Sunday, December 8, 2019

Biografi Generalleutnant Artur Schmitt

 Generalleutnant Artur Schmitt (20 Juli 1888 - 15 Januari 1972) bergabung dengan Angkatan Darat Bavaria pada tahun 1907 dengan pangkat Fahnenjunker. Dia bertempur dalam Perang Dunia Pertama, tapi kemudian tidak terpilih ke dalam 4.000 orang perwira Reichswehr Republik Weimar sehingga berhenti pada tahun 1920. Dia lalu bergabung ke dalam unit polisi Bavaria, dan pada tahun 1934 sudah berpangkat Oberstleutnant. Ketika Wehrmacht diaktifkan setahun kemudian, Schmitt mengajukan permohonan untuk masuk kembali, dan diterima. Dia menghabiskan sebagian besar masa tugasnya sebagai perwira yang mengurusi suplai dan perbekalan, dengan jabatan terakhirnya adalah sebagai "Kommandant Rückwärtige Armeegebiet 556 (Komandan Wilayah Garis Belakang Pasukan 556) yang berada di bawah kendali Panzergruppe Afrika pimpinan "Si Rubah Gurun" Erwin Rommel. Ketika pada akhir tahun 1941 pihak Inggris meluncurkan "Operation Crusader" di Afrika Utara, depo suplai Afrikakorps di Bardia - yang sekaligus menjadi markas Schmitt - terkepung oleh Sekutu. Disana hanya ada sedikit pasukan tempur, sementara sisanya adalah petugas administrasi dan perbekalan serta sekutu Italia yang tak bisa diandalkan (total 6.400 orang). Meskipun begitu, Schmitt - yang menjadi perwira dengan pangkat tertinggi - menolak untuk menyerah begitu saja. Selama sebulan penuh dia menggagalkan setiap usaha terobosan dari musuh, dan hanya setelah sumber airnya habis - bertepatan dengan Tahun Baru 1942 - barulah dia dan pasukannya menyerah, sekaligus mengembalikan 1.100 orang tawanan Inggris yang mereka dapatkan dalam proses terobosan musuh sebelumnya yang gagal! Cerita belum berakhir disini sodara-sodara... Schmitt merasa bahwa sekutu Italia yang bertempur bersamanya kurang terlalu berguna dalam pertempuran, dan dia menyatakannya terus terang - kepada pers internasional yang mewawancarainya tak lama sesudah dia ditangkap - bahwa dia pastilah akan bertahan lebih lama lagi bila saja tak "dibebani" oleh keberadaan mereka! Hal ini kemudian menimbulkan kontroversi internasional, sampai-sampai pemerintah Italia secara resmi mengajukan keberatan kepada Jerman, yang harus diredakan langsung oleh Hitler. Bagaimana dengan Rommel sendiri? Dia berdiri di pihak Schmitt, dan malah merekomendasikan jenderalnya yang jujur dan apa adanya tersebut untuk mendapatkan medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, yang akhirnya didapatkan oleh Schmitt pada tanggal 5 Februari 1942 sebagai Generalmajor dan Kommandant Rückwärtige Armeegebiet 556 und Führer Division Bardia / Panzergruppe Afrika. Tidak hanya itu, pangkatnya pun dinaikkan setingkat menjadi Generalleutnant... dan ini semua berlangsung saat Schmitt sudah berstatus sebagai tawanan perang! Sudah berakhir ceritanya? Belum! Dalam perjalanan di kapal transport "Pasteur" milik Inggris yang akan membawanya ke kamp tawanan perang di Kanada, Schmitt - bersama dengan dua orang perwira tinggi Afrikakorps lainnya yang ditawan - yaitu Generalleutnant Johann von Ravenstein dan Oberstleutnant der Reserve Wilhelm Bach - berencana untuk menguasai kapal dan membawanya ke Singapura yang dikuasai oleh Jepang. Sialnya, rencana ini keburu ketahuan sebelum sempat terlaksana, sehingga tentara Inggris memisahkan ketiga orang Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) ini dalam sel terpisah dari yang lainnya. Schmitt kemudian menjalani masa tahanannya sampai tahun 1947. OK, sekarang pasti sudah the end kan? Belum beibeh, karena jasa Schmitt kemudian dipakai oleh Liga Arab untuk melawan negara Israel yang baru berdiri (selama masa tugasnya, dia tinggal di Kairo dengan nama samaran "Tuan Goldstein")! Schmitt kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Münich sampai dengan meninggalnya pada tahun 1972. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Königlich Bayerische Prinz Regent Luitpold-Jubiläums-Medaille (6 Maret 1911); 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (13 Mei 1918) und I.Klasse; Königlich Bayerischer Militär-Verdienstorden IV.Klasse mit Schwertern (27 Juni 1918); Königlich Bayerischer Militär-Verdienstorden IV.Klasse mit Krone und Schwertern; Kolonial-Abzeichen (Elefantenorden); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Dienstauszeichnung IV. und I.Klasse; serta 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse. BTW, foto ini diambil saat status Schmitt sudah menjadi tawanan perang di Camp 30, Bowmanville, Ontario (Kanada). Dia dengan bangga memperlihatkan medali Ritterkreuz-nya, yang khusus dikirim dari Berlin dengan menggunakan jasa Palang Merah Internasional!


