Showing posts with label Momen Bahagia. Show all posts
Showing posts with label Momen Bahagia. Show all posts

Sunday, June 7, 2026

Hans Seidemann dalam Acara Penyambutan Legion Kondor



Dalam foto yang dibuat oleh Hugo Jaeger ini, terlihat Oberstleutnant Hans Seidemann (Chef des Stabes Legion Kondor) memimpin para anakbuahnya dalam acara perayaan untuk menyambut kepulangan Legion Kondor, yang diadakan di Berlin pada tanggal 6 Juni 1939. Dia mengenakan Spanienkreuz in Gold mit Schwertern yang didapatkannya di hari yang sama. Selama Perang Saudara Spanyol (1936-1939), Seidemann bertugas dalam Legion Kondor, pasukan ekspedisi Jerman yang dikirim untuk mendukung kaum Nasionalis pimpinan Jenderal Francisco Franco. Pada akhir tahun 1938 ia telah menduduki posisi penting sebagai Kepala Staf Legion Kondor, yang saat itu berada di bawah pimpinan Generalmajor Wolfram Freiherr von Richthofen, di mana ia membantu mengoordinasikan operasi udara, logistik, pelatihan, dan doktrin tempur selama fase terakhir konflik tersebut. Pengabdiannya di Spanyol memberinya pengalaman operasional yang sangat berharga yang kemudian ikut mempengaruhi strategi Luftwaffe dalam Perang Dunia II. Pangkat terakhir Seidemann adalah General der Flieger.



Sumber :
Foto koleksi Hugo Jaeger

Wednesday, December 14, 2022

Empat Jagoan Udara dari JG 2 "Richthofen"

Foto ini diambil pada bulan Agustus 1941, dan memperlihatkan para jagoan udara sekaligus Ritterkreuzträger dari Jagdgeschwader 2 (JG 2) "Richthofen", yang beroperasi di Selat Inggris dan sekitarnya. Dari kiri ke kanan: Leutnant Egon Mayer (Flugzeugführer di 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 2), Oberleutnant Erich Leie (Flugzeugführer im Stab der I. Gruppe / Jagdgeschwader 2), Major Walter Oesau (Geschwaderkommodore Jagdgeschwader 2), dan Oberleutnant Rudolf Pflanz (Flugzeugführer di 1.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 2). Di latar belakang terparkir sebuah pesawat pemburu dari jenis Messerschmitt Bf 109 yang merupakan tunggangan utama para pilot Jerman dalam Perang Dunia II. Dari keempat orang dalam foto ini, Geschwaderkommodore Oesau mempunyai kemenangan udara terbanyak dengan 127 kills, diikuti oleh Leie (121 kills), Mayer (102 kills), dan Pflanz (52 kills).

Sumber :
https://www.andreas-thies.de/auktionen/64-749906

Wednesday, June 1, 2022

Upacara Penyambutan untuk Jagoan Stuka Georg Dörffel

 

Foto ini diambil di sekitar wilayah Kharkov pada tanggal 20 Juli 1943 oleh Kriegsberichter Jütte, dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1) yang baru saja kembali dari feindflug (misi udara) yang ke-800. Sambil memegang buket bunga dan berdiri di samping pesawat Focke-Wulf Fw 190 yang baru saja didaratkannya, Dörffel dengan semangat menenggak miras cap Tikus yang diberikan oleh Major Alfred Druschel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1). Hanya berselang satu bulan kemudian, Georg Dörffel berhasil menyelesaikan misinya yang ke-900. Dia menerbangkan misinya yang ke.1000 pada tanggal 6 Oktober 1943, dan dengannya dia menjadi salah satu dari sangat sedikit pilot Luftwaffe yang mampu melakukan misi tempur sebanyak itu! Sang jagoan Stuka terbunuh di atas kota Roma, Italia, pada tanggal 26 Mei 1944 saat berusaha keluar dari pesawat Focke-Wulf Fw 190 F-8 yang dipilotinya. Kemungkinan besar kepalanya berbenturan dengan ekor pesawat yang melaju kencang, membuatnya tak sadarkan diri sehingga tak sempat membuka parasutnya.









Dari kiri ke kanan: Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1). Di hari yang sama, Oberleutnant d.R. Gehrmann menerbangkan misi tempurnya yang ke-400.

Dari kiri ke kanan: Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Major Alfred Druschel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1), Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1).


