Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2010/10/album-foto-panzer-iv.html
Wehrmacht, Waffen SS, Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine, Nazi, German, Germany, Army, Air Force, Navy, Armed Forces, Schutzstaffel, World War II, WW2, WWII, Adolf Hitler, Afrikakorps, Fallschirmjäger, Panzertruppen, Panzer, U-boat, Brandenburgers, Ace, Stuka, Day, Night, Pilot, Captain, General, Admiral, Officer, Jerman, NSDAP, Holocaust, Halftrack, Soldiers, Soldat, Landser, Mortar, Aircraft, Tank, PaK, Infantry, Cavalry, Artillery, Flak, Anti-Aircraft, Military, Operation
Personil 1.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V.66 berpose di depan
Panzerkampfwagen IV Ausf.G milik mereka, musim panas 1942. Zur
Besonderen Verwendung (z.b.V.) biasa diterjemahkan sebagai "untuk tujuan
khusus". Rencana invasi Pulau Malta yang dinamakan sebagai Unternehmen
Herkules membutuhkan unit panzer special pake telor. Untuk mengakomodasinya maka
dibentuklah sebuah kompi tank baru yang dibekali dengan Panzer IV
Ausf.G. Kompi ini dinamakan sebagai Panzer-Kompanie z.b.V.66 dan
dikomandani oleh Oberleutnant Hans-Günther Bethke, seorang
Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Tak dinyana, rencana invasi tersebut
dibatalkan oleh Hitler sehingga kompi yang sudah kadung dibentuk
kemudian direorganisasi ulang menjadi setaraf batalyon yang dilengkapi dengan dua
kompi. Kompi pertama kemudian ditugaskan bersama dengan Heeresgruppe Nord, sementara kompi kedua ditempatkan di garis belakang Heeresgruppe Mitte.
Karena ruang operasinya telah pindah dari wilayah Mediterania ke Front Timur,
maka para personilnya pun mengganti seragam tropis mereka menjadi
seragam hitam Panzertruppen biasa.
Generalleutnant Helmuth Schlömer (tengah), Kommandeur 3. Infanterie-Division (motorisiert), menginspeksi sebuah Panzerkampfwagen IV Ausf.G bersama dengan tiga orang perwira Wehrmacht lainnya. Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Koch (Propaganda-Kompanie 694) di sektor selatan Front Timur pada bulan Juni-Juli 1942. Pada periode tersebut Jenderal Schlömer dan divisi pimpinannya sibuk berjibaku melawan Tentara Merah dalam gerak maju mereka ke Stalingrad, terutama sewaktu melakukan penyeberangan Sungai Tim (28 Juni 1942), pertempuran mempertahankan jembatan Voronezh (7-13 Juli 1942), dan pertempuran di pinggiran sungai Don (24 Juli s/d 10 Agustus 1942). Sebagai penghargaan atas kepemimpinannya dalam fase-fase paling kritis yang dihadapi oleh Divisi Infanteri ke-3, Divisionskommandeur Schlömer dianugerahi medali Eichenlaub pada tanggal 23 Desember 1942 (dia sebelumnya telah mendapatkan Ritterkreuz pada tanggal 2 Oktober 1941 sewaktu masih menjadi Oberst / Kolonel dan Komandan Schützen-Regiment 5 / 12.Panzer-Division).
Generaloberst Ernst Busch (Oberbefehlshaber 16. Armee) berfoto dengan Oberst Erich Jaschke (kanan, Kommandeur Infanterie-Regiment 90 / 20.Infanterie-Division) di depan mobil BMW 335 berwarna krem. Foto ini kemungkinan besar diambil di front Volkhov, utara Front Timur, pada musim dingin tahun 1941/42. Pada saat itu pihak Jerman belum lagi dilengkapi dengan pakaian dan perlengkapan putih musim dingin, sehingga mereka memakai mantel standar Wehrmacht atau aneka pakaian tebal lainnya yang bisa mereka dapatkan di lapangan.