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?t=127412

Guderian dalam Inspeksi di Bouillon (1940)

 General der Panzertruppe Heinz Guderian (Kommandierender General XIX. Armeekorps [motorisiert]) dalam tur inspeksi di Bouillon, pada tanggal 12 Mei 1940. Pagi sebelumnya di hari yang sama, kota di selatan Belgia tersebut jatuh ketangan salah satu unit yang berada di bawah komandonya (Schützen-Regiment 1 / 1.Panzer-Division). Di hari itu pula Guderian memindahkan markas staff-nya sampai dua kali karena serangan tanpa henti bomber-bomber Sekutu: pertama di Hotel Panorama di lembah sungai Semois, lalu ke hotel yang lebih kecil di utara Bouillon, dan selanjutnya pindah lagi ke sebuah hotel di desa Bellevaux-Noirefontaine. BTW, para perwira yang mengenakan seragam hitam "sonderbekleidung der deutschen panzertruppen" (pakaian khusus pasukan panzer Jerman) di belakang Guderian berasal dari Panzer-Aufklärungs-Abteilung 4 - yang merupakan bagian dari 1. Panzer-Division - dengan komandannya, Major Dr. Alexander von Scheele, berada di belakang Guderian dengan kepala sedikit tertutup. Sementara itu, paling kanan adalah Oberstleutnant Gustav-Adolf Riebel (IIa Personalverwaltung – 1. Adjutant XIX. Armeekorps [motorisiert]).


Sumber :
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bundesarchiv_Bild_146-1980-004-32,_Heinz_Guderian_in_Bouillon,_Frankreich.jpg
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=245847&p=2237945#p2237945

Thursday, December 5, 2019

Rommel Diwawancarai Setelah Jatuhnya Tobruk

 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") asyik ngoceh saat sedang diwawancarai oleh Kriegsberichter Lutz Koch, yang menodongkan mikrofon merk Beyer M 19b ke mulutnya, sementara bildberichter di belakang mereka sibuk merekam gambar dengan kamera Arriflex 35mm. Di belakang Rommel terlihat seorang operator sedang sibuk bekerja menggunakan magnetofon AEG "Tonschreiber d (Dora)" - yang tercatat sebagai magnetofon (perekam magnetik) portabel pertama di dunia - diatas mobil Horch Typ 40 mittlerer geländegängiger Personenkraftwagen (m.gl.Pkw) Kfz 15. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 22 Juni 1942 saat pasukan Jerman baru saja merebut Tobruk dari tangan Sekutu. Kota pantai di Libya ini mempunyai peran sangat strategis dalam kancah pertempuran Afrika Utara, dan penguasaannya membuat rakyat Jerman terbuai dalam euforia: pendudukan Mesir hanya tinggal menunggu waktu, dan setelahnya adalah bersatunya pasukan Jerman dari Rusia dan Afrika di Kaukasus! Wawancara ini disiarkan secara langsung ke tanah air Jerman, dan didengarkan oleh begitu banyak orang, termasuk oleh Adolf Hitler dan konco-konconya. Di hari itu juga sang Führer - yang merasa sangat gembira - memutuskan untuk memberikan kenaikan pangkat luar biasa untuk jenderal favoritnya tersebut, dari Generaloberst (Kolonel-Jenderal) menjadi Generalfeldmarschall (Marsekal-Jenderal), sebuah pangkat yang secara resmi tidak ada pensiunnya!


Sumber:
Buku "Afrikakorps" karya Francois de Lannoy
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=222516&p=2237298#p2237298