Sumber :
https://www.bild.bundesarchiv.de/dba/de/search/?topicid=dcx-thes_personen_774u7o51p5xr4b6jden
http://forum.12oclockhigh.net/showthread.php?t=59973
http://historical-media.com/einzel/2013.9.13/_x2013.9.13.html

Friday, May 27, 2022

Günther Rall Bermain-Main dengan Anjing

"Wie spricht Rata?" (bagaimana cara Rata ngomong?). Jagoan Luftwaffe Günther Rall (memakai jaket bulu), bersama dengan enam orang pilot skuadronnya dari 8.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52), sedang bermain-main dengan anjing yang menjadi maskot unit mereka - yang bernama "Rata" - di sela-sela istirahat singkat antara feindflug (misi udara) pertama dan kedua di hari itu. Foto ini diambil di bulan Maret 1943 oleh Kriegsberichter Reissmüller. Depan dari kiri ke kanan: Unteroffizier Manfred Lotzmann (15 Abschüsse - kemenangan udara), Unteroffizier Werner Höhenberg (33 Abschüsse), dan Leutnant Hans Funcke (19 Abschüsse). Belakang : Hauptmann Günther Rall (275 Abschüsse), Leutnant Hans Martin Markoff (15 Abschüsse), Feldwebel Karl-Friedrich Schumacher (56 Abschüsse), dan Oberleutnant Gerhard Luety (38 Abschüsse). Günther Rall sendiri adalah pilot pemburu tersukses ketiga dalam sejarah. Dia mencatatkan 275 kemenangan udara terkonfirmasi dalam kancah Perang Dunia II, dimana 241 diantaranya diraih di Front Timur melawan pilot-pilot Uni Soviet. Dalam karir militernya, Rall ikut serta dalam 621 misi tempur; ditembak jatuh delapan kali, dan terluka sebanyak tiga kali. Dia ikut berpartisipasi dalam penyerbuan ke Prancis (1940), Pertempuran Britania (1940), Kampanye Balkan (1941), Pertempuran Kreta (1941), dan Operasi Barbarossa (1941). Rall memulai perang dengan pangkat Leutnant (Letnan Dua), dan mengakhirinya sebagai Major (Mayor) dan Komandan JG 300. Dia meraih semua kemenangannya dengan menggunakan pesawat Messerschmitt Bf 109.

Sumber :
http://ww2images.blogspot.com/2013/07/gunther-rall-and-his-men-with-unit.html

Sunday, April 3, 2022

Leutnant Hans-Ulrich von Oertzen

 
Leutnant Hans-Ulrich von Oertzen tersenyum lebar saat berlangsungnya jeda latihan perang yang diselenggarakan oleh Wehrmacht di tahun 1937-1938. Oertzen (6 Maret 1915 - 21 Juli 1944) lahir di Berlin dari keluarga aristokrat Prusia. Dia mengikuti jejak ayahnya dengan masuk di ketentaraan, lalu kemudian dilatih untuk menjadi seorang perwira staff. Selama berlangsungnya Perang Dunia II dia dipromosikan menjadi Major i.G. (im Generalstab), dan pada tahun 1943 telah bertugas di staff Heeresgruppe Mitte di bawah pimpinan Generalmajor Henning von Tresckow (yang merupakan salah seorang anggota utama gerakan bawah tanah penentang Hitler dalam tubuh Wehrmacht). Oertzen kemudian terlibat aktif dalam gerakan tersebut dengan membantu Claus von Stauffenberg dalam perencanaan upaya kudeta. Pada tanggal 26 Maret 1944 dia menikah dengan Ingrid von Langenn-Steinkeller (sekitar 240 surat yang dia tulis untuk istrinya dari tahun 1942 s/d 1944 kemudian dibukukan pada tahun 2005). Pada saat terjadinya Peristiwa Bom 20 Juli 1944, Oertzen bertugas sebagai perwira penghubung di Wehrkreis III Berlin. Dialah yang meneruskan perintah pertama yang dikirimkan oleh Stauffenberg. Setelah kegagalan usaha kudeta tersebut, di hari yang sama Oertzen ditangkap dan diinterogasi oleh General der Infanterie Joachim von Kortzfleisch serta Generalleutnant Karl Freiherr von Thüngen (yang terakhir sebenarnya adalah anggota gerakan perlawanan juga!). Tak ada satupun bukti yang ditemukan yang mengkaitkan keterlibatan Oertzen dalam plot tersebut, sampai akhirnya keesokan harinya seorang sekretaris melaporkan bahwa dia pernah melihat sang perwira staff bersama dengan Stauffenberg. Ketika mengetahui bahwa tak lama lagi Gestapo akan datang untuk menangkapnya, Major i.G. Hans-Ulrich von Oertzen kemudian memutuskan untuk bunuh diri dengan meledakkan dua granat tangan yang dibawanya...

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/05/album-foto-tertawa-nazi-jerman.html

Legion Freies Arabien

Foto propaganda hasil jepretan Kriegsberichter Schlickum dari Propaganda-Kompanie 690 ini memperlihatkan tiga orang anggota Legion Freies Arabien - salah seorang di antaranya berkulit hitam - yang sedang bersantai di sebuah tempat di Yunani, tanggal 23 September 1943. Si hitam nampaknya sedang bercanda sambil berakrobat di hadapan teman-temannya, yang terbukti dari kursi "maut" yang ia duduki, yang berada di atas kereta yang ditarik oleh dua ekor keledai!

Ketika Perang Dunia II berkobar, sejumlah tokoh nasionalis Arab berpaling pada Jerman Nazi untuk memperoleh bantuan guna membebaskan negeri mereka dari kekuasaan Inggris serta mencegah pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina. Demi mencapai cita-citanya itu, mereka juga meminta bantuan Hitler untuk membentuk dan mempersenjatai sebuah tentara pembebasan Arab yang akan berjuang bersama-sama pasukan Poros.

