Showing posts with label Wilayah Gurun. Show all posts
Showing posts with label Wilayah Gurun. Show all posts

Sunday, May 21, 2023

Erwin Rommel di Atas AEC "Max"

General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) duduk di atas atap "Max", sebuah kendaraan tempur AEC Inggris hasil rampasan, bersama dengan kompatriotnya dari Italia. Foto ini kemungkinan besar diambil di musim panas tahun 1941, saat Rommel sedang semangat-semangatnya mengusir pasukan Inggris dari Libya. Berdiri menunggu di samping "Max" di sebelah kanan adalah ajudan Rommel, Major Hans-Joachim Schraepler. Salah satu tugas tidak resmi Schraepler sebagai ajudan adalah membalas surat-surat para fans Rommel dari seantero Jerman yang berdatangan ke markas Afrikakorps, seiring dengan berita kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh "Der Wüstenfuchs" di medan perang Afrika Utara. Schraepler sendiri secara tragis terbunuh pada tanggal 9 Desember 1941 di dekat Derna, Libya. Penyebabnya: terlindas secara tidak sengaja oleh "Max" saat melakukan gerak mundur taktis demi menghindari perangkap kepungan serangan balasan Inggris (yang dikenal dengan nama Operation Crusader)! Di bulan yang sama, Rommel juga kehilangan dua orang jenderalnya yang gugur dalam pertempuran: Generalmajor Walter Neumann-Silkow (Kommandeur 15. Panzer-Division) dan Generalmajor Max Sümmermann (Kommandeur 90. leichte-Afrika-Division). Dalam catatan hariannya, Rommel mengakui bahwa Desember 1941 adalah bulan tersedih yang dijalaninya selama kampanye militer Jerman di Afrika Utara...

Sumber :
Foto koleksi pribadi Jim Haley
Buku "At Rommel's Side: The Lost Letters of Hans-Joachim Schraepler" oleh Hans-Albrecht Max Schraepler

Saturday, December 24, 2022

Prajurit-Prajurit Afrikakorps Beristirahat


Prajurit-prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) beristirahat di tengah hamparan gurun pasir di hari jatuhnya kota pelabuhan Tobruk ke tangan pasukan Jerman dan Italia, 21 Juni 1942. Dari peralatan-peralatan yang mereka bawa, kemungkinan prajurit-prajurit ini berasal dari unit Pioniere (Zeni). Foto ini sendiri terdapat dalam buku "Erwin Rommel: Photographer". Sesuai dengan judul bukunya, foto ini diambil oleh sang panglima pasukan Jerman di Afrika Utara, Erwin Rommel. "Der Wüstenfuchs" (Sang Rubah Gurun) memang mempunyai hobi fotografi, dan sebagian besar foto-fotonya yang diambil di medan perang Eropa dan Afrika berasal dari kamera Leica pemberian dari Menteri Propaganda Joseph Goebbels.

Sumber :
Buku "Deutsche Afrikakorps" karya Ricardo Recio Cardona
https://www.alamy.com/stock-photo-soldiers-of-the-africa-corps-resting-1942-36991773.html?imageid=F6BA966C-5F25-4F2E-A71D-76A9B661ED00&p=291611&pn=1&searchId=9a8d53310777044bbf10e6638a0b0ac4&searchtype=0
https://www.historynet.com/afrika-korps-remains-found-egypt/afrika-korps-soldiers-el-alamein-rommel/

Sunday, November 13, 2022

Rommel Berdiskusi di Atas "Greif"