Wednesday, December 4, 2019

Foto Berwarna Alfred-Ingemar Berndt

 SS-Brigadeführer Alfred-Ingemar Berndt (22 April 1905 - 28 Maret 1945) adalah seorang jurnalis, penulis, dan kolaborator setia dari Menteri Propaganda Nazi Jerman Joseph Goebbels. Berndt menuliskan pengalamannya tentang penyerbuan Jerman atas Prancis dalam buku "Tanks Break Through!", dan dianggap sebagai orang yang paling bertanggungjawab dalam menciptakan mitos propaganda tentang ketangguhan "Si Rubah Gurun" Erwin Rommel di medan perang Afrika Utara. Meskipun telah menjadi pejabat di Kementerian Propaganda dari masa awal berkuasanya Hitler di tahun 1933, Berndt rela melepaskan zona nyamannya untuk kemudian mendaftar sebagai sukarelawan Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) saat Perang Dunia II pecah, dengan pangkat sebagai prajurit biasa! Setelah kesuksesan Blitzkrieg di Barat pada tahun 1940, Berndt balik lagi ke pekerjaan lamanya sebagai penulis dan jurnalis. Pada bulan Mei 1941 dia kembali ke front, dan kali ini bersama dengan Rommel di Afrika. Berndt - yang mempunyai enam jari di salah satu kakinya (!) - dipercaya untuk menjadi reporter propaganda sekaligus mengisi buku harian Rommel. Meskipun tak lama kemudian dia dipanggil pulang oleh Goebbels, Berndt tetap tidak meninggalkan Afrikakorps, dan bolak-balik Jerman-Afrika sampai akhirnya Rommel terusir dari sana di tahun 1943. Berndt kemudian melanjutkan tugasnya sebagai pakar propaganda, dan dipercaya untuk menulis tentang Pertempuran Stalingrad, penyerahan pasukan Jerman di Tunisia serta Pembantaian Katyn. Pada tanggal 24 Mei 1944, dua minggu sebelum Sekutu mendarat di Normandia, dia menembak mati seorang pilot Amerika yang tertangkap oleh Jerman. Tindakannya jelas-jelas telah melanggar hukum perang yang telah ditetapkan oleh Konvensi Jenewa, tapi Berndt tak pernah dihadapkan ke mahkamah militer karena keburu tewas dalam pertempuran di Hungaria. Ternyata dia telah mendaftar sebagai sukarelawan perang untuk kesekian kalinya, dan kali ini ditugaskan ke Divisi Wiking sebagai seorang perwira Waffen-SS! Medali dan penghargaan yang telah diterimanya: Julleuchter der SS (16 Desember 1935); SS Zivilabzeichen Nr. 80734; Deutsche Olympia Ehrenzeichen I.Klasse (16 Agustus 1936); SA Sportabzeichen; Goldenes Hitlerjugend Ehrenzeichen; Traditions Gau Abzeichen; Medaille zur Erinnerung an den 13 März 1938; Medaille zur Erinnerung an den 1 Oktober 1938 mit Spange “Prager Burg”; Eisernes Kreuz II.Klasse (27 Mei 1940) und I.Klasse (6 Juni 1940); Verwundetenabzeichen in Schwarz (Juni 1940) und in Silber (3 Juli 1942), Medaglia d'Argento al Valore Militare Italia (2 Juli 1941); Grande Ufficiale dell’Ordine della Corona d’Italia; Deutsch-italienische Feldzugsmedaille Afrika; Allgemeines-Sturmabzeichen (1942); Ungarisches Grossoffizierkreuz des Verdienstorden; Goldenes Ehrenzeichen der NSDAP (30 Januari 1943), Ärmelband "Afrika"; Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern und Kriegsverdienstkreuz I.Klasse ohne Schwerter; serta Dienstauszeichnung der NSDAP in Silber


Sumber :
Foto koleksi pribadi Douglas E. Nash
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=38&t=50844&start=15

Upacara Pemakaman Generaloberst Ernst Udet

Upacara pemakaman Generaloberst Dr.-Ing. h.c. Ernst Udet (Generalluftzeugmeister und Chef des Planungsamts der Luftwaffe) yang diselenggarakan pada tanggal 21 November 1941. Jenazah sang mantan jagoan udara Jerman dalam Perang Dunia Pertama tersebut - yang kemudian mati karena bunuh diri - kini diantarkan menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Invalidenfriedhof, Berlin. Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe) memimpin para jenderal Wehrmacht yang berjalan di belakang peti jenazah. Tepat berada di depan Göring adalah barisan jagoan udara Luftwaffe yang bertindak sebagai penjaga kehormatan, dari kiri ke kanan: Hauptmann Gordon Gollob (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 3) dan Major Günther Freiherr von Maltzahn (Geschwaderkommodore Jagdgeschwader 53). Sementara itu, yang berada di baris pertama di belakang Göring adalah, dari kiri ke kanan: General der Flieger Bruno Loerzer (Kommandierender General II. Fliegerkorps), General der Infanterie Georg Thomas (Chef Wehrwirtschafts und Rüstungsamt), Generaloberst Hubert Weise (Luftwaffen-Befehlshaber Mitte), Dr. ing. Prof. h.c. Fritz Todt (Reichsminister für Bewaffnung und Munition) yang mengenakan seragam kehormatan Generalmajor Luftwaffe, serta General der Flieger Karl-Heinrich Bodenschatz (Chef des Ministeramts des Reichsministers für Luftfahrt und Oberbefehlshaber der Luftwaffe)