Tokoh Arab yang memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertempur di bawah komando kaum Nazi adalah Mufti Besar Yerusalem, Amin al-Husayni (Huseini). Pada tahun 1942, beberapa bulan setelah kedatangannya di Jerman, dengan seizin Hitler dia mulai membentuk apa yang dinamakannya sebagai Al-Mufraza al-Arabia al-Hura. Anggotanya direkrut dari antara para pelajar Arab yang berada di Jerman, para tawanan perang Arab yang ditangkap saat bertugas dengan tentara Sekutu, dan para pelarian yang mengikutinya ke Jerman. Mereka mengenakan seragam standar Wehrmacht yang disulam dengan panji bertuliskan "Freies Arabien" (Arab Merdeka).

Legiun Arab ini dihimpun di bawah komando Deutsche-Arabische Lehrabteilung. Sebagian di antara mereka dikirimkan ke Rusia Selatan untuk membantu Hitler merebut ladang-ladang minyak Irak melalui Kaukasus. Yang lainnya ditugaskan di bawah Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang memimpin Afrikakorps untuk merebut Timur Tengah lewat Mesir. Mereka terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Merah Soviet maupun Inggris, menderita korban besar, dan gagal memenuhi ambisi Sang Mufti untuk menjadi pasukan pelopor pembebasan bangsa Arab dari tangan tirani asing.

Pada bulan Mei 1943, setelah kekalahan pihak Poros di Tunisia dan penarikan tentara Jerman dari Kaukasus, OKW memerintahkan agar sisa-sisa sukarelawan Arab dari Deutsche-Arabische Lehrabteilung, yang sebagian besar terdiri atas orang Maroko, dihimpun ke dalam sebuah unit baru: Deutsche-Arabische Infanterie Bataillon 845.

Kader batalyon tersebut disusun di kamp pelatihan Döllersheim yang berada di utara Linz, Austria. Pada awalnya, batalyon Arab itu terdiri atas empat kompi. Sekalipun dibentuk sebagai sebuah batalyon infanteri, tetapi salah satu kompinya merupakan sebuah unit pasukan payung! Batalyon itu sendiri terutama dilatih dalam taktik-taktik perang gerilya.

Pada bulan November 1943, setelah menyelesaikan pelatihannya, batalyon Arab tersebut dikirimkan ke Yunani. Tugas awal mereka adalah menjaga jalur kereta api yang vital di sebelah utara Salonika. Batalyon itu berada di daerah di dekat Laut Aegea ini hingga musim semi 1944, dimana mereka kemudian dipindahkan ke Pelopennesus. Disana mereka ditugaskan sebagai satuan pengamanan di bawah komando Divisi Perbentengan Jerman ke-41.

Di antara unit-unit Jerman yang bertugas di Yunani terdapat sebuah kesatuan yang ganjil. Di antaranya adalah unit-unit hukuman Angkatan Darat. Banyak di antara anggotanya adalah bekas tahanan politik yang anti-Nazi, yang direkrut karena mesin perang Jerman kekurangan sumber daya manusia untuk mempertahankan dan menjaga wilayah kekuasaannya yang sebegitu luas. Akibatnya, kesetiaan mereka terhadap Hitler sangat diragukan, dan malahan banyak yang membelot ke pihak gerilyawan Yunani!

Sebagai unit pengamanan, Batalyon 845 kadang kala bertugas dengan para prajurit hukuman tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pengaruh buruk para prajurit anti-Nazi itu tersebar pula di kalangan para prajurit Arab. Bahkan terdapat beberapa kasus desersi dalam Batalyon 845. Misalnya, kasus tiga orang prajurit Arab yang melakukan desersi dengan membawa senjata mereka pada bulan November 1943.

Demoralisasi juga melanda para prajurit Arab. Hauptmann von Voss, komandan kompi ke-1 batalyon tersebut, menceritakan beberapa kasus menarik mengenai mentalitas orang-orang Arab itu.

Kisah pertama berhubungan dengan seorang prajurit bernama Ali ben Mohammed. Pada suatu hari, dia mendatangi perwira medis dan meminta agar dirumahsakitkan. Namun setelah diperiksa, si perwira menemukan bahwa Ali benar-benar sehat!

"Mengapa kamu ingin dirumahsakitkan?" tanya perwira itu heran, "kamu kan tidak sakit?"

"Yang lain dirawat di rumah sakit. Kenapa aku tidak bisa?" tukas Ali.

"Kamu sehat, jadi kamu tidak boleh dirumahsakitkan!" bentak si perwira.

Ali berbalik ke arah pintu, yang mempunyai sebuah panel kaca. Dia kemudian membenturkan kepalanya ke panel itu. Berlumuran darah dan dengan pecahan kaca menancap di kulit kepalanya, dia mendatangi perwira medis itu lagi dan berkata, "sekarang saya sudah sakit, bukan?"

Pada kesempatan lainnya dalam suatu latihan, seorang prajurit bernama Mahmood tiba-tiba melemparkan senapannya dan merebahkan tubuh di tanah.