Tiga buah ranpur halftrack Jerman diparkir berdekatan di sekitar kota pelabuhan Tobruk yang dikepung, bulan Juni 1942. Halftrack paling kanan berasal dari jenis kendaraan komunikasi ringan (leichter Funkpanzerwagen) Sd.Kfz. 250/3 "Greif" (plat nomor WH 937035), yang merupakan salah satu kendaraan komando pribadi milik Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"). "Greif" sendiri dilengkapi dengan dua buah antena radio: antena yang lebih besar merupakan alat pemancar dari radio jenis FuG 7 yang mempunyai daya jangkau sampai 50 kilometer, sementara antena yang lebih kecil adalah pemancar dari radio FuG 5 dengan daya jangkau 5 kilometer (yang terakhir berfungsi sebagai alat komunikasi antar-unit yang berdekatan). Halftrack yang diparkir di tengah berasal dari jenis Sd.Kfz. 251 Ausf.B. Di bagian sampingnya terdapat pula antena, yang menunjukkan bahwa ranpur setengah roda satu ini - yang biasanya digunakan sebagai sarana pengangkut pasukan Panzergrenadier - berfungsi pula sebagai kendaraan komunikasi menengah (mittlerer Funkpanzerwagen), yang kemungkinan adalah hasil modifikasi lapangan dari Sd.Kfz. 251/1 standar menjadi Sd.Kfz. 251/3 yang dilengkapi dengan radio komando. Halftrack terakhir di sebelah kiri adalah sebuah Sd. Kfz. 251/1 Ausf.S. Perwira yang membawa peta sambil ngadu huntu dengan Rommel adalah Oberst Eduard Crasemann (Kommandeur Artillerie-Regiment 33 [motorisiert] / 15.Panzer-Division). Foto ini sendiri diambil oleh Kriegsberichter Albrecht Heinrich Otto dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika".

Sumber :
https://en.topwar.ru/135723-rommel-v-afrike.html
https://waralbum.ru/217895/

Wednesday, July 15, 2020

Prajurit Afrikakorps Makan Ransum

Dua orang prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) terlihat sedang memakan ransum mereka di medan perang Afrika Utara. Masalah jatah makanan seperti ini harus lah mendapat penanganan yang serius dari seksi suplai dan perbekalan Wehrmacht, karena tidak hanya berkaitan dengan sekedar memindahkan makanan Eropa lalu memakannya di tempat tropis. Iklim yang panas akan membuat sebagian besar "kudapan bule" tersebut menjadi cepat basi, sehingga makanan-makanan semacam kentang dan roti terpaksa harus digantikan dengan roti hitam terbungkus karton serta kacang polong dan makanan kaleng lainnya. Beras juga sebenarnya ikut dibagikan sebagai jatah, meskipun makanan utamanya tetap lah roti Kommisbrot Jerman ataupun Maisbrot Italia yang dilapisi oleh minyak zaitun sebagai pengganti mentega (karena yang disebut terakhir ini akan cepat memuai di tengah panas yang menyengat). Pada prakteknya, kombinasi roti dan zaitun kurang disukai oleh pasukan Jerman maupun Italia karena rasanya yang dianggap "aneh". Jatah minyak zaitun tentara Axis biasanya dibungkus dalam kaleng produksi Italia bertuliskan AM, yang merupakan singkatan dari "Administrazione Militare" (Administrasi Militer). Bagi prajurit-prajurit Jerman, singkatan tersebut sering diartikan secara bercanda sebagai "Alte Mann" (Orang Tua), sementara rekan seperjuangan mereka dari Italia secara bisik-bisik menyebutnya sebagai "Asinus Mussolini" (Pantat Mussolini) karena rasa hambar dan baunya yang tengik, sementara sebagian lainnya - lebih sadis lagi - menamainya sebagai "Arabio Morte" (Mayat Orang Arab)! Kaleng-kaleng makanan hasil rampasan dari Inggris yang berisi daging kornet, roti putih, selai, biskuit dan buah kalengan dianggap sebagai sebuah makanan mewah karena begitu sulit untuk mendapatkannya, dan merupakan sebuah tambahan yang didamba-dambakan oleh prajurit-prajurit Afrikakorps di luar jatah ransum mereka yang monoton. Konyolnya, tentara-tentara Inggris sendiri menganggap bahwa ransum mereka kurang menarik dan lebih menyukai jatah makanan milik musuh mereka Jerman! Di luar dari makanan kaleng, terkadang pasukan Jerman menikmati daging segar yang berasal dari sembelihan kambing atau babi. Jenis makanan satu ini terbilang sulit didapatkan karena persediaannya yang terbatas dan, yang lebih penting lagi, menyimpannya tak bisa lama-lama. Dari semuanya, komoditas paling penting di wilayah gurun pasir tentunya adalah air. Karena sangat vital dalam menyambung kehidupan dan membuat kendaraan perang tetap bergerak, maka sangat penting untuk membawanya kemanapun dalam jumlah yang memadai. Untuk mengakomodasinya, maka tentara Jerman menggunakan kontainer khusus yang dijuluki orang-orang Inggris sebagai "Jerrycan" (Kaleng Jerman), dan yang kemudian menyebar penggunaannya di Indonesia dengan nama yang hampir sama: "jerigen". Satu jerigen rata-rata mampu menampung 17 liter air, bahan bakar atau oli, dan penampung versi Jerman dianggap lebih baik kualitasnya dibandingkan kaleng minyak Inggris yang rentan bocor. Untuk membedakan apakah jerigen tersebut diisi air atau minyak, maka pasukan Afrikakorps secara khusus menandai kaleng air mereka dengan "X" putih besar. Tanda ini sekaligus membuat tentara-tentara Hitler tidak salah saat harus menuang air atau minyak ke jerigen kosong yang tersedia, karena apabila terjadi kesalahan semacam itu maka airnya pun akan terbuang karena tak dapat diminum (sebuah pelajaran berharga yang baru ditemukan oleh pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Kongo pada tahun 1960-an!).