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=29879&p=2237234#p2237234

Monday, December 2, 2019

Terbunuhnya Jenderal Gott di Afrika Utara

 Di siang hari tanggal 7 Agustus 1942, empat pesawat Messerschmitt Bf 109 dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" tinggal landas dari pangkalan mereka di Quotaifiya, yang terletak di jalan pantai Mediterania sekitar 72 kilometer sebelah barat El Alamein, Mesir. Mereka berangkat untuk melakukan patroli "Freie Jagd" (Berburu Bebas) rutin di belakang garis pertahanan Sekutu. Di waktu yang bersamaan, sebuah pesawat transport Bristol Bombay dari Nr. 219 Squadron RAF (Royal Air Force) Inggris terbang sendirian dari Heliopolis ke front terdepan pertempuran di Mesir untuk mengambil prajurit-prajurit yang terluka, dan kemudian menerbangkannya kembali ke rumah sakit di Kairo. Di lapangan udara terdepan Sekutu di Burg-el-Arab, Sergeant Hugh "Jimmy" James, sang pilot Bombay berusia 18 tahun, diperintahkan untuk membawa seorang penumpang istimewa: Lieutenant-General William Gott, yang baru beberapa jam sebelumnya ditunjuk untuk menjadi Panglima Eighth Army Inggris menggantikan Jenderal Claude Auchinlek, dan kini membutuhkan pesawat transport secepatnya untuk terbang kembali ke Kairo demi menghadiri sebuah pertemuan penting. Pesawat Bombay biasanya terbang dalam ketinggian rendah - sekitar 15 meter di atas daratan - untuk menghindari terdeteksi oleh pesawat-pesawat Jerman yang berada di sekitarnya. Meskipun begitu, penerbangan kali ini terpaksa dilakukan di ketinggian 150 meter demi menghindari kondisi overheating dari mesin Bristol Pegasus XXII yang diusung oleh pesawat itu. Di ketinggian inilah - sewaktu sedang melintasi bagian tenggara Alexandria - pesawat transport lamban Bombay tersebut terlihat oleh "schwarm" (kawanan) Bf 109 yang terbang di atasnya, yang dipimpin oleh Oberfeldwebel Emil Clade. Dengan hanya bermodalkan dua senapan mesin Vickers sebagai alat pertahanan diri, Bristol Bombay jelas bukanlah tandingan dibandingkan dengan empat pesawat pemburu Luftwaffe dari 5.Staffel / JG 27 tersebut, yang kemudian menukik bagaikan elang dari ketinggian 6.000 meter. Rentetan tembakan dari Oberfeldwebel Clade membuat pilot James berusaha mendaratkan pesawatnya secara darurat. Saat para penumpang berusaha berhamburan keluar dari pesawat yang terbakar tersebut, Bf 109 yang dipiloti oleh Unteroffizier Bernhard Schneider tiba-tiba menukik lalu memberondong tembakan senapan mesin ke arah mereka. Ke-17 orang penumpang yang berada di daratan kehilangan nyawanya, dan hanya menyisakan satu yang selamat yang masih berada di dalam pesawat, yaitu pilot James. Diantara yang terbunuh di hari itu adalah Jenderal Gott - yang ironisnya, mempunyai julukan "Strafer" alias pemberondong - yang tercatat sebagai perwira dengan pangkat tertinggi Inggris yang tewas oleh musuh dalam Perang Dunia II! Pesawat Bombay yang dipiloti oleh Sergeant James sendiri adalah satu-satunya korban dari Freie Jagd Jerman di hari itu, tapi akibat yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari yang disadari oleh semua pihak: kematian Gott berakibat dibutuhkannya seorang pemimpin baru untuk Eighth Army Inggris, dan orang yang kemudian terpilih adalah seorang perwira tidak terkenal bernama Bernard Law Montgomery. Dialah yang nantinya memimpin kemenangan Sekutu dalam pertempuran menentukan El Alamein di Afrika Utara dua bulan kemudian, dan yang membuat "si Rubah Gurun" Erwin Rommel harus mundur dari Mesir. Tidak hanya itu, Montgomery pula orangnya yang menerima penyerahan seluruh pasukan Jerman di Eropa Barat dan Utara pada tanggal 4 Mei 1945...


Sumber :
Buku "Jagdgeschwader 27 Afrika" karya John Weal

Friday, November 22, 2019

Kriegsberichter SS Ernst Baumann

SS-Kriegsberichter Ernst Baumann dengan "senjata" andalannya, sebuah kamera 35mm dari tipe Contax II. Ernst Baumann (14 Mei 1906 - 12 Januari 1985) adalah seorang fotografer profesional asal Bad Reichenhall, Bavaria, yang telah menjadi tukang jepret kawakan dari sejak 15 tahun sebelum pecahnya Perang Dunia II. Karya-karya dramatisnya - terutama yang bertemakan wilayah pegunungan Alpen yang indah - telah banyak dipakai dalam berbagai penerbitan dan publikasi, terutama di sekitar kampung halamannya. Setelah Perang Dunia II pecah, Baumann mendaftar sebagai koresponden perang SS pada tahun 1941, dan segera ditempatkan bersama dengan Divisi Totenkopf dalam gerak majunya di wilayah Rusia. Nama besarnya sebagai fotografer profesional sebelum perang membuat karya-karya Baumann selanjutnya didistribusikan secara meluas di seantero Jerman dengan kredit penuh atas namanya. Pada akhir musim gugur tahun 1941, Baumann ditugaskan di Obersalzberg di dekat Berchtesgaden untuk mendokumentasikan berbagai bangunan penting disana, seperti bangunan Berghof tempat peristirahatan Hitler serta barak SS, termasuk pula kegiatan sehari-hari para anggota kompi penjaga SS. Disinilah Baumann berkesempatan untuk berkenalan dengan kekasih Hitler, Eva Braun, dan segera menjadi orang kepercayaannya. Atas permintaan dari Eva, Baumann menjadi fotografer pribadinya dalam mendokumentasikan berbagai kegiatan sehari-hari Eva serta saudarinya Gretl. Tak dinyana, kegiatan ini membuat marah Martin Bormann, sekretaris Hitler, yang ingin menggambarkan sang pemimpin Jerman sebagai seorang "bujangan suci" yang hanya mendedikasikan cintanya untuk tanah air Jerman. Secara tiba-tiba Baumann mendapati dirinya dipindahkan kembali ke Front Timur pada tanggal 1 Oktober 1942, dan kini ditugaskan bersama dengan Divisi SS Wiking. Tak hanya itu, betapa kagetnya ketika dia menyadari bahwa kini dia tidak lagi menjadi seorang fotografer melainkan prajurit infanteri biasa di front paling terdepan pertempuran, sebuah penempatan yang menurutnya tak akan membuatnya kembali hidup-hidup ke Jerman! Meskipun begitu, Baumann tetap melanjutkan "hobinya" menjepretkan kamera Leica III yang mengabadikan suasana peperangan di sekitarnya. Lama-kelamaan komandan batalyonnya menyadari potensi Baumann, dan sang fotografer kembali ditempatkan sebagai staff administrasi di garis belakang. Meskipun begitu, beberapa minggu di front telah cukup membuat Baumann diganjar dengan Infanterie-Sturmabzeichen, sebuah medali infanteri yang dengan bangga dipakainya di sepanjang sisa Perang Dunia II. Baumann bertugas di Divisi Wiking dari bulan Oktober 1942 s/d akhir musim panas tahun 1944. Hasil karyanya yang diambil di medan pertempuran Kovel di bulan Maret/April 1944 membuatnya mendapatkan medali Eisernes Kreuz II.Klasse, karena resiko besar yang telah ditempuhnya saat runtang-runtung di wilayah yang dikepung oleh pasukan Soviet tersebut. Pada bulan Agustus 1944 Baumann dipindahkan kembali ke SS-Gebirgsjäger Schule di wilayah Alpine Tirol, dimana dia mengabadikan susana pelatihan prajurit SS sampai dengan akhir Perang Dunia II. Baumann menghabiskan waktu berbulan-bulan sebagai tawanan Sekutu, sebelum akhirnya dibebaskan pada bulan November 1946. Seperti sudah bisa diduga, dia kembali pada pekerjaan lama yang sangat dicintainya sebagai seorang fotografer profesional, pekerjaan yang digelutinya selama berpuluh-puluh tahun kemudian sampai akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya pada tahun 1985