"Ich nicht soldat (saya bukan prajurit)!" jeritnya.

Salah seorang rekannya, yang merasa malu dengan kelakuan Mahmood, mencabut bayonetnya dan menyayat kepalanya sendiri sebanyak lima atau enam kali hingga membuat tulang di bawah kulit kepalanya terlihat!

Sikap menjunjung tinggi kehormatan diri dalam budaya Arab sendiri menimbulkan sejumlah masalah serius di dalam batalyon itu. Pada suatu hari, dua orang Arab mengejek seorang prajurit karena kecenderungan homoseksualnya. Pada malam harinya, prajurit yang diejek itu mengambil senapannya, menempelkannya di belakang telinga salah seorang pengejeknya, dan menarik picunya!

Selama bertugas di kawasan pegunungan Helicon di Yunani Selatan, Batalyon 845 membuktikan kemampuannya dalam memerangi gerilyawan ELAS Yunani yang berhaluan Komunis. Berkat pelatihan dan naluri alaminya, para prajurit Arab dengan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai taktik para gerilyawan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa agen Sekutu yang dikirimkan untuk membantu gerilyawan Yunani.

Keberanian para prajurit Arab dalam menantang maut serta menahan rasa sakit juga mengundang rasa kagum dari atasan Jerman mereka. Sekalipun demikian, Hauptmann von Voss juga mengkritik anak buahnya karena kecenderungan mereka untuk menjarah dan memperkosa, terutama selama pertempuran di Kyriaki.

Efektifitas Batalyon 845 membuat komando Jerman berencana untuk meningkatkan kekuatannya. Para sukarelawan tambahan, yang terdiri atas orang-orang Arab yang tinggal di Eropa dan sejumlah tawanan perang Sekutu, dikumpulkan di Zwetll, Cekoslowakia, pada awal September 1944. Namun rencana untuk membentuk sebuah unit baru yang akan ditempatkan pada batalyon tersebut tidak pernah terwujud karena arah peperangan yang semakin merugikan Jerman.

Menjelang akhir musim panas tahun 1944, pasukan Jerman di Yunani terancam terpotong oleh serangan besar-besaran Tentara Merah yang telah menaklukkan Bulgaria dan Rumania serta sedang bergerak maju memasuki Yugoslavia dan Hungaria. Untuk menghindari bencana itu, pada bulan Oktober 1944 pasukan Jerman mulai menarik diri dari Yunani selatan menuju Yugoslavia. Batalyon 845 sendiri bertugas melindungi penarikan mundur tersebut.

Batalyon 845 mengundurkan diri melalui rute Larissa di Yunani, Bitolj, dan Skoplje di Makedonia, lalu Kraljevo dan Uzice di Serbia. Mereka sempat terlibat pertempuran sengit dengan kaum partisan Yugoslavia untuk memperebutkan Bukit 734 di Uzice. Pada bulan Februari 1945, akhirnya mereka tiba di Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Setelah beristirahat dan direorganisasi, batalyon Arab itu ditugaskan di kawasan antara sungai Sava dan Danube.

Pada bulan Maret dan April 1945, batalyon Arab itu beroperasi di sebelah tenggara Vinkovci di Srem. Pada akhir bulan April mereka ditarik mundur ke Vukovar, sebelum akhirnya ditempatkan di sebelah barat Zagreb, Kroasia. Di tempat itulah riwayat batalyon Arab tersebut berakhir. Mereka menyerah kepada kaum Partisan, yang menempatkan orang-orang Arab itu di sebuah kamp tawanan khusus hingga mereka dibebaskan satu tahun kemudian.


Sumber :
Buku "Der Freiwillige: Kisah-Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Hitler" karya Nino Oktorino
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/02/deutsche-arabische-infanteri-bataillon.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Free_Arabian_Legion

Sunday, March 27, 2022

Rommmel Memakai Stahlhelm

Jarang-jarang kan ngelihat jenderal ini pake stahlhelm? Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur 7. Panzer-Division) dalam acara "Hoth Tag" yang diadakan di depan Place des Quinconces, Bordeaux, Prancis, tanggal 29 Juni 1940 (versi lain menyebutkan tanggal 1 Juli 1940). Di sebelah kanan adalah ajudannya, Hauptmann Hans-Joachim Schraepler. Pada tanggal 24 Juni 1940, 7. Panzer-Division tiba di Bordeaux. Lima hari kemudian, divisi tersebut melangsungkan parade kemenangan di jalan-jalan kota di utara Prancis tersebut di bawah pimpinan langsung sang Divisionskommandeur Rommel. Sampai dengan musim semi 1941, 7. Panzer-Division menghabiskan masa istirahat sekaligus berbenahnya di "Camp de Sougè", yang terletak di Martignas-sur-Jalle. Semua keterangan ini berasal dari surat yang dikirimkan oleh Rommel kepada istri tercintanya, Lucie, tertanggal 6 Januari 1941. Posisi divisinya sendiri adalah sebagai pasukan cadangan Wehrmacht, yang dipersiapkan untuk Unternehmen Seelöwe (Operasi Singa Laut, rencana invasi Jerman atas Inggris). Invasi ini kemudian dibatalkan setelah Luftwaffe babak belur dalam Pertempuran Britania.

Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2012/03/album-foto-erwin-rommel-sebagai_10.html

Thursday, March 3, 2022

Upacara Penganugerahan Medali untuk KG 53

Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dua orang pilot jempolan dari I.Gruppe / Kampfgeschwader 53 (KG 53) "Legion Condor", yang diselenggarakan pada tanggal 29 Februari 1944 di Front Timur. Berdiri paling tengah adalah Oberstleutnant Fritz Pockrandt (Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 53). Dia diapit oleh Major Karl Rauer (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Kampfgeschwader 53) di sebelah kiri, dan Oberleutnant Kurt Unruh (Flugzeugführer di 2.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 53) di kanannya. Rauer mendapatkan Ritterkreuz sebagai penghargaan atas kepemimpinannya sebagai komandan unit pembom Luftwaffe dan juga kesuksesan pribadinya sebagai seorang pilot bomber. Dalam kancah peperangan di Front Timur dia tercatat telah menghancurkan aset-aset berharga Soviet sebagai berikut: satu gudang amunisi, tujuh depot bahan bakar, dua jembatan kereta api, lima posisi meriam anti pesawat udara, 30 tank, dan 17 pesawat yang sedang terparkir di darat! Sementara itu, Unruh mendapatkan Ritterkreuz bersamaan dengan pemindahannya ke unit pelatihan Luftwaffe di garis belakang, tak lama setelah dia menyelesaikan "feindflug" (misi tempur) yang ke-392 sebagai seorang pilot bomber di Front Timur. BTW, berdiri paling kanan adalah Oberleutnant Wolfgang Lührs (Staffelkapitän 2.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 53), yang nantinya juga mendapatkan medali bergengsi yang sama pada tanggal 24 Oktober 1944.

Source :
http://ritterkreuztraeger.blogspot.com/2022/02/award-ceremony-for-kg-53-legion-condor.html

Monday, November 8, 2021

Tentara Jerman Bermain dengan Kucing

Sebelah barat Jüterbog, akhir bulan Agustus 1939. Para anggota 13. Infanterie-Division (motorisiert) bermain-main dengan seekor anak kucing sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju ke wilayah Jerman yang berbatasan dengan Polandia. Foto ini berasal dari album pribadi milik Hauptmann Kurt Seeliger yang bertugas di Beobachtungs-Abteilung 13 / 13.Infanterie-Division (mot.). Teks aslinya berbunyi: "Der erste Halt und das weiße Kätzchen" (perhentian pertama dan anak kucing putih).

Sumber :
https://onlinesammlungen.ghwk.de/seeliger/exhibition/

Sunday, October 31, 2021

Prajurit Jerman Menikmati Musik dari Gramofon

Mirip-mirip dengan adegan dalam film "Saving Private Ryan Jombang", foto hasil jepretan Kriegsberichter Geller dari PK (Propaganda-Kompanie) 694 ini memperlihatkan para prajurit Jerman dari satuan panzer dan infanteri yang sedang asyik menikmati alunan musik dari sebuah gramofon yang masih utuh, di tengah-tengah reruntuhan bangunan yang hancur oleh perang di Front Timur. Tidak dapat dipastikan mereka berasal dari unit mana, tapi kemungkinan terbesar adalah bagian dari 1. Panzerarmee / Heeresgruppe A yang sedang merayakan kejatuhan kota Rostov ke tangan Jerman pada tanggal 23 Juli 1942. Yang jelas foto ini tidak diambil di Stalingrad seperti yang diklaim oleh sebagian sumber - termasuk Bundesarchiv - karena di bulan Juli pasukan Jerman belum lagi tiba di "kota neraka" tersebut. .

Sumber :
Bundesarchiv Bild 101I-218-0524-32
http://histomil.com/viewtopic.php?t=13861&start=460

Wednesday, October 27, 2021

Acara Makan-Makan Infanterie-Regiment 47

Prajurit-prajurit Jerman dari Infanterie-Regiment 47 (bagian dari 22. Infanterie-Division) terlihat sedang berkumpul di sekeliling Feldküche (Dapur Lapangan) sambil menunggu giliran makan sop. Yang sudah duluan menikmati sop tersebut adalah Oberstleutnant Rudolf Buhse (Kommandeur Infanterie-Regiment 47). Foto ini sendiri diambil di wilayah Balkan, Yugoslavia, pada musim panas tahun 1942. Sebagai fotografernya adalah Kriegsberichter Theodor Scheerer dari PK (Propaganda-Kompanie) 690, salah satu dari sedikit koresponden perang Jerman dalam Perang Dunia II yang menggunakan film berwarna di kameranya. Sumber di Bundesarchiv tidak mencantumkan keterangan mengenai identitas dari DKiGträger (peraih Deutsches Kreuz in Gold) yang nyengir kuda di sebelah Buhse, tapi kemungkinan dia adalah Oberleutnant der Reserve Hans-Joachim Behnke (Chef 1.Kompanie / I.Bataillon / Infanterie-Regiment 47), yang dianugerahi DKiG pada tanggal 21 Agustus 1942, hanya berselang empat hari setelah Buhse mendapatkan Ritterkreuz. Bisa jadi foto ini diambil pada saat acara makan-makan, tak lama setelah upacara penganugerahan medali untuk keduanya...