General der Infanterie Rudolf Schmundt (kedua dari kiri, Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht) dan Oberst im Generalstab Oldwig von Natzmer (kedua dari kanan, Ia Erster Generalstabsoffizier Panzergrenadier-Division "Großdeutschland") berdiri di dekat instalasi pertahanan udara Jerman di Front Timur, bulan Juni 1944. Instalasi tersebut dinamakan Entfernungsmesser (penjejak arah) dari jenis Kdo.Ger.40 (Kommandogerät 40), dan biasa digunakan oleh unit-unit artileri anti pesawat terbang yang menggunakan meriam berat Flak 18 atau Flak 40. Fungsi alat ini sendiri adalah untuk menentukan posisi pesawat musuh yang menjadi target sasaran sekaligus menghitung jaraknya dari darat. Butuh setidaknya lima orang untuk mengoperasikan alat ini, sementara beratnya yang mencapai hampir 1 ton - tepatnya 915 kg - membuat ruang lingkup penggunaannya terbatas hanya sebagai alat pertahanan diri dan bukan pendukung serangan. Meskipun begitu, lensa kualitas super yang digunakannya serta keakuratan penguncian targetnya yang telah banyak teruji membuat Kommandogerät 40 menjadi andalan utama para pengontrol tembakan meriam Wehrmacht. Foto ini sendiri dibuat oleh Kriegsberichter Gottert, dan pertama kali dipublikasikan oleh "Berliner Verlag" di bulan Juni 1944.
Penampakan
jenderal-jenderal Wehrmacht di acara parade kemenangan pasukan Jerman
di Place de la Concorde, Paris, hari Jum'at tanggal 14 Juni 1940. Di
hari itu ibukota Prancis tersebut jatuh ke tangan tentara Nazi,
sementara 2.000.000 warganya telah pergi mengungsi. Sebagai persiapan
parade, pihak penguasa baru melarang warga setempat untuk mendekati
sekitar wilayah Place de la Concorde dari pukul 08:00 pagi sampai dengan
sore harinya. Sebagai identitas bapak-bapak bule yang nongtot dalam
foto ini adalah, baris depan dari kiri ke kanan: Generalleutnant Hans
von Salmuth (Chef des Generalstabes Heeresgruppe B), General der
Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 18. Armee), Oberleutnant
der Reserve Heinrich Graf von Lehndorff-Steinort (Adjutant
Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), General der Kavallerie Georg Stumme
(bocil yang membelakangi kamera, Kommandierender General XXXX.
Panzerkorps), serta Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber
Heeresgruppe B). Di latar belakang terlihat deretan mobil mewah yang
terparkir, yang kemungkinan besar adalah tunggangan khusus
perwira-perwira tinggi Jerman yang menghadiri acara. Tiga mobil yang
berada di sebelah kanan adalah, berturut-turut dari kiri ke kanan: Opel
Admiral, Opel Kapitän, dan Horch 830 BL. Foto berwarna asli ini sendiri
dibuat oleh salah seorang fotografer pribadi Hitler, Hugo Jaeger, yang
"nebeng" bersama dengan Heeresgruppe B dalam invasi ke Benelux (Belanda
Belgia Luxemburg) dan Prancis di musim panas tahun 1940.
Para prajurit dari 3.Zug / 3.Kompanie / I.Bataillon / Infanterie-Regiment 28 berbaris dalam sebuah parade yang diselenggarakan di Friedrich-Wilhelm-Platz (Lapangan Friedrich-Wilhelm) yang terletak di pusat kota Neisse, Oberschlesien, Jerman. Foto ini diambil pada tanggal 7 November 1935 pada saat berlangsungnya rangkaian upacara pengambilan sumpah prajurit-prajurit baru dari Infanterie-Regiment 28. Hanya beberapa bulan sebelumnya (Maret 1935), Adolf Hitler secara terang-terangan melanggar Perjanjian Versailles (1919) saat dia mengumumkan "Gesetz für den Aufbau der Wehrmacht" (Dekrit Pembangunan Angkatan Bersenjata), yang tak lagi terikat oleh pembatasan-pembatasan yang merugikan seperti sebelumnya. Hanya dalam tempo empat tahun (1935-1939), jumlah anggota Wehrmacht "meledak" dari hanya 100.000 orang menjadi 4.000.000 orang! BTW, gaya berbaris khas yang mereka peragakan dalam foto ini dinamakan sebagai "Stechschritt" atau "Stechmarsch" (kalau di Inggris dinamakan goose-step), yang intinya adalah berjalan dalam formasi tanpa menekuk lutut. Gaya berbaris semacam ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-18 oleh Generalfeldmarschall Leopold Prinz von Anhalt-Dessau, seorang jenderal dari Kerajaan Prusia era Friedrich the Great, yang terkenal karena telah berperan besar memodernisasi militer negaranya menjadi salah satu yang terkuat di Eropa pada masanya. 
