yang berada di depan panzer! Diantara simbol yang terpajang adalah insignia 7. Panzer-Division yang berbentuk "Y". Rambu lain yang terpasang di pepohonan lebih ke tengah memperlihatkan insignia "XX" yang merupakan simbol dari 6. Panzer-Division. Keduanya adalah insignia versi pasca-1941 yang digunakan oleh kedua divisi lapis baja tersebut.

Sumber :
Buku "Panzer Vor: German Armor At War 1939-45" by Frank V. De Sisto

Sunday, June 5, 2022

Prajurit Afrikakorps dan BMW R12 di Tripoli

 
Prajurit-prajurit Afrikakorps menunggu giliran untuk ikut berpartisipasi dalam parade militer di Tripoli, Libya, tanggal 14 Februari 1941. Mereka adalah bagian dari kontingen pertama pasukan Jerman yang tiba di Afrika Utara, yang berangsur datang dari tanggal 10 Februari s/d 12 Maret 1941. Meskipun prajurit-prajurit ini sudah mendapatkan jatah tropenuniform (seragam tropis) dan tropenhelm (helm tropis), tapi, sebagian besar perlengkapan dan mesin perang mereka masih menggunakan cat lama yang biasa dipakai di daratan Eropa. Beiwagenkrädern (motor bersespan) dalam foto ini berasal dari jenis BMW R12, sementara mobil di belakangnya adalah Kübelwagen. Prajurit Afrikakorps dengan senapan Kar98k (Karabiner 98 kurz) tersampir di punggungnya ini mengenakan "Kradbrille" di matanya, yang merupakan kacamata khusus pelindung debu yang banyak digunakan oleh unit bersepeda motor seperti Aufklärungs (Pelopor) atau Kradmelder (Pengantar Pesan). Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Sturm dari KBK Lw 7 (Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe 7). Perhatikan rambu unik bergambar kereta kuda dan truk di latar belakang! Ada yang tahu maksudnya?

Sumber :
Bundesarchiv Bild 101I-424-0258-02

Monday, May 30, 2022

Bergstiefel Gebirgsjäger

Gebirgsoldaten (Prajurit Gunung) menyempatkan diri untuk tidur di bak belakang truk di sela-sela invasi Jerman ke Polandia, bulan September 1939. Perhatikan detail sol sepatu mendaki yang mereka kenakan! Sepatu jenis ini dikenal dengan nama "Bergstiefel" atau sepatu gunung, dan mempunyai lapisan yang lebih keras dibandingkan dengan sepatu kulit standar "Marschstiefel"yang biasa dipakai oleh landser (prajurit) Jerman. Sepatu ini juga lebih pendek ukurannya (sebatas tumit), dan bisa digunakan untuk dua hal: mendaki gunung serta bermain ski.

Sumber ;
"Hitler's Mountain Troops 1939-1945" karya Ian Baxter

Sunday, April 3, 2022

Prajurit Heer Memakai Feldmütze M34

Proses untuk memperbaharui pakaian serta perlengkapan perang Heer (Angkatan Darat Jerman) sebenarnya telah dimulai dari sejak tahun 1930, tiga tahun sebelum Hitler naik ke tampuk kekuasaan, meskipun skalanya masih belum masif dan sebagian besar dilakukan secara sembunyi-sembunyi dikarenakan adanya pembatasan Perjanjian Versailles yang telah diterapkan dari tahun 1919. Foto ini memperlihatkan penampakan feldmütze (topi lapangan) khusus untuk prajurit dan bintara yang mulai dibagikan dari bulan Maret 1934. Satu bulan sebelumnya diberlakukan peraturan baru yang mewajibkan penggunaan "hoheitsabzeichen" (lambang negara) berbentuk elang yang memegang swastika, yang dipakai di bagian dada kanan, topi/helm serta kepala ikat pinggang. Tentu saja pemakaiannya tidak langsung merata ke semua unit Angkatan Darat, seperti tampak dalam foto ini dimana hanya bintara di sebelah kanan yang mengenakan "Reichsadler", sementara prajurit-prajurit lainnya masih tetap polos dan belum mengenal dosa (aseek).