Sumber :
http://ritterkreuztraeger.blogspot.com/2021/10/rudolf-buhse-eating-in-feldkuche.html

Sunday, August 16, 2020

Fallschirmjäger Eben Emael

Bisa dibilang bahwa inilah foto paling terkenal yang memperlihatkan para Fallschirmjäger (pasukan terjung payung) Jerman pemberani dari Sturmgruppe Granit / Sturmabteilung Koch yang menyerbu benteng Eben-Emael (Belgia) pada tahun 1940. Mereka difoto sekembalinya di barak Köln-Delbrück, Jerman, pada tanggal 12 Mei 1940, tak lama sebelum upacara penganugerahan medali Eisernes Kreuz II.Klasse untuk para anggota Sturmabteilung Koch. Tapi siapakah sebenarnya mereka? Dari kiri ke kanan: Edmund 'Eddi' Schmidt (Trupp 4. Meninggal tahun 1991), Gerhard Becker (Trupp 5. Meninggal tahun 1986), Franz Jannowski (Trupp 5. Nasib setelahnya tidak diketahui), Karl Polzin (Trupp 4. Tewas ditembak oleh rekan sendiri saat mabuk-mabukan pada tahun 1941), Wilhelm Stucke (Trupp 1. Terbunuh dalam Pertempuran Kreta tahun 1941), Harm Mülder (Trupp 7. Nasib setelahnya tidak diketahui), Wilhelm Ölmann (Trupp 2. Nasib setelahnya tidak diketahui), dan Peter Zirwes (Trupp 6. Terbunuh di Rusia tahun 1942). Sebagai fotografernya adalah Oberfeldwebel Helmut Wenzel (Trupp 4). Terlihat sebagian muka dan helm mereka dilumuri oleh tanah liat sebagai sebuah tindakan kamuflase sederhana. Para Fallschirmjäger dalam foto ini mengenakan jaket penerjun payung model pertama, dengan dalaman Fliegerbluse. Uniknya, Jäger Schmidt di sebelah kiri mengenakan hoheitsadler (lambang elang) Heer dan bukannya Luftwaffe. Ini karena pada awalnya pasukan penerjun payung Jerman dibentuk oleh Angkatan darat sebelum kemudian dialihtugaskan ke Angkatan Udara. Sebagian anggota awal memilih untuk tetap mengenakan jaket lama dengan adler Heer, sebagai sebuah kebanggaan bahwa mereka termasuk ke dalam generasi pertama Fallschirmjäger Jerman.

Sumber :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10215206242104111&set=gm.3765629170130883&type=1&theater

Sunday, May 3, 2020

Gerhard Willing Mengenakan Ritterkreuz Imitasi

Pada tanggal 7 Maret 1943, Major Gerhard Willing (Kommandeur III.Abteilung / Panzer-Regiment 33 / 9.Panzer-Division) mendapat kabar melalui Funkspruch (berita radio) bahwa dia telah dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes oleh Führer und Oberste Befehlshaber der Wehrmacht Adolf Hitler, dengan dokumen serta medalinya menyusul dikirim kemudian melalui kurir. Para kawan satu unitnya kemudian berinisiatif untuk membikinkan medali sementara bagi sang Abteilungskommandeur, yang aslinya adalah medali Eisernes Kreuz II.Klasse - yang berukuran sedikit lebih kecil - yang ditambahkan pita lalu digantungkan di leher! Foto ini memperlihatkan Major Willing (28 November 1910 - 29 Oktober 1943) yang tersenyum bahagia meskipun hanya mengenakan medali imitasi, sementara rekan seperjuangannya malah memilih untuk molor di latar belakang! Willing sendiri adalah veteran Perang Saudara Spanyol (1936-1939) yang kemudian malang-melintang di berbagai front dalam Perang Dunia II (1939-1945). Dia hanya beberapa bulan saja menikmati status bergengsi sebagai seorang pahlawan Jerman dan Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz), karena pada akhir bulan Oktober 1943 dia terbunuh dalam pertempuran melawan pasukan Rusia di Krivoy Rog, Ukraina. Pada saat itu Willing sudah dipindahkan dari Panzer-Regiment 33 untuk menjadi Komandan schwere Panzer-Abteilung 506. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV.Klasse; Cruz de Guerra; Medalla de la Campaña de España 1936-1939; Panzertruppenabzeichen der Legion Condor; Spanienkreuz in Gold mit Schwertern (6 Juni 1939); Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Oktober 1941) und I.Klasse (30 November 1941); Panzerkampfabzeichen in Silber (12 November 1941); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1 Agustus 1942); Anerkennungsurkunde des Oberbefehlshabers des Heeres (5 Oktober 1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (26 Juni 1942)