Sumber :
http://deutsches-afrikakorps.blogspot.com/2010/12/life-in-afrika-korps.html
http://ww2colorfarbe.blogspot.com/2020/07/afrikakorps-soldiers-eating.html

Thursday, April 2, 2020

Prajurit Afrikakorps Jerman

Seorang prajurit DAK (Deutsches Afrikakorps) berpangkat Gefreiter (Kopral), yang baru saja dianugerahi medali Eisernes Kreuz II.Klasse, berpose di depan kamera untuk kepentingan sampul majalah Ikan Lou-Han. Cambang telah mulai "menghiasi" wajahnya, yang menunjukkan bahwa dia telah berada di front depan pertempuran selama beberapa waktu. Sebagai pakaian dalam, dia mengenakan sweater wol M1936 Prancis berwarna coklat tua. Di kepalanya dia memakai tropenmütze (topi tropis) M40, yang telah dipasangi Staubschutzbrille (kacamata pelindung debu seluloid). Uniknya, di bagian samping topinya disematkan lencana Royal Artillery Inggris hasil rampasan. Dua baris pita medali di atas sakunya memperlihatkan, dari kiri ke kanan, Wehrmacht-Dienstauszeichnung dan Kriegsverdienstkreuz II.Klasse. Terakhir, tali yang melintang dari saku ke bagian dalam kancing adalah peluit yang biasa digunakan oleh seorang kepala regu Wehrmacht.


Sumber :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=130609915195883&set=p.130609915195883&type=3&theater