Sumber ;
Buku "Deutsche Uniformen 1919-1945" karya Ricardo Recio Cardona

Thursday, July 9, 2020

Afrikakorps Siap Tempur Menyerbu Tobruk

15. Panzer-Division di Afrika Utara: Prajurit-prajurit Afrikakorps dari Panzer-Pionier-Bataillon 33 menaiki sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.G "632" milik 6.Kompanie / II.Abteilung / Panzer-Regiment 8 untuk ikut berpartisipasi dalam serangan pendahulu ke pertahanan Sekutu di sekitar Tobruk, Libya, bulan Oktober 1941. Satuan zeni tempur ini melengkapi diri dengan senjata yang lebih beragam dibandingkan dengan unit infanteri standar, diantaranya adalah penggunaan penyembur api dari jenis Flammenwerfer 35, drum amunisi senapan mesin, tabung berisi cadangan laras MG 34, dan kantong pengangkut stielhandgranate. Di sebelah kanan kita bisa melihat prajurit lain, yang kemungkinan adalah komandan skuad, yang menyimpan senapan mesin MP-40 atau 38 di atas kubah tank sebelum memanjatnya. Uniknya, para prajurit ini masing-masing dilengkapi dengan dua pelples air dan bukannya satu seperti biasanya! Mereka juga mengenakan cover helm berwarna pasir untuk meminimalisir efek pantulan saat terkena sinar matahari.






Sumber :
Foto koleksi Blanluet Christophe dari ECPAD Archive
https://www.facebook.com/groups/1728158044141689/
https://www.facebook.com/pg/TheTruthInColor/photos/

Saturday, May 16, 2020

Generalleutnant Friedrich Bergmann

Generalleutnant Friedrich Bergmann (10 Mei 1883 - 21 Desember 1941) adalah jenderal sepuh Wehrmacht yang sudah berusia 56 tahun saat Perang Dunia II pecah di tahun 1939. Pengalamannya sebagai seorang perwira artileri kawakan membuat jasanya masih diperlukan oleh OKH (Oberkommando des Heeres), dan Bergmann kemudian didapuk sebagai Komandan 27. Infanterie-Division (1 Januari 1937 - 8 Oktober 1940) dan 137. Infanterie-Division (8 Oktober 1940 - 21 Desember 1940), walaupun dia seharusnya sudah memasuki masa pensiun. Dia sendiri ikut berpartisipasi dalam penyerbuan Jerman atas Polandia (1939), Prancis (1940) dan Uni Soviet (1941). Kepemimpinan Bergmann di medan tempur membuatnya dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold (German Cross in Gold) pada tanggal 19 Desember 1941, hanya dua bulan setelah medali tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan sebagai "jembatan" dari Eisernes Kreuzes (Iron Cross) ke Ritterkreuz (Knight's Cross). Tragisnya, sang jenderal tua hanya sempat dua hari saja menikmati statusnya sebagai DKiGträger (peraih Deutsches Kreuz in Gold), karena pada tanggal 21 Desember dia terbunuh dalam pertempuran saat pasukan Rusia melakukan serangan balik di wilayah Syavki, dekat Kaluga, yang terletak di perbatasan Moskow. Foto ini sendiri diambil di masa sebelum Perang Dunia II sewaktu Bergmann masih berpangkat Generalmajor (1 Maret 1936 - 28 Februari 1938). Dia terlihat mengenakan achselschnur (Aiguillette) sebagai pelengkap dari seragam peninggalan Reichswehr berkancing delapan yang dikenakannya. Di bagian bawah seragam tersemat medali 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse (Iron Cross 1st Class) peninggalan Perang Dunia Pertama, sementara untuk identifikasi baris medali di atasnya adalah, dari kiri ke kanan: 1.1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (Iron Cross 2nd Class); 2.Königlicher Hausorden von Hohenzollern, Kreuz der Ritter mit Schwertern (Royal House Order of Hohenzollern, Knights' Cross with Swords); 3.Bayerischer Militärverdienstorden IV.Klasse mit der Krone und den Schwertern (Bavarian Order of Military Merit 4th Class with Crown and Swords); 4.Ehrenkreuz für Frontkämpfer (Honor Cross for Combatants); 5.Prinzregent-Luitpold-Medaille (Prince Regent Luitpold Medal); 6.Dienstauszeichnung der Wehrmacht 1.Klasse (Armed Forces Service Award 1st Class 25 years); 7.Dienstauszeichnung der Wehrmacht 3.Klasse (Armed Forces Service Award 3rd Class 12 years); 8.Österreichisches Militärverdienstkreuz III.Klasse mit der Kriegsdekoration (Austrian Military Merit Cross 3rd Class with War Decoration); serta 9.Magyar Háborús Emlékérem, dikenal di Jerman dengan nama Ungarische Weltkriegs-Erinnerungsmedaille (Hungarian War Commemorative Medal)


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=9&t=153613&p=2268724#p2268724
https://www.pinterest.es/pin/574842339922980005/