Foto
ini diambil oleh Hugo Jaeger pada tanggal 15 Mei 1940, dan
memperlihatkan General der Artillerie Georg von Küchler (kiri,
Oberbefehlshaber 18. Armee) yang sedang memberikan laporan kepada
atasannya, Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe
B) - dengan disaksikan oleh beberapa warga sipil setempat - di depan
Christelijke Lagere school yang terletak di Rijksstraatweg,
Rijsoord/Ridderkerk, Belanda, tak lama setelah berakhirnya perundingan
penyerahan negara penjajah nusantara tersebut ke tangan Jerman pada
tanggal 14 Mei 1940. Hanya dalam tempo empat hari Belanda bertekuk lutut
oleh sapuan "Blitzkrieg" (Perang Kilat) Jerman! Dalam foto ini,
Jenderal Küchler mengenakan holster berisi pistol Walther PPK di ikat pinggangnya. Lokasi
penyerahan sendiri berada di dalam bangunan sebuah sekolah bernama
Johannes Postschool, dan ditandatangani langsung oleh panglima Angkatan
Bersenjata Belanda saat itu, Henri Winkelman. Sekolah tersebut kini
telah menjadi museum, lengkap dengan monumen yang bertuliskan: "Mereka
yang mengacuhkan pertahanannya maka sama saja dengan mempertaruhkan
kemerdekaannya"
Sumber :
https://artsandculture.google.com/asset/hitler-jaeger-file/lQHTtY7MrgNqGQ?hl=en

Prajurit-prajurit
Afrikakorps menunggu giliran untuk ikut berpartisipasi
dalam parade militer di Tripoli, Libya, tanggal 14 Februari 1941.
Mereka adalah bagian dari kontingen pertama pasukan Jerman yang tiba di
Afrika Utara, yang berangsur datang dari tanggal 10 Februari s/d 12
Maret 1941. Meskipun prajurit-prajurit ini sudah mendapatkan jatah
tropenuniform (seragam tropis) dan tropenhelm (helm tropis), tapi,
sebagian besar perlengkapan dan mesin perang mereka masih menggunakan
cat lama yang biasa dipakai di daratan Eropa. Beiwagenkrädern (motor
bersespan) dalam foto ini berasal dari jenis BMW R12, sementara mobil di
belakangnya adalah Kübelwagen. Prajurit Afrikakorps dengan senapan
Kar98k (Karabiner 98 kurz) tersampir di punggungnya ini mengenakan
"Kradbrille" di matanya, yang merupakan kacamata khusus pelindung debu
yang banyak digunakan oleh unit bersepeda motor seperti Aufklärungs
(Pelopor) atau Kradmelder (Pengantar Pesan). Foto ini
diambil oleh Kriegsberichter Sturm dari KBK Lw 7
(Kriegsberichter-Kompanie Luftwaffe 7). Perhatikan rambu unik bergambar
kereta kuda dan truk di latar belakang! Ada yang tahu maksudnya?
Sumber :
Bundesarchiv Bild 101I-424-0258-02
Foto
ini diambil di sekitar wilayah Kharkov pada tanggal 20 Juli 1943 oleh
Kriegsberichter Jütte, dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk
Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader
1) yang baru saja kembali dari feindflug (misi udara) yang ke-800.