Sumber :
https://www.facebook.com/groups/152986901863424/

Sunday, April 19, 2020

Pernikahan Tunggal Anggota Afrikakorps

 Upacara Ferntrauung seorang anggota Zentral Ersatzteillager 220 di Afrika Utara. Ferntrauung (proxy wedding / pernikahan yang dikuasakan atau diwakilkan) adalah pernikahan dimana salah satu mempelainya tidak hadir secara fisik, dan biasanya diwakili oleh orang lain. Bila kedua mempelai tidak hadir, maka diadakan ferntrauung ganda. Pihak Jerman memperbolehkan pernikahan semacam ini bagi para prajuritnya yang bertugas di luar negeri dari sejak bulan November 1939, tak lama setelah berakhirnya kampanye militer di Polandia. Bentuk ferntrauung paling "ekstrim" (mulai diperkenalkan pada tanggal 6 November 1941) adalah pernikahan dimana mempelai prianya telah hilang atau gugur di medan pertempuran! Pernikahan "horor" semacam ini biasanya tetap dilaksanakan karena si wanita telah mengandung bayi hasil hubungannya, sementara keluarganya (dan juga pihak yang berwenang) tidak menginginkan status si anak yang nantinya menjadi "anak haram" atau membuat malu keluarganya. Tercatat sebanyak 25.000 kasus perkawinan semacam ini yang terjadi di Jerman selama masa Perang Dunia II! Balik lagi ke foto: bertindak sebagai penghulu dalam pernikahan solo tersebut adalah Major Peter Deiglmayer, yang juga menjabat sebagai Komandan Zentral Ersatzteillager 220. Foto ini - yang merupakan koleksi pribadi dari Denis Daum - adalah satu dari beberapa puluh foto hasil peninggalan Major Deiglmayer, yang kebanyakan diambil di sekitar wilayah Mediterania (Afrika Utara dan Eropa Selatan). Lalu unit apakah Zentral Ersatzteillager 220 itu? Ini adalah satuan setingkat batalyon yang bertanggungjawab untuk mengurusi gudang suku-cadang dari kendaraan-kendaraan milik Afrikakorps. Tidak ada keterangan kapan dan dimana foto ini diambil, tapi kemungkinan besar pada tahun 1941 di Benghazi, Libya. Kenapa tahun 1941? Karena orang-orang terlihat masih memakai tropenuniform versi awal yang berwarna coklat (dan juga penampakan tropenhelm yang secara umum hanya digunakan di masa-masa awal keberadaan pasukan Jerman di Afrika Utara). Lalu kenapa harus di Benghazi? Karena kota itulah yang menjadi markas utama Zentral Ersatzteillager 220 dari tahun 1941 s/d 1942


Sumber :
https://www.facebook.com/groups/1728158044141689/

Friday, February 28, 2020

Perayaan Natal Infanterie-Regiment 17

Para perwira dari Infanterie-Regiment 17 berkumpul bersama untuk merayakan malam Natal, di bulan Desember 1938. Mereka semua mengenakan waffenrock (seragam parade/pesta), dan terlihat ceria dalam foto yang diambil di barak mereka yang berlokasi di Braunschweig, Niedersachsen (Jerman). Di tengah terlihat dua orang perwira yang membawa "wappen" bergambar tengkorak, yang merupakan lambang dari resimen milik 31. Infanterie-Division ini (bisa dibilang bahwa Infanterie-Regiment 17 merupakan satu dari sangat sedikit unit di Wehrmacht yang diperbolehkan untuk memajang simbol resimen mereka di topi!). Bapak-bapak botak yang nongkrong persis di bawah wappen adalah sang Regimentskommandeur, Oberst Friedrich-Wilhelm "Vati" Neumann (22 Januari 1889 - 26 Januari 1975), yang nantinya dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 16 Oktober 1944 sebagai Generalleutnant dan Komandan 712. Infanterie-Division. Alasan pemberian medali bergengsi tersebut telah disebutkan dalam Wehrmachtbericht (siaran radio berkala Wehrmacht) tertanggal 26 September 1944, dengan isi sebagai berikut: "Bei den Abwehrkämpfen in Belgien hat sich die 712. Infanteriedivision unter Führung von Generalleutnant Neumann besonders ausgezeichnet. Die Division vernichtete bzw. erbeutete in der Zeit vom 3. bis zum 10. September 161 "Sherman"-Panzer und Panzerspähwagen, größtenteils durch Panzernahbekämpfungsmittel." (Dalam pertempuran mempertahankan diri di Belgia, 712. Infanterie-Division yang dipimpin oleh Generalleutnant Neumann telah mempertunjukkan perjuangan yang mengagumkan. Dalam periode 3 sampai dengan 10 September, divisi tersebut telah berhasil menghancurkan atau merampas 161 buah tank Sherman dan kendaraan lapis baja, terutama dengan menggunakan senjata anti-tank genggam-tangan)


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/08/generalleutnant-friedrich-wilhelm-vati.html