Sumber :
https://www.facebook.com/2ssPanzerPionierBtl5Wiking/posts/ernst-baumann-14-may-1906-12-january-1985-was-an-accomplished-professional-photo/496902023827283/
https://www.kriegsberichter-archive.com/index.php?/category/4

Sunday, November 17, 2019

Rommel Memberi Ucapan Selamat Kepada Jenderalnya yang Berulangtahun

 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee Afrika) memberi ucapan selamat kepada General der Panzertruppe Ludwig Crüwell (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) yang berulangtahun ke-50 di hari itu, 20 Maret 1942. Rommel sendiri baru saja pulang dari cuti sakit di tanah air Jerman (9-19 Maret 1942), dan selama masa absennya, Crüwell menggantikan perannya sebagai panglima seluruh pasukan Jerman di Afrika Utara. Beberapa minggu setelah foto ini diambil, pesawat yang membawa Crüwell mendarat di wilayah yang dikuasai oleh pihak Inggris sehingga sang jenderalpun ditangkap (ternyata sang pilot sebelumnya telah salah mengira bahwa dia mendarat di markas pasukan Italia sekutu Jerman!). BTW, persis di belakang Rommel adalah Generalleutnant Walther Nehring, yang menjadi Komandan Afrikakorps saat komandan aslinya, Crüwell, menggantikan posisi Rommel di bulan Maret itu. Nehring sendiri adalah salah satu aktor penting dalam pembentukan Panzerwaffe alias pasukan lapis baja Jerman. Mantan Kepala Staff Heinz Guderian ini tidak pernah gagal dalam menunjukkan kemampuannya di medan tempur, dan secara umum dia dianggap sebagai salah satu jenderal Jerman terbaik dalam Perang Dunia II!




Sumber :
Buku "The Panzer Legions" karya Samuel W. Mitcham, Jr.
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=35452&hilit=teege

Deretan Panzer 38(t) milik 7. Panzer-Division di Prancis tahun 1940

Panzer 38(t) Ausf.B adalah tank yang aslinya buatan Cekoslowakia yang mendapat beberapa modifikasi untuk memudahkannya "melebur" dalam Wehrmacht, termasuk tambahan radio dan perlengkapan produksi Jerman. Foto ini memperlihatkan deretan Panzer 38(t) milik I.Abteilung / Panzer-Regiment 25 / 7.Panzer-Division di sebuah wilayah di Prancis, bulan Juni 1940. Pada saat Jerman memulai serangan besar-besaran terhadap Negara-Negara Bawah dan Prancis di bulan Mei 1940, lebih dari 200 buah Panzer 38(t) telah dikirimkan ke unit-unit Panzer Wehrmacht, dan tank-tank produksi Cekoslowakia menyumbang sekitar 13% dari seluruh kekuatan tank Jerman. Meskipun hanya sedikit saja dibandingkan dengan jumlahnya secara keseluruhan, tapi Panzer 38(t) menyumbang setengah dari kekuatan tank-tank Jerman yang dipersenjatai oleh meriam kaliber 37mm. Di awal tahun 1940 sendiri dua buah divisi kavaleri mekanis Wehrmacht telah diupgrade menjadi divisi-divisi panzer, dengan Panzer 38(t) didapuk sebagai tank utama mereka: 2. leichte Division menjadi 7. Panzer-Division, sementara 3. leichte Division menjadi 8. Panzer-Division.