Saturday, April 11, 2020

Gebirgsjäger-Regiment 756 di Yunani

Foto studio dari akhir tahun 1942 yang memperlihatkan para prajurit Gebirgsjäger (Pasukan Gunung) Jerman yang memakai tropenhemd (kemeja tropis), tropenmütze (topi tropis), Kurze Tropenhosen (celana pendek tropis), bergstiefel (sepatu gunung), serta bergabzeichen (lencana gunung). Muka-muka mereka "gosong" karena lama terpapar oleh matahari terik di Yunani. Mereka semua adalah anggota dari Gebirgsjäger-Regiment 756, yang pada bulan Februari 1943 dikirim ke Tunisia untuk bertempur melawan pasukan Sekutu. Unit ini tercatat sebagai satu dari hanya dua unit pasukan gunung Jerman yang beroperasi di wilayah Afrika Utara (satunya lagi adalah 2.Kompanie / Sonderverband 288). Meskipun bukan dilatih untuk jenis pertempuran padang pasir, kedua unit Gebirgsjäger tersebut berjuang melawan musuh dengan gigih, dan sempat membuat pasukan Amerika panik dalam Pertempuran di Celah Kasserine. Pada akhirnya, hampir tak ada satupun anggota Gebirgsjäger-Regiment 756 atau 2.Kompanie / Sonderverband 288 yang selamat kembali ke Jerman dalam peperangan di Afrika tahun 1943. Hampir semuanya terbunuh atau dijadikan tawanan perang oleh Sekutu.


Sumber :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2702017630020927&set=gm.2366074997016654&type=3&theater&ifg=1

Thursday, April 2, 2020

Prajurit Afrikakorps Jerman

Seorang prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) berpangkat Gefreiter (Kopral), yang baru saja dianugerahi medali Eisernes Kreuz II.Klasse, berpose di depan kamera untuk kepentingan sampul majalah Ikan Lou-Han. Cambang telah mulai "menghiasi" wajahnya, yang menunjukkan bahwa dia telah berada di front depan pertempuran selama beberapa waktu. Sebagai pakaian dalam, dia mengenakan sweater wol M1936 Prancis berwarna coklat tua. Di kepalanya dia memakai tropenmütze (topi tropis) M40, yang telah dipasangi Staubschutzbrille (kacamata pelindung debu seluloid). Uniknya, di bagian samping topinya disematkan lencana Royal Artillery Inggris hasil rampasan. Dua baris pita medali di atas sakunya memperlihatkan, dari kiri ke kanan, Wehrmacht-Dienstauszeichnung dan Kriegsverdienstkreuz II.Klasse. Terakhir, tali yang melintang dari saku ke bagian dalam kancing adalah peluit yang biasa digunakan oleh seorang kepala regu Wehrmacht.


Sumber :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=130609915195883&set=p.130609915195883&type=3&theater

Sunday, March 15, 2020

Awak Kapal THOR Jerman di Balikpapan

Foto ini memperlihatkan para perwira dari hilfskreuzer (kapal penjelajah pembantu) THOR berpose bersama seorang warga pribumi di Balikpapan, Kalimantan (saat itu bernama Borneo), di bulan September 1942. Yang memakai kacamata di sebelah kiri adalah Leutnant zur See Heinz Tischer (Kriegsberichter yang mengiringi pelayaran kedua THOR), sementara yang berkacak pinggang dan memakai belati di kanan adalah Dr. Kurt Sudan, perwira administratif THOR. Meskipun kita tidak bisa melihat detailnya, tapi pelaut yang berdiri paling kiri memakai Mützenabzeichen Thor (lencana tradisional Thor) di bagian samping topinya. Orang-orang Jerman ini mengenakan Weißer Dienstanzug (pakaian tugas putih musim panas) dari ujung atas sampai ujung bawah.

Weißer Dienstrock (Seragam tugas putih musim panas) untuk pertama kalinya diperkenalkan secara resmi pada tahun 1939 sebagai "baju jalan-jalan" para perwira Wehrmacht dan SS. Sebelumnya telah ada penampakan seragam putih semacam itu, yang terlihat dikenakan oleh para bintara dalam event Olimpiade Musim Panas di Berlin pada tahun 1936, hanya saja pemakaiannya khusus di momen olahraga terbesar di dunia tersebut, dan tidak selainnya. Menurut regulasi, Weißer Dienstrock hanya bisa digunakan dalam kurun waktu antara tanggal 1 April s/d 30 September setiap tahunnya, dan kemudian pemakaiannya benar-benar dilarang dari tanggal 15 Juni 1940 "sampai dengan berakhirnya perang" (meskipun bukti foto-foto yang ada memperlihatkan bahwa seragam elegan satu ini banyak pula dipakai setelah tanggal tersebut oleh para perwira yang ngeyel alias mbalelo alias culangung). Seragam ini secara resmi harusnya dipadukan dengan celana yang berwarna senada, hanya saja sebagian besar foto yang berseliweran di buku dan website justru memperlihatkan perpaduan antara seragam putih dengan celana berwarna abu-abu atau hitam!