Sambil memegang buket bunga dan berdiri di samping pesawat Focke-Wulf Fw
190 yang baru saja didaratkannya, Dörffel dengan semangat menenggak
miras cap Tikus yang diberikan oleh Major Alfred Druschel
(Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1). Hanya berselang satu bulan
kemudian, Georg Dörffel berhasil menyelesaikan misinya yang ke-900. Dia
menerbangkan misinya yang ke.1000 pada tanggal 6 Oktober 1943, dan
dengannya dia menjadi salah satu dari sangat sedikit pilot Luftwaffe
yang mampu melakukan misi tempur sebanyak itu! Sang jagoan Stuka
terbunuh di atas kota Roma, Italia, pada tanggal 26 Mei 1944 saat
berusaha keluar dari pesawat Focke-Wulf Fw 190 F-8 yang dipilotinya.
Kemungkinan besar kepalanya berbenturan dengan ekor pesawat yang melaju
kencang, membuatnya tak sadarkan diri sehingga tak sempat membuka
parasutnya.



Dari kiri ke kanan: Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann
(Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Hauptmann
Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan
Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe /
Schlachtgeschwader 1). Di hari yang sama, Oberleutnant d.R. Gehrmann menerbangkan misi tempurnya yang ke-400.
Dari kiri ke kanan: Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann
(Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Major Alfred Druschel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1), Hauptmann
Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan
Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe /
Schlachtgeschwader 1).
Sumber :
https://www.bild.bundesarchiv.de/dba/de/search/?topicid=dcx-thes_personen_774u7o51p5xr4b6jden
http://forum.12oclockhigh.net/showthread.php?t=59973
http://historical-media.com/einzel/2013.9.13/_x2013.9.13.html
Gebirgsoldaten (Prajurit Gunung) menyempatkan diri untuk tidur di bak belakang truk di sela-sela invasi Jerman ke Polandia, bulan September 1939. Perhatikan detail sol sepatu mendaki yang mereka kenakan! Sepatu jenis ini dikenal dengan nama "Bergstiefel" atau sepatu gunung, dan mempunyai lapisan yang lebih keras dibandingkan dengan sepatu kulit standar "Marschstiefel"yang biasa dipakai oleh landser (prajurit) Jerman. Sepatu ini juga lebih pendek ukurannya (sebatas tumit), dan bisa digunakan untuk dua hal: mendaki gunung serta bermain ski.
Uni Soviet, musim panas tahun 1942. Dalam caption aslinya, disebutkan bahwa prajurit-prajurit Waffen-SS ini
berhasil menangkap hidup-hidup seorang sniper Rusia, dan dengan marah
menyeretnya keluar dari lubang persembunyiannya (salah seorang diantara
mereka bahkan memukulkan ujung senapan pada sang sniper sial!). Kecil
kemungkinan bahwa sniper tersebut akan selamat - atau setidaknya dikirim
ke kamp tawanan - karena nasib sniper dimana-mana kalau tertangkap
biasanya lebih buruk dari nasib prajurit biasa, apalagi kalau
ditangkapnya oleh pasukan SS yang terkenal brutal, maka itu adalah
benar-benar skenario terburuk yang bisa terjadi! BTW, prajurit di
sebelah kiri mengenakan jaket Telogreika/Vatnik Soviet hasil rampasan.
Jaket hangat yang terdiri atas lapisan kapuk dan wol ini biasa dikenakan
oleh tentara-tentara Rusia saat musim dingin tiba, meskipun tidak
diketahui alasannya kenapa si prajurit Jerman justru mengenakannya pada
saat musim panas!