Monday, December 2, 2019

Terbunuhnya Jenderal Gott di Afrika Utara

 Di siang hari tanggal 7 Agustus 1942, empat pesawat Messerschmitt Bf 109 dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" tinggal landas dari pangkalan mereka di Quotaifiya, yang terletak di jalan pantai Mediterania sekitar 72 kilometer sebelah barat El Alamein, Mesir. Mereka berangkat untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (Berburu Bebas) rutin di belakang garis pertahanan Sekutu. Di waktu yang bersamaan, sebuah pesawat transport Bristol Bombay dari Nr. 219 Squadron RAF (Royal Air Force) Inggris terbang sendirian dari Heliopolis ke front terdepan pertempuran di Mesir untuk mengambil prajurit-prajurit yang terluka, dan kemudian menerbangkannya kembali ke rumah sakit di Kairo. Di lapangan udara terdepan Sekutu di Burg-el-Arab, Sergeant Hugh "Jimmy" James, sang pilot Bombay berusia 18 tahun, diperintahkan untuk membawa seorang penumpang istimewa: Lieutenant-General William Gott, yang baru beberapa jam sebelumnya ditunjuk untuk menjadi Panglima Eighth Army Inggris menggantikan Jenderal Claude Auchinlek, dan kini membutuhkan pesawat transport secepatnya untuk terbang kembali ke Kairo demi menghadiri sebuah pertemuan penting. Pesawat Bombay biasanya terbang dalam ketinggian rendah - sekitar 15 meter di atas daratan - untuk menghindari terdeteksi oleh pesawat-pesawat Jerman yang berada di sekitarnya. Meskipun begitu, penerbangan kali ini terpaksa dilakukan di ketinggian 150 meter demi menghindari kondisi overheating dari mesin Bristol Pegasus XXII yang diusung oleh pesawat itu. Di ketinggian inilah - sewaktu sedang melintasi bagian tenggara Alexandria - pesawat transport lamban Bombay tersebut terlihat oleh "schwarm" (kawanan) Bf 109 yang terbang di atasnya, yang dipimpin oleh Oberfeldwebel Emil Clade. Dengan hanya bermodalkan dua senapan mesin Vickers sebagai alat pertahanan diri, Bristol Bombay jelas bukanlah tandingan dibandingkan dengan empat pesawat pemburu Luftwaffe dari 5.Staffel / JG 27 tersebut, yang kemudian menukik bagaikan elang dari ketinggian 6.000 meter. Rentetan tembakan dari Oberfeldwebel Clade membuat pilot James berusaha mendaratkan pesawatnya secara darurat. Saat para penumpang berusaha berhamburan keluar dari pesawat yang terbakar tersebut, Bf 109 yang dipiloti oleh Unteroffizier Bernhard Schneider tiba-tiba menukik lalu memberondong tembakan senapan mesin ke arah mereka. Ke-17 orang penumpang yang berada di daratan kehilangan nyawanya, dan hanya menyisakan satu yang selamat yang masih berada di dalam pesawat, yaitu pilot James. Diantara yang terbunuh di hari itu adalah Jenderal Gott - yang ironisnya, mempunyai julukan "Strafer" alias pemberondong - yang tercatat sebagai perwira dengan pangkat tertinggi Inggris yang tewas oleh musuh dalam Perang Dunia II! Pesawat Bombay yang dipiloti oleh Sergeant James sendiri adalah satu-satunya korban dari Freie Jagd Jerman di hari itu, tapi akibat yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari yang disadari oleh semua pihak: kematian Gott berakibat dibutuhkannya seorang pemimpin baru untuk Eighth Army Inggris, dan orang yang kemudian terpilih adalah seorang perwira tidak terkenal bernama Bernard Law Montgomery. Dialah yang nantinya memimpin kemenangan Sekutu dalam pertempuran menentukan El Alamein di Afrika Utara dua bulan kemudian, dan yang membuat "si Rubah Gurun" Erwin Rommel harus mundur dari Mesir. Tidak hanya itu, Montgomery pula orangnya yang menerima penyerahan seluruh pasukan Jerman di Eropa Barat dan Utara pada tanggal 4 Mei 1945...


Sumber :
Buku "Jagdgeschwader 27 Afrika" karya John Weal

Sunday, November 17, 2019

Rommel Memberi Ucapan Selamat Kepada Jenderalnya yang Berulangtahun

 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee Afrika) memberi ucapan selamat kepada General der Panzertruppe Ludwig Crüwell (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) yang berulangtahun ke-50 di hari itu, 20 Maret 1942. Rommel sendiri baru saja pulang dari cuti sakit di tanah air Jerman (9-19 Maret 1942), dan selama masa absennya, Crüwell menggantikan perannya sebagai panglima seluruh pasukan Jerman di Afrika Utara. Beberapa minggu setelah foto ini diambil, pesawat yang membawa Crüwell mendarat di wilayah yang dikuasai oleh pihak Inggris sehingga sang jenderalpun ditangkap (ternyata sang pilot sebelumnya telah salah mengira bahwa dia mendarat di markas pasukan Italia sekutu Jerman!). BTW, persis di belakang Rommel adalah Generalleutnant Walther Nehring, yang menjadi Komandan Afrikakorps saat komandan aslinya, Crüwell, menggantikan posisi Rommel di bulan Maret itu. Nehring sendiri adalah salah satu aktor penting dalam pembentukan Panzerwaffe alias pasukan lapis baja Jerman. Mantan Kepala Staff Heinz Guderian ini tidak pernah gagal dalam menunjukkan kemampuannya di medan tempur, dan secara umum dia dianggap sebagai salah satu jenderal Jerman terbaik dalam Perang Dunia II!




Sumber :
Buku "The Panzer Legions" karya Samuel W. Mitcham, Jr.
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=35452&hilit=teege