Sumber :
Foto koleksi pribadi Martin J.W.
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=8&t=7751&hilit=ludwig+bahls
https://gmic.co.uk/profile/1906-martin-w/content/?type=forums_topic_post&page=12

Thursday, May 30, 2019

Oberst d.R. Ewert von Renteln dari Resimen Kosak Wehrmacht

Oberst der Reserve Ewert von Renteln (10 April 1893 - 9 Januari 1947) adalah komandan Kosaken-Regiment 6 / 708.Infanterie-Division yang dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 13 Januari 1945 sebagai Oberstleutnant der Reserve dan Kommandeur Kosaken-(Festungs-)Grenadier-Regiment 360 / LXIV.Armeekorps / 19.Armee / Heeresgruppe Oberrhein. Kosaken-Regiment 6 nantinya berubah menjadi Kosaken-Regiment 360, dan bertempur di Front Barat. Setelah menyerah, dia dan anakbuahnya dikembalikan ke Soviet dan meninggal sebagai tahanan di tahun 1947. Ewert von Renteln sendiri merupakan ayah dari SS-Untersturmführer Carlotto "Karl" von Renteln, yang merupakan seorang peraih Deutsches Kreuz in Gold dari schwere SS-Panzerjäger-Abteilung 11 / 11.SS-Freiwilligen-Panzergrenadier-Division "Nordland". Foto ini sendiri memperlihatkan saat Ewert von Renteln masih berpangkat Major der Reserve dan Komandan Kosaken-Festungs-Grenadier-Regiment 360, pada musim semi tahun 1944 sewaktu resimen yang dipimpinnya direlokasi dari Front Timur ke wilayah Charente Maritime, Normandia (Prancis). Di kancing seragamnya tersemat pita medali Eisernes Kreuz II.Klasse dan Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), sementara di dadanya terpajang Verwundetenabzeichen in Schwarz, Eisernes Kreuz I.Klasse dan Panzerkampfabzeichen in Bronze. Dua insignia yang ada di lengan kirinya adalah panji POA (Русская освободительная армия, Tentara Pembebasan Rusia) serta perisai Terek-Kosaken-Regiment 6 (unit Renteln terdahulu). Renteln sendiri menenteng holster berisi pistol Tokarev TT-33 buatan Rusia di ikat pinggangnya.


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/07/album-foto-sukarelawan-cossack-dalam.html
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=71&t=238291&p=2206053#p2206053

Thursday, February 7, 2019

Foto Studio Calon Perwira Heer

Seorang bintara Heer (Angkatan Darat) - yang juga merupakan calon perwira - berpose dalam sebuah foto studio di lokasi dan waktu yang tidak diketahui. Dia mengenakan topi bervisor yang dinamakan sebagai schirmmütze. Seragam yang dikenakannya adalah seragam khusus musim panas berwarna krem cerah, dengan schulterklappen (tanda pangkat bahu) yang menunjukkan pangkat Stabsfeldwebel (Sersan-Mayor). Di luar dari baris medali yang terpasang di dada atas, sebiji medali yang tersemat di seragamnya adalah Schleischer Adler (Silesian Eagle), yang menunjukkan bahwa pemakainya adalah bagian dari Freikorps Oberland yang berhasil memadamkan pemberontakan orang-orang keturunan Polandia di wilayah Silesia pada tahun 1919 s.d. 1921. Lengannya memegang pedang kehormatan perwira model Derfflinger buatan Firma Carl Eickhorn, yang mempunyai ciri khas gagang dengan kepala singa (versi lainnya adalah kepala panther atau merpati). Nama resmi dari pedang jenis ini adalah "Löwenkopf-Säbel für Offiziere mit Klingenwidmung Ehrendegen" (Kelewang Kepala Singa untuk Perwira dengan Bilah Pengabdian dari Pedang Kehormatan). Pada tahun 1930-an dan awal Perang Dunia II, setiap calon perwira Jerman (yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutan mereka) mempunyai hak untuk membeli sebuah pedang pribadi berornamen khusus (selain dari pedang resmi yang telah diberikan dari sejak menjadi prajurit/bintara), yang nantinya bisa dipakai dalam momen-momen tertentu di luar tugas, seperti jalan-jalan, upacara, dan parade. Biasanya pedang jenis ini akan disesuaikan dengan seragam yang mereka pakai (dienstanzug atau paradeanzug).