Sumber :
Buku "Panzer 38(t) vs BT-7: Barbarossa 1941" karya Steven J. Zaloga

Awak Panzer 38(t) dari 7. Panzer-Division

Sebuah foto terkenal masa Perang Dunia II hasil jepretan Kriegsberichter Erich Borchert, yang memperlihatkan seorang awak Panzer 38(t) dari 7. Panzer-Division pimpinan Generalmajor Erwin Rommel, yang diambil pada tanggal 4 Juli 1940 di Prancis. Baret panzer berlapis - yang mempunyai nama resmi Schutzmütze - secara resmi ditinggalkan penggunaannya pada tanggal 15 Januari 1941 untuk kemudian digantikan oleh feldmütze (topi lapangan), meskipun sedikit pengecualian telah diberikan kepada para awak PzKpfw 38(t) karena interior tanknya yang sempit. Pada prakteknya, sebagian besar awak PzKpfw 38(t) telah beralih untuk memakai topi lapangan pada saat dimulainya Unternehmen Barbarossa (penyerbuan Jerman atas Uni Soviet) pada musim panas tahun 1941.


Sumber :
Buku "Panzer 38(t) vs BT-7: Barbarossa 1941" karya Steven J. Zaloga

Saturday, November 16, 2019

Upacara Pernikahan Pelayan dan Sekretaris Hitler

  Hari pernikahan antara SS-Obersturmführer Hans Hermann Junge dengan Gertraud "Traudl" Humps di Berlin, musim panas tahun 1943. Kedua orang ini sehari-hari bertugas sebagai anggota staff pribadi pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler: Junge adalah pelayannya, sementara Traudl adalah sekretarisnya. Mengiringi mereka di sebelah kiri adalah SS-Obersturmführer Otto Günsche (ajudan SS Hitler) sementara di kanan adalah SS-Sturmbannführer Erich Kempka (supir Hitler). Atas saran langsung dari sang Führer, Junge dan Humps menikah tanggal 19 Juni 1943, dan pada tanggal 14 Juli 1943 sang suami sudah bergabung dengan unit Waffen-SS di medan perang. Tentang kepergian suaminya ke front, istrinya Traudl mengenang: "Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang menyadari bahwa lama kelamaan pemikiran Hitler akan begitu berpengaruh pada orang-orang terdekatnya, hingga mereka sendiri pun bahkan tidak tahu apa yang menjadi pemikiran mereka, atau akan datangnya pengaruh lain dari luar. Junge menginginkan agar naluri obyektifitasnya tetap kembali pada tempatnya, sehingga berkali-kali dia mengajukan diri untuk ditugaskan ke front... yang merupakan satu-satunya cara agar dia bisa keluar dari pekerjaannya dengan Hitler..." Setahun kemudian Hans Hermann Junge gugur dalam serangan pesawat udara Sekutu di Dreux, Prancis. Hitler begitu menyukai mantan bawahannya ini - dan sangat bersedih atas kehilangannya - sehingga dia sendiri yang secara pribadi mengabarkan berita tersebut ke Traudl. Berpuluh-puluh tahun kemudian, pengalaman hidup sang sekretaris pemimpin Nazi difilmkan dengan judul "Der Untergang" (Downfall). Sudah nonton filmnya di layar tancap?


Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/08/tabel-produksi-mobil-mercedes-benz-1930.html

Tuesday, November 12, 2019

Bintara Gebirgsjäger SS dari Unit Panzerjäger

 Bintara Gebirgsjäger Waffen-SS berpangkat SS-Oberscharführer ini mengenakan seragam lapangan model Heer M36 tapi dengan bahan berkualitas baik seperti yang biasa dikenakan oleh perwira. Schulterklappen (tanda pangkat bahu) yang dikenakannya memajang huruf "P" model gothik, yang menunjukkan keanggotaannya di unit Panzerjäger atau Pemburu Tank. Yang paling tidak biasa dari semua yang dikenakannya adalah topi dari jenis feldmütze M43 yang bertengger di kepalanya, yang menggunakan gesper sebagai pengikat dan bukannya kancing seperti umumnya. Perhatikan pula emblem edelweiss di bagian samping topinya, yang berbahan metal seperti yang biasa dikenakan oleh pasukan gunung Heer (sementara unit Waffen-SS sendiri lebih memilih untuk menggunakan edelweiss bordiran). Di seragamnya telah terpajang medali Infanterie-Sturmabzeichen in Silber, yang ditempatkan di atas DRL Sportabzeichen serta Verwundetenabzeichen in Schwarz. Untuk identifikasi pita-pita yang berjajar di Ordensschnalle (baris medali) di atas saku kirinya adalah, dari kiri ke kanan: Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), Wehrmacht-Dienstauszeichnung, Deutsches Schutzwall-Ehrenzeichen, serta Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938



Sumber :
Foto koleksi pribadi Gordon Williamson
https://www.thirdreichmedals.com/article/WSS.html

Saturday, November 9, 2019

Tiga Orang Perwira Flak Luftwaffe

Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Otto-Wilhelm von Renz (Kommandeur 9. Flak-Division), Oberstleutnant Ernst Herrmann (Kommandeur Flak-Regiment 30), dan Major Heinrich Werth (Erganzungsoffizier in leichte Flak-Abteilung 93). Foto kemungkinan besar diambil di Prancis pada musim semi atau panas tahun 1941, sebelum dimulainya Unternehmen Barbarossa alias penyerbuan Jerman atas Uni Soviet