Saturday, November 16, 2019

Upacara Pernikahan Pelayan dan Sekretaris Hitler

  Hari pernikahan antara SS-Obersturmführer Hans Hermann Junge dengan Gertraud "Traudl" Humps di Berlin, musim panas tahun 1943. Kedua orang ini sehari-hari bertugas sebagai anggota staff pribadi pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler: Junge adalah pelayannya, sementara Traudl adalah sekretarisnya. Mengiringi mereka di sebelah kiri adalah SS-Obersturmführer Otto Günsche (ajudan SS Hitler) sementara di kanan adalah SS-Sturmbannführer Erich Kempka (supir Hitler). Atas saran langsung dari sang Führer, Junge dan Humps menikah tanggal 19 Juni 1943, dan pada tanggal 14 Juli 1943 sang suami sudah bergabung dengan unit Waffen-SS di medan perang. Tentang kepergian suaminya ke front, istrinya Traudl mengenang: "Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang menyadari bahwa lama kelamaan pemikiran Hitler akan begitu berpengaruh pada orang-orang terdekatnya, hingga mereka sendiri pun bahkan tidak tahu apa yang menjadi pemikiran mereka, atau akan datangnya pengaruh lain dari luar. Junge menginginkan agar naluri obyektifitasnya tetap kembali pada tempatnya, sehingga berkali-kali dia mengajukan diri untuk ditugaskan ke front... yang merupakan satu-satunya cara agar dia bisa keluar dari pekerjaannya dengan Hitler..." Setahun kemudian Hans Hermann Junge gugur dalam serangan pesawat udara Sekutu di Dreux, Prancis. Hitler begitu menyukai mantan bawahannya ini - dan sangat bersedih atas kehilangannya - sehingga dia sendiri yang secara pribadi mengabarkan berita tersebut ke Traudl. Berpuluh-puluh tahun kemudian, pengalaman hidup sang sekretaris pemimpin Nazi difilmkan dengan judul "Der Untergang" (Downfall). Sudah nonton filmnya di layar tancap?


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/08/tabel-produksi-mobil-mercedes-benz-1930.html

Sunday, June 30, 2019

Pernikahan Jagoan Luftwaffe Werner Mölders

 Momen pernikahan jagoan udara Luftwaffe Oberst Werner Mölders (General der Jagdflieger) dengan pasangannya yang cantik jelita, Luise Baldauf-Thurner, yang diselenggarakan di Königstein (Sachsen/Jerman) pada tanggal 13 September 1941. Nyelip di tengah-tengah pasangan pengantin yang berbahagia kemungkinan adalah Oberst Max Ibel (Jagdfliegerführer 3), sementara perwira Heer yang berada di belakang Luise adalah Fritz von Forell, teman dekat Mölders yang pada tahun 1941 menulis buku tentang sang jagoan Luftwaffe berjudul "Mölders und seine Männer" (Mölders dan anakbuahnya). Di sebelah kanan Mölders adalah ibu tercintanya, Annemarie, sementara di sebelah kiri Luise adalah orangtuanya (ayahnya adalah seorang perwira RAD). Ayah Mölders sendiri, Victor, adalah seorang guru sekolah biasa yang gugur sebagai pahlawan Jerman dalam pertempuran di Hutan Argonne (Prancis) dalam kancah Perang Dunia Pertama di tahun 1915. Tragisnya, hanya berselang dua bulan setelah foto ini diambil - tepatnya pada tanggal 22 November 1941 - Werner Mölders, sang jagoan udara terbaik Jerman sampai saat itu, tewas dalam kecelakaan udara, bukan sebagai pilot tempur melainkan saat sedang menjadi penumpang dalam pesawat Heinkel He 111 di dalam perjalanan menuju Berlin untuk menghadiri upacara pemakaman Generaloberst Ernst Udet yang mati bunuh diri!


Sumber :
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=986502

Wednesday, October 17, 2018

Donasi Kriegswinterhilfswerk oleh Ritterkreuzträger Großdeutschland

Foto propaganda ini memperlihatkan saat tiga orang wanita memberikan sumbangan uang kepada dua orang "tukang kencleng" yang mewakili Kriegswinterhilfswerk, sebuah program penggalangan dana berkala yang bertujuan untuk membantu rakyat Jerman yang kurang mampu disaat musim dingin tiba. Dua orang peminta sumbangan itu sendiri bukanlah prajurit biasa, melainkan pahlawan perang sekaligus Ritterkreuzträger dari Wachbataillon (Batalyon Jaga) Großdeutschland. Mereka adalah, dari kiri ke kanan: Leutnant Karl Hausmann (Ritterkreuz tanggal 15 Mei 1942 sebagai Oberfeldwebel dan Führer 3.Kompanie / I.Bataillon / Jäger-Regiment 28 / 8. leichte Infanterie-Division) dan Oberfeldwebel Josef Dörfel (Ritterkreuz tanggal 4 Maret 1942 sebagai Oberfeldwebel dan Zugführer di 6.Kompanie / II.Bataillon / Infanterie-Regiment 439 / 134.Infanterie-Division). Foto ini sendiri diambil pada bulan Maret 1943



Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2014/09/foto-panzergrenadier-division.html