Sumber :
http://www.wwiidaggers.com/SWDSOTH3.htm

Tuesday, February 5, 2019

Perwira Feld-Division Luftwaffe asal Heer

Foto ini diambil pada tanggal 28 Agustus 1944 di Prancis Utara oleh Kriegsberichter Bernhard Kurth dari PK (Propaganda-Kompanie) 698, dan memperlihatkan seorang perwira Heer yang bertugas di Feld-Division Luftwaffe (kemungkinan besar 19. Feld-Division [L]). Dia mengenakan Jaket Luftwaffe-Splittermuster dengan lambang elang Luftwaffe di bagian dada (sementara seragamnya sendiri masih versi Heer), yang dipadukan dengan stahlhelm bertekstur cat kasar. Ketika unit-unit darat Luftwaffe (Angkatan Udara) dimasukkan ke dalam kendali Heer (Angkatan Darat) di bulan November 1943 dan dinamai ulang menjadi Feld-Division (L), sebagian dari perwira-perwira Heer ikut pula ditugaskan untuk melatih dan memimpin unit-unit baru ini. Karenanya, tidak heran jika seragam Heer ikut-ikutan diadopsi oleh divisi darat Luftwaffe, meskipun pasokannya seringkali terlambat sehingga membuat pemakaiannya bercampur dengan fliegerbluse standar Luftwaffe (banyak bukti foto untuk menguatkan hal ini). Sesuai peraturan, resimen-resimen Jäger dari Feld-Division (L) mengenakan warna waffenfarbe hijau, seperti halnya di unit Heer, sementara banyak pula dari mereka yang lebih memilih untuk menggunakan bahan kamuflase Telo Mimetico sisa pasukan Italia sebagai pakaian sehari-hari, karena dianggap lebih efektif dalam menyamarkan diri dan lebih enak dipakai dibandingkan dengan produksi Jerman. Semua hal ini menyebabkan tidak adanya patokan baku mengenai seragam Divisi Darat Luftwaffe, karena begitu banyaknya variasi dan modifikasi lapangan yang terjadi.



Source :
https://www.bild.bundesarchiv.de/archives/barchpic/search/_1549362310/?search%5Bform%5D%5BSIGNATUR%5D=Bild+101I-301-1952-13
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_101I-301-1952-13,_Nordfrankreich,_Soldat_mit_Karte.jpg

Thursday, April 5, 2018

Prajurit SS-Standarte "Der Führer" Masa Awal

Empat orang prajurit dari SS-Standarte "Der Führer" berfoto bersama di depan kamera. Semuanya mengenakan topi lapangan dengan pola SS-VT (SS-Verfügungstruppe), serta kerah yang berisikan simbol SS dengan tambahan nomor "3" berukuran kecil di sebelahnya. SS-Standarte Der Führer dibentuk pada bulan Maret 1938 di Wina sebagai SS-Standarte 3, hanya beberapa hari berselang setelah Jerman menganeksasi Austria. Anggotanya diambil dari sukarelawan orang-orang Austria, sementara para perwira dan bintaranya sebagian besar merupakan kader SS-Standarte Deutschland. Pada Parteitag Nürnberg tahun yang sama, resimen ini dinamai ulang menjadi SS-Standarte Der Führer, sekaligus mendapatkan panji Deutschland Erwache.



Sumber :
https://menofwehrmacht.blogspot.co.id/2018/04/ss-standarte-der-fuhrer-soldiers.html

Wednesday, April 4, 2018

SS-Verfügungstruppe dalam Latihan Musim Dingin

Sekelompok pasukan bermotor dari SS-VT (SS-Verfügungstruppe) berfoto bersama di sela-sela latihan musim dingin. Kebanyakan dari mereka memakai mantel standar Wehrmacht, meskipun beberapa diantaranya - seperti dua orang yang berada di ujung kanan - mengenakan jaket karet anti-air khusus Kradtruppen. Perhatikan schiffchen (side cap) di kepala mereka yang masih menggunakan pola SS-VT lama, dengan kancing tengkorak metal di depan dan bordiran elang SS kecil di samping



Sumber :
https://menofwehrmacht.blogspot.co.id/2018/04/ss-verfugungstruppe-on-winter-exercise.html