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=14230&start=10785

Sunday, November 3, 2019

Tertangkapnya Oberst Eberlein oleh Partisan Yugoslavia

Di awal pagi tanggal 25 Februari 1945, di jalur kereta api Busovača–Lašva di dekat desa Strane, Batalyon ke-4 Partisan Yugoslavia dari Brigade Krajina VI / Divisi Krajina IV - yang telah mendapat tambahan kekuatan - menunggu kedatangan kereta api lapis baja Jerman yang dijadwalkan akan melewati tempat tersebut beberapa saat lagi. Para gerilyawan komunis Yugoslavia tersebut tak mengetahui bahwa kereta api incarannya ternyata membawa pula seluruh perwira staff Kampfgruppe Eberlein (Sicherungs-Regiment 639), sebuah unit khusus Wehrmacht yang telah menjadi musuh utama mereka selama beberapa bulan ke belakang. Batalyon ke-4 melakukan serangan terhadap kereta terlebih dahulu, sementara peleton zeni sibuk menanam bahan peledak di bawah rel di kejauhan. Selama beberapa saat pihak Jerman membalas tembakan musuhnya dengan sengit, sehingga membungkam senjata-senjata Partisan, sebelum meneruskan perjalanan mereka. Tak lama kemudian sebuah ledakan besar terdengar, yang menghentikan gerak maju kereta. Kini dari segala arah datang tembakan gencar yang berasal dari grup Partisan lainnya. Pasukan Jerman menjadi panik, dan berlarian keluar kereta ke segala arah. Sebagian besar dari mereka menjadi korban tembakan, sementara sisanya menyerahkan diri dengan melambaikan kain berwarna putih dari dalam kereta. Pihak Partisan terkejut dan gembira ketika mengetahui bahwa diantara tawanan tersebut terdapat pula Oberst der Reserve z. V. Prof. Dr.phil. August Ritter von Eberlein, perwira tua yang menjadi komandan Kampfgruppe Eberlein sekaligus Sicherungs-Regiment 639. Komandan Brigade Partisan, yang ikut hadir pada saat itu, mengenang, "Kami memandang dia dengan perasaan tidak percaya. Pada akhirnya kami berhasil mencapai apa yang kami idam-idamkan sejak lama: penangkapan seorang komandan Jerman." Tidak seperti pasukan Wehrmacht yang sebagian besar terbunuh, pihak penyerang Partisan hanya kehilangan satu orang tentaranya dalam peristiwa ini!





Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.de.metapedia.org
www.wehrmacht-awards.com

Saturday, November 2, 2019

Friedrich-August Schack dan Para Perwiranya

Rombongan para perwira Wehrmacht sedang berjalan-jalan sambil ngabuburit menunggu buka puasa. Yang sedang ngoceh kedua dari kiri adalah Oberst Friedrich-August Schack (Kommandeur Kriegsschule Potsdam), yang meraih medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada awal berlangsungnya Unternehmen Barbarossa (penyerbuan Jerman atas Uni Soviet), tepatnya pada tanggal 24 Juli 1941, sebagai Kommandeur Infanterie-Regiment 392 / 169.Infanterie-Division. Schack (27 Maret 1892 - 24 Juli 1968) menjadi Komandan Sekolah Perang Potsdam dari tanggal 1 Oktober 1942 s/d 29 Maret 1943, sebelum diberi kepercayaan sebagai Komandan 216. Infanterie-Division (7 Mei 1943 - 3 Oktober 1943), 272. Infanterie-Division (15 Desember 1943 - Agustus 1944), LXXXI. Armeekorps (4 September 1944 - 21 September 1944), LXXXV. Armeekorps (15 November 1944 - 16 Desember 1944), serta XXXII. Armeekorps (26 Maret 1945 - 7 Mei 1945). Dia meraih Eichenlaub #597 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 21 September 1944 saat masih menjadi Generalleutnant dan Komandan 272. Infanterie-Division, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam menahan pasukan Sekutu di Pertempuran Caen, Prancis. Divisi yang dipimpin oleh Schack menderita korban berat dalam pertempuran ini, sementara sang Divisionskommandeur sendiri mengalami kelelahan batin akibat non-stop bertempur. Dia sempat mendapat cuti selama beberapa waktu sebelum dipercaya kembali sebagai pemimpin pasukan di front terdepan sampai dengan akhir perang.


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewforum.php?f=5

Thursday, October 31, 2019

Senjata Dek U-Boat

Foto berwarna asli zaman Perang Dunia II ini memperlihatkan pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat (kapal selam Jerman), yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine (Angkatan Laut Nazi Jerman) dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, maka mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat mau tidak mau harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum senjata dek tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar. Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Sayangnya, rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi...


Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Tuesday, October 22, 2019

Rongsokan Tank Jerman yang Terbakar

 Salah satu dari tank milik Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division yang menjadi korban dalam pertempuran di sekitar Jalan Wolska, Distrik Wola, Warsawa (Polandia), pada tanggal 9 September 1939. Tank ringan dari jenis Panzerkampfwagen II ini terbakar hebat setelah jalan yang dilewatinya - yang dihalangi oleh puluhan drum berisi terpentin di sekelilingnya - kemudian disulut api oleh pasukan Polandia yang bertahan, yang dipimpin oleh Letnan Zdzisław Pacak-Kuźmirski (Komandan Kompi ke-8 / Resimen Infanteri ke-40). Hanya beberapa saat sebelumnya, anakbuah Letnan Pacak-Kuźmirski menemukan 100 drum terpentin di pabrik "Dobrolin" yang berdekatan. Dia lalu memerintahkan agar drum-drum berisi bahan yang mudah terbakar ini di dijejerkan di depan barikade yang dipasang oleh unitnya. Kebakaran yang kemudian terjadi begitu hebatnya, sehingga Gefechtsgruppe 2 - yang merupakan pasukan penyerang terdepan Jerman - bisa dikatakan musnah dalam peristiwa "pembantaian" yang berlangsung selama satu jam tersebut! Foto diambil oleh Hugo Jaeger, yang mengabadikannya beberapa minggu kemudian setelah pasukan penyerbu Jerman menduduki Warsawa


Sumber :
https://time.com/3486074/world-war-ii-erupts-color-photos-from-the-invasion-of-poland-1939/

Upacara Penganugerahan Ritterkreuz untuk Pilot JG 52

 Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dua orang pilot berprestasi Luftwaffe dari 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 52 (JG 52), yang diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 1942 di Belyj-Kolodes (Ukraina), yang terletak di dekat Kharkov. Kedua pilot tersebut berdiri menghadap kamera di sebelah kanan, dan mendengarkan dengan serius saat General der Flieger Curt Pflugbeil (Kommandierender General IV. Fliegerkorps) sedang berpidato. Mereka adalah, dari kiri ke kanan: Feldwebel Alfred Grislawski dan Feldwebel Karl Steffen. Grislawski mendapatkan Ritterkreuz setelah mencatatkan 43 kemenangan udara terkonfirmasi, sementara Steffen setelah 44 kemenangan. Berdiri membelakangi kamera sambil membawa tas di belakang Pflugbeil adalah Oberleutnant der Reserve Hermann Graf (Staffelkapitän 9./JG 52), yang juga merupakan jagoan udara terkemuka Luftwaffe. Kepemimpinan Graf sebagai seorang Staffelkapitän begitu menonjol, sehingga beberapa orang anakbuahnya kemudian mengikuti jejaknya sebagai jagoan udara dan Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz). Selain dari Grislawski (total 133 kemenangan) dan Steffen (59 kemenangan), juga terdapat Ernst Süss (68 kemenangan), Leopold Steinbatz (99 kemenangan), dan Heinrich Füllgrabe (67 kemenangan). BTW, di latar belakang terlihat pesawat-pesawat transport dari jenis Junkers Ju 52 "Tante Ju" dan Fieseler Fi 156 "Storch"


Sumber :
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=29879&start=17085

Sunday, October 20, 2019

Der Spieß dari Divisi Panzer Hermann Göring Luftwaffe

 Foto ini memperlihatkan seorang bintara dari Fallschirm-Panzer-Division "Hermann Göring" - divisi panzer satu-satunya milik Luftwaffe - yang mengenakan "Sonderbekleidung Der Deutschen Panzertruppen" (Seragam Hitam Pasukan Lapis Baja Jerman) dengan lambang elang Luftwaffe. Dari tresse (cincin piston) di kedua lengannya, kita bisa mengetahui bahwa dia adalah "Der Spieß" (Ibu Kompi), yaitu Hauptfeldwebel yang bertugas mengurusi masalah administrasi sebuah kompi dan juga tetek-bengek keperluan prajurit anggotanya. Di seragamnya dia mengenakan Flakkampfabzeichen (Medali Artileri Anti Pesawat Udara) serta Erdkampfabzeichen der Luftwaffe (Medali Serang Darat Luftwaffe)


Sumber :
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=1020475

Sunday, September 1, 2019

Personil Luftwaffe Memeriksa Pesawat Inggris yang Ditembak Jatuh


Pada tanggal 9 April 1941 pukul 12:00, pesawat pemburu Spitfire IIA P7784 - yang diterbangkan oleh P/O (Pilot Officer) John Hampton Rowden dari No. 64 Squadron RAF (Royal Air Force) - ditembak jatuh oleh Messerschmitt Bf 109 Luftwaffe di atas Aerodrome Mardyck, Dunkirk, Prancis. Pilot Jerman yang menembaknya adalah Hauptmann Josef "Joschko" Fözö (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 51). Rowden sebelumnya mengudara pukul 10:30 dari pangkalan udara RAF di Inggris, dan terakhir terlihat saat dia seorang diri memutuskan untuk "menguji" pertahanan Jerman di Aerodrome Mardyck. Rowden sempat mengklaim sebuah pesawat Luftwaffe yang ditembakjatuhnya, sebelum teman-temannya kehilangan kontak. Foto ini memperlihatkan saat para personil JG 51 tiba di lokasi jatuhnya pesawat Spitfire di hari yang sama - sekitar 3 kilometer di sebelah utara Mardyck - hanya untuk mendapati bahwa sang pilot Inggris telah meregang nyawa (Hauptmann Fözö terlihat paling kanan). Rowden sendiri kemudian dikuburkan secara militer di Pemakaman Kota Dunkirk, dan batu nisannya masih bisa kita lihat sampai sekarang.





Sumber :
http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/08/album-foto-killed-in-action-sekutu.html
http://www.bbm.org.uk/airmen/Rowden.htm
http://www.wehrmacht-awards.com/forums/showthread.php?t=1014741