"Wie spricht Rata?" (bagaimana cara Rata ngomong?). Jagoan Luftwaffe Günther Rall (memakai jaket bulu), bersama dengan enam orang pilot skuadronnya dari 8.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52), sedang bermain-main dengan anjing yang menjadi maskot unit mereka - yang bernama "Rata" - di sela-sela istirahat singkat antara feindflug (misi udara) pertama dan kedua di hari itu. Foto ini diambil di bulan Maret 1943 oleh Kriegsberichter Reissmüller. Depan dari kiri ke kanan: Unteroffizier Manfred Lotzmann (15 Abschüsse - kemenangan udara), Unteroffizier Werner Höhenberg (33 Abschüsse), dan Leutnant Hans Funcke (19 Abschüsse). Belakang : Hauptmann Günther Rall (275 Abschüsse), Leutnant Hans Martin Markoff (15 Abschüsse), Feldwebel Karl-Friedrich Schumacher (56 Abschüsse), dan Oberleutnant Gerhard Luety (38 Abschüsse). Günther Rall sendiri adalah pilot pemburu tersukses ketiga dalam sejarah. Dia mencatatkan 275 kemenangan udara terkonfirmasi dalam kancah Perang Dunia II, dimana 241 diantaranya diraih di Front Timur melawan pilot-pilot Uni Soviet. Dalam karir militernya, Rall ikut serta dalam 621 misi tempur; ditembak jatuh delapan kali, dan terluka sebanyak tiga kali. Dia ikut berpartisipasi dalam penyerbuan ke Prancis (1940), Pertempuran Britania (1940), Kampanye Balkan (1941), Pertempuran Kreta (1941), dan Operasi Barbarossa (1941). Rall memulai perang dengan pangkat Leutnant (Letnan Dua), dan mengakhirinya sebagai Major (Mayor) dan Komandan JG 300. Dia meraih semua kemenangannya dengan menggunakan pesawat Messerschmitt Bf 109.
Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk
dua orang pilot berprestasi Luftwaffe dari 9.Staffel / III.Gruppe /
Jagdgeschwader 52 (JG 52), yang diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 1942
di Belyj-Kolodes (Ukraina), yang terletak di dekat Kharkov. Kedua pilot
tersebut berdiri menghadap kamera di sebelah kanan, dan mendengarkan
dengan serius saat General der Flieger Curt Pflugbeil (Kommandierender
General IV. Fliegerkorps) sedang berpidato. Mereka adalah, dari kiri ke
kanan: Feldwebel Alfred Grislawski dan Feldwebel Karl Steffen.
Grislawski mendapatkan Ritterkreuz setelah mencatatkan 43 kemenangan
udara terkonfirmasi, sementara Steffen setelah 44 kemenangan. Berdiri
membelakangi kamera sambil membawa tas di belakang Pflugbeil adalah
Oberleutnant der Reserve Hermann Graf (Staffelkapitän 9./JG 52), yang
juga merupakan jagoan udara terkemuka Luftwaffe. Kepemimpinan Graf
sebagai seorang Staffelkapitän begitu menonjol, sehingga beberapa orang
anakbuahnya kemudian mengikuti jejaknya sebagai jagoan udara dan
Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Selain dari Grislawski (total
133 kemenangan) dan Steffen (59 kemenangan), juga terdapat Ernst Süss
(68 kemenangan), Leopold Steinbatz (99 kemenangan), dan Heinrich
Füllgrabe (67 kemenangan). BTW, di latar belakang terlihat
pesawat-pesawat transport dari jenis Junkers Ju 52 "Tante Ju" dan
Fieseler Fi 156 "Storch".
15.
Panzer-Division di Afrika Utara: Prajurit-prajurit Afrikakorps dari
Panzer-Pionier-Bataillon 33 menaiki sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.G
"632" milik 6.Kompanie / II.Abteilung / Panzer-Regiment 8 untuk ikut
berpartisipasi dalam serangan pendahulu ke pertahanan Sekutu di sekitar
Tobruk, Libya, bulan Oktober 1941. Satuan zeni tempur ini melengkapi
diri dengan senjata yang lebih beragam dibandingkan dengan unit
infanteri standar, diantaranya adalah penggunaan penyembur api dari
jenis Flammenwerfer 35, drum amunisi senapan mesin, tabung berisi
cadangan laras MG 34, dan kantong pengangkut stielhandgranate. Di
sebelah kanan kita bisa melihat prajurit lain, yang kemungkinan adalah
komandan skuad, yang menyimpan senapan mesin MP-40 atau 38 di atas kubah
tank sebelum memanjatnya. Uniknya, para prajurit ini masing-masing
dilengkapi dengan dua pelples air dan bukannya satu seperti biasanya!
Mereka juga mengenakan cover helm berwarna pasir untuk meminimalisir
efek pantulan saat terkena sinar